SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 I'm Sorry :')

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
RismaaNA
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 12
Points : 22
Reputation : 0
Join date : 04.10.13
Age : 18
Lokasi : Klaten

PostSubyek: I'm Sorry :')   Sat 5 Oct 2013 - 11:38

Cinta itu sebenarnya indah
Namun, jika ditorehkan sebuah pengorbanan menjadi sangat indah
Walaupun rasa sakit melebihi rasa bahagia
Tapi, percayalah! Semua cinta memiliki akhir yang bahagia


***

Aku berjalan seorang diri dihalaman kampus. Dengan tas ransel dan beberapa buku yang kubawa,Aku terus menyapa setiap sudut kampus dan berharap dapat menemukan seseorang.Langkahku terhenti ketika mendapati seorang lelaki sedang berjalan kearahku.Aku mengangkat kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman saat kulihat Ia sedang menatapku. Tak berapa lama kemudian, Ia justru mengalihkan pandangannya sambil berbicara dengan lelaki disampingnya. Aku menunduk! Yah, memang hanyaitu yang bisa Aku lakukan saat ini! BRUKK Aku terjatuh dengan buku yang berserakan kemana-mana. Aku mendongak dan menatap seorang lelaki yang menabrakku, hanya berdiri tanpa melihatku. Dia! Dia adalah lelaki yang kulihat tadi. Aku mengenalinya. Tidak! Lebih tepatnya, sangat mengenalinya. Tapi, Aku sulit memahami sifatnya yang seperti ini.

“Maaf.” Satu kata dan begitu singkat itu keluar dari lelaki itu. Belum sampai Aku menjawabnya, lelaki itu sudah terlebih dahulu melangkah meninggalkanku yang masih berjongkok sambil membereskan buku-buku yang berserakan. Aku segera berdiri dan melihatnya yang kini sudah berada diantara beberapa wanita centil yang menggodanya. Aku terus menatapnya sambil mengerucutkan bibirku. Sekilas,Aku juga melihat Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan! Lelaki tampan dan kaya yang merupakan lelaki terpopuler dikalangan wanita-wanita di kampus ini. Bahkan, Ia adalah pewaris tunggal perusahaan ANRCorporation (ngawur poll :-D) yang mempunyai kepribadian baik dan juga pintar.Tidak hanya itu, Ia adalah salah satu penyanyi yang sedang naik daun baru-baruini, suaranya pun sukses membuat para wanita yang mendengarnya terkagumkan oleh suaranya itu. Lelaki itu sebenarnya resmi menjadi kekasihku. Tapi Aku tetap tak mengerti, Ia tak mengakuiku sebagai kekasihnya dikampus ini. Bahkan, Ia tak jarang memperlakukanku seperti tadi.Walau bagaimanapun juga Aku tetap mencintainya. Sifatnya dirumah dengan dikampus sangat berbeda. Dirumah, Ia tak kalah romantis dari laki-laki lain.Tapi, dikampus? Ia selalu seperti ini. Ia memang pernah berkata padaku untuk tidak mendekatinya jika sedang berada dikampus. Dan, Aku memang menyetujuinya meski Aku tak tau apa alasan dari perkataannya.

Aku melangkahkan kakiku kembali. Belum sampai 3 langkah, seorang wanita datang menghampiriku. “Ada apa Bel?” Tanyaku pada wanita yang berstatus sebagai sahabatku itu.

“Itu.. Iqbaal sudah datang. Ayo kesana, Aku ingin melihatnya.” Jawab Bella yang hanya mendapat gelengan pelan dariku.

“Kenapa? Apa Kau tak ingin menyapanya?Kau sangat bodoh jika melewatkan kesempatan ini.”

Ya, bahkan Bella yang merupakan sahabatku sendiri tak mengetahui hubunganku dengan lelaki yang bernama Iqbaal itu.

“Aku akan sangat bodoh jika mengikutimu untuk menyapanya. Apa Kau tak punya pekerjaan lain?” Dan Aku juga harus berpura-pura pada sahabatku ini. meski sangat sakit untuk mengatakannya.

“Pekerjaan pertama yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah menyapanya. Yasudah, Aku pergi dulu . Keburu Iqbaal pergi. Bye.” Ucapnya lalu meninggalkanku. Akusempat ingin menahannya, tapi sayang Ia sudah terlebih dahulu berlalu dari hadapanku.

***

Hari sudah begitu gelap. Aku terus saja memutar-mutar handphone ku dan berharap ada sebuah pesan darinya. Memang mataku sudah terlalu berat untuk dipaksakan terus terjagadari tidur. Tapi mau bagaimana lagi? Sejak tadi siang Iqbaal belum juga menghubungiku.

Perlahan-lahan mataku mulai meredup dan hampir tertidur. Tetapi, suara handphone yangtiba-tiba berbunyi memaksaku untuk segera terbangun dari tidurku yang belum sampai 1 menit itu.

‘Apa Kau sudah tidur noona (nama kamu)? Aku sangat merindukanmu.
I love you.’



Aku tersenyum membaca pesannya. Walaupun hanya satu pesan, setidaknya itu dapat membuatku lega. Baru saja, Aku ingin membalas pesannya. Tapi, sebuah panggilan masuk membuatku mengurungkan niatku.

“Hall..”

“Cepat turunlah! Aku sudah ada didepan rumahmu.”

Apa-apa’an dia? Belum sempat Aku menjawabnya, Ia sudah terlebih dahulu mematikan telephon’nya. Bahkan, tadi Aku belum sempat mengucapkan kalimat ‘hallo’ Ia sudah memotongnya terlebih dahulu. Apa dia kurang waras? Hh, entahlah. Aku berdiri dan segera berjalan kearah jendela. Kubuka tirai jendela dan benar!Ternyata Ia memang sedang berada disini. Aku segera berlari menuruni tangga,dan kini Aku tiba didepan pintu. Aku segera membukanya dan mendapati Iqbaal yang sedang berdiri didepan pintu sambil menyatukan kedua tangannya. Sepertinya Ia kedinginan diluar. Aku mengulum senyum melihatnya.

“Kenapa Kaubegitu lama didalam sana? Aku sedari tadi menunggumu diluar sini. Lihatlah! Aku sangat kedinginan.” Omelnya dan masuk begitu saja kedalam rumahku. Untung saja tak ada orang tuaku dirumah. Jadi, Aku tak perlu khawatir untuk membawanya kedalam.

“Apa Kau mau coklat hangat? Aku akan segera membuatkannya.” Tawarku dan hanya mendapat anggukan darinya.

Setelah membuatkan coklat hangat untuknya, Aku segera membawakannya ke meja tempatnya duduk dan segera meletakkannya disana. Aku tak langsung duduk didekatnya, danjustru kembali kedalam kamar dan segera membawakan jacket untuknya. “Ini pakai. Sepertinya Kau sangat kedinginan.” Ia segera megambilnya dari tanganku dan segera memakainya.

Aku duduk disamping Iqbaal dan hanya terus mengamatinya tanpa berbicara sedikitpun.

“ApaAku setampan itu, hingga Kau tak berkedip ketika menatapku.” Seketika lamunanku buyar mendengar kalimat yang dilontarkan Iqbaal.

“Ccchh..Sayangnya ketampananmu hanya untuk Kau pamerkan pada wanita-wanita kampus itu.” Ia hanya terkekeh mendengar ucapanku.

“Apa Kau cemburu nona (Nama Kamu)?” Ledeknya.

“Apa Kaupikir Aku tak cemburu selama ini? kau bahkan tak mengakuiku sebagai kekasihmu dikampus. Apa Kau tak menyukaiku? Apa ini hanya sekedar status untukku dan untukmu saja?” Mungkin ini adalah kalimat yang sering Aku ucapkan padanya.Jujur saja, Aku semakin tak tahan dengan sikapnya.

“Aku mohon.Kau menurut saja dengan perintahku.” Selalu itu! Selalu perkataan itu yang Ia lontarkan setiap Aku menyatakan kata-kata tadi.

“Apa Kau takmempunyai perkataan lain, selain ‘menurut dengan perintahmu’, huh?” Ucapku kesal kemudian mengalihkan pandanganku darinya.

“(Nama Kamu)! Kau tak mengerti ini semua! kau akan berada dalam keadaan berbahaya, jika Aku mengakuimu sebagai kekasihku.”

“Bahaya? Memang apanya yang berbahaya? Kau terlalu banyak alasan, Iqbaal.Aku sudah terlalu bosan dengan alasanmu itu.” Ucapku dengan nada keras danmenatapnya tajam.

“Aku akan tetap mempertahankan status pribadi kita. Dan kita akan selamanya seperti ini.” Ucapnya dan langsung pergi begitu saja. Aku hanya menghela nafas kesal dan menyandarkan kepalaku di sofa. Aku benar-benar tak mengerti jalan fikirannya!

***

Malam kembali menyambut. Aku hanya terduduk lesu dimeja belajar sambil terusmengamati handphone yang berada dihadapanku. Kenapa hari ini Aku sama sekali tak menemukannya? Apa perkataanku kemarin salah? Tapi, Ia sudah terbiasa dengankalimat-kalimat itu. Ddrrt Drrt~

‘Aku sudah berada didepan rumahmu. Cepatlah keluar!’

Aku mengernyitkan dahiku, antara bingung dan senang. Meski hari ini tak menemukannya, tapi Ia justru yang menemuiku. Segera kulangkahkan kakiku menuruni anak tangga dan takkan membiarkannya kedinginan seperti kemarin malam. Kubuka pintu dengan cepat dan Ia sudah berdiri tepat didepan pintu.

“Apa Kau belum mengantuk nona?” Ternyata Ia benar tak marah padaku. bahkan pertanyaan itu Ia lontarkan dengan begitu manisnya. Aku tersenyum senang dan segera memeluknya. “Apa Kau begitu merindukanku?” Tanyanya kembali. Aku hanya mengangguk dan segera melepaskan pelukannya.

“Ku kira, Kau marah padaku.” Ia hanya tersenyum tipis kemudian memegang kedua pergelangantanganku.

“Sorry, (Nama Kamu). Mungkin, Aku yang selama ini salah. Besok, Aku akan menjemputmu untuk berangkat bersama kekampus.” Aku membulatkan mataku ketika mendengar ucapan yang dilontarkannya. Benarkah? Apa Aku sedang tak bermimpi?

“Kau bersedia kan?”Tanyanya lagi.

“Tentu.” Sahutku dan tersenyum senang. Tapi kenapa ada yang berbeda? Kenapa raut muka Nicky seperti tidak senang. Bahkan, terkesan khawatir. Entahlah, tapi Aku sangat menyukai keputusannya ini.

***

Hari yang begitu cerah. Secerah hatiku saat ini. walaupun suasana yang canggung terjadididalam mobil yang dikemudikan Iqbaal, tapi Aku hanya tersenyum dan sesekali menatapnya. Ia benar-benar lelaki yang begitu baik!

Kini Kami telah tiba dikampus. Kulihat Iqbaal mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Kenapa Ia seperti sedang nearvous? Iqbaal segera turun dan membukakan pintu mobil dan menggandengku keluar. Kami kemudian berjalan beriringan dihalaman kampus. Dan inilah yang terjadi! Semua mata terfokuskan pada Kami berdua. Tapi tak seperti tatapan kagum yang biasanya mereka perlihatkan pada Iqbaal. Kurasa, tatapan mereka begitu tajam padaku. langkahku sempat terhenti ketika melihat Bella dari kejuhan menatapku, Aku tersenyum padanya tapi Ia justru berjalan menjauh. Sebenarnya Aku berniat ingin menyusulnya, tapi Iqbaal terlebih dahulu menarikku untuk berjalan menuju taman.Dan masih sama! Tatapan mereka. Kenapa seperti ini? Apa mereka sedang cemburu padaku? entahlah, Aku tak mengerti.

“Apa Kauakan baik-baik saja jika Kau duduk disini sendiri? aku mau pergi membelikan minuman untukmu.” Tanya Iqbaal yang terkesan mengganjal ditelingaku.

“Tentu saja baik.” Jawabku sambil tersenyum. Iqbaal segera berlalu dari hadapanku dan Aku hanya duduk seorang diri ditaman ini. Aku mengedarkan pandanganku ditaman yang sepi ini. Aku melihat segerombol wanita yang berjalan bersama. Sepertinya mereka berjalan menuju tempatku. Dan tatapannyamasih saja sama. Tatapan tajam mereka!

“Wanitamurahan! Berani sekali Kau jalan bergandengan dengan Iqbaal. Apa Kau tak menyadari dirimu sendiri? bahkan Kau lebih rendah daripada wanita murahan!”Ucap salah satu dari mereka.

“Apa Kau bilang? Wanita murahan? Seharusnya kalian yang menyadari, Kalian adalah wanitacentil yang berani-beraninya menggoda kekasihku dengan sangat murahan!” Ujarkusambil menekankan kalimat terakhir. Bagaimana mungkin, Aku akan diam sajamendengar mereka berkata seperti itu padaku?

“Ciihh..Kekasihmu? Lihatlah dirimu, pendek, kecil, jelek. bahkan, Kau tak ada bandingannya denganku. Lalu, dengan begitu pede nya, Kau berkata Iqbaal adalahkekasihmu? Apa Aku tak salah dengar? Kau bahkan..”

“Stop!”

Suara lantang itu sukses membuat wanita itu terbungkam. Dia adalah Iqbaal.Untung saja, Ia datang lebih cepat sebelum wanita-wanita itu melontarkan kata-kata tajamnya padaku.

“Pergi dari sini dan jangan mengganggunya!” Dengansatu kalimat itu, wanita-wanita tadi segera pergi dari hadapanku dan masihmelirik tajam kearahku.

“Apa Kau baik-baik saja?” Tanya Iqbaal sambil memegang pundakku. Aku hanya mengangguk pelan sambil menunduk.

“Ini,minumlah!” Ia memebrikan sebotol minuman padaku dan segera kuambil. Iqbaal kemudian duduk disampingku dan juga meneguk botol minumannya.

“Sepulang kuliah,Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat.” Imbuhnya.

“Suatu tempat? Dimana?” Tanyaku dan hanya Ia balas dengan senyumannya.

***

Aku hanya menatap bingung ruangan gelap yang ada dihadapanku ini. kenapa Iqbaal mengajakku ketempat seperti ini?

“Tenang saja, Aku akan menghidupkan lampunya.” Ucapnya kemudian berjalan kearah tembok.

Setelah lampu dihidupkan, kini Aku dapat melihat dengan jelas ruangan ini. Ini adalah ruangan bawah tanah yang sempit dan hanya terdapat beberapa kursi plastik serta sekotak peti berlapis perak. Aku mendekatinya dan membuka kotak itu. Kosong!Tak ada satupun barang yang mengisi kotak seindah ini. aku sedikit membersihkandebu yang menempel dipermukaannya. Dan kotak itu semakin terlihat indah. Akukembali menoleh kesetiap sudut ruangan ini dan kini Aku melihat keyboarddipojok ruangan. Aku menoleh kearah Iqbaal yang sedari tadi diam sambil dudukdikursi dan tersenyum kearahku. Aku segera mengangkat keyboard itu kedekattembok, dan menekan tombol ON pada tulisan paling atas keyboard. Segera kumainkan jari-jariku diatasnya. Sehingga menimbulkan sebuah nada dengan iramayang indah.

Kulihat Iqbaal berjalan mendekatiku dan mengeluarkan secarik kertas dari tas ranselnya.

“Kau harus memainkannya. Ini, Aku sendiri yang membuatnya.” Kulihat tulisan not piano yang tergambar rapi dikertas itu. Segera ku mainkan nada-nada itu danmenjadi sebuah lagu yang sangat indah.

“Bagaiman Kau bisa membuatnya?” Tanyaku ketika lagu itu selesai kubawakan.

“Aku membuatnya ketika Aku sedang memikirkanmu. Bagaimana? Apa Kau menyukai lagunya?” Ia balik bertanya.

“Sangat suka.” Jawabku sambil tersenyum padanya.

“Kau boleh mengambilnya. Ini memang untukmu.” Kata Iqbaal. Ia kemudian kembali mengeluarkan selembar kertas dan spidol. Ia pun mencoretkan sebuah tulisan dikertas itu lalu memberikannya padaku.



‘Aku Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan akan selalu mencintaimu (Nama Lengkapmu) . Dan Apapun yang terjadi, Kau harus berjanji tak kan meninggalkanku!’



Aku hanya tersenyum membacanya. Ia kembali mengeluarkan sebuah benda, kali ini darisakunya. Sebuah kotak berukuran kecil kini dihadapkan padaku. Aku membukanyadan mendapatkan sebuah cincin yang berada dikotak itu. Itu adalah cincin Iqbaal yang beberapa hari lalu hilang. Dan cincin itu memang sepasang dengan cincinyang Ia berikan padaku. “Bagaimana Kau mendapatkannya?” Tanyaku dan lagi-lagiIa hanya tersenyum. Aku berniat ingin mengambilnya, tapi Ia terlebih dahulu menarik tangannya kembali.

“Cincin ini,akan menemani secarik kertas itu dan akan kutaruh didalam kotak ini.” Ucapnya sambil menunjuk kotak berlapis perak tadi. Ia segera mengambil kertascoretannya tadi dan menggulungnya. Kemudian Ia taruh didalam kotak itu bersamacincinnya. Aku benar tak mengerti maksudnya.

***

Kami akhirnya tiba didepan rumahku. Aku segera keluar dari mobil. Sebelum Aku masukkedalam rumah, Iqbaal menahanku dengan memanggil namaku. “Ada apa?” Tanyaku singkatsambil mentap manik matanya yang terlihat gelisah.

“Emm.. Mulai besok, jangan pernah temui Aku lagi.” Aku tercengang mendengar kata-kata yangIa lontarkan baru saja. Bukankah satu hari ini adalah hari yang menyenangkan?Kenapa Ia tiba-tiba berkata seperti itu?

“Memang..Kenapa?” Tanyaku pelan dengan mata yang berkaca-kaca menahan air mata yang mendesak keluar. Iqbaal memegang tanganku, dan tanpa aba-aba Ia langsungmemelukku. Pelukannya sangat kuat, bahkan membuatku sulit untuk bernafas. Dansekarang, air mata yang sedari tadi kupertahankan tiba-tiba terjatuh begitu saja dipipiku.

“Maafkan Aku.” Ucapnya masih dalam pelukannya yang begitu hangat. Kenapa Iaharus berkata maaf? Apa yang diucapkannya barusan benar? Apa Ia ingin Aku untuk menjauhinya? Tes! Satu tetes lagi! Dan kali ini terjatuh dikemeja yang dipakai Iqbaal.

“Kenapa Kau harus meminta maaf? Memang apa salahku? Kenapa Kau memintaku untuk takmenemui mu lagi? Apa seharian ini belum cukup untukmu? Bahkan, setiap hari, Aku harus mengorbankan perasaanku untukmu. Untuk mempertahankan hubungan kita!Tapi, kenapa Kau mengakhiri hubu..” Mataku terbelalak kaget ketika Iqbaal mengunci mulutku dengan bibirnya. Hanya sekilas, dan Ia langsung melepaskannyadan tetap menggandeng erat tanganku.

“Aku tidak mengatakan jika hubungan kita berakhir” Ucapnya dengan nada yang bisadibilang sedikit keras.

“Tapi,kenapa Kau tak memperbolehkanku untuk menemuimu lagi? Kau fikir, Aku bisa hidupbegitu saja tanpa Kamu?” Tanyaku dengan suara yang terdengar gemetar.

“Ini hanyasementara. Dan ini untuk kebaikanmu. Aku tak ingin semua murid kampusmengetahui hubungan kita yang sebenarnya.”

“Jadi, masih itu alasannya?” Sambarku cepat. “Aku benar-benar tak menyangka, jika tadi pagi Kau mau pergi denganku hanya karena terpaksa. Baiklah, mungkin lebih baik kita selamanya tak bertemu. Apa Kau puas?” Aku menekankan kata-kata terakhirku sambil menatap tajam pada Iqbaal yang hanya bisa berdiri sambil menatap kepergianku. Aku benar-benar tak habis pikir dengan yang Ia pikirkan.Bisa-bisanya, Ia lebih memilih wanita-wanita centil yang setiap hari menggodanya daripada Aku, kekasihnya sendiri.

***

Aku terbangun dari tidurku ketika cahaya matahari yang mulai tampak melalui celah-celahjendela. Hari ini memang hanya ada kuliah sore, jadi tak masalah jika Akubangun sedikit siang. Lagipula, dirumah hanya ada Aku seorang diri. Keduaorangtua ku masih berada diluar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya. Yah,memang begitu menyebalkan. Aku mengambil handphone ku dan melihat gambarku dengan Iqbaal disana. Apa kata-kata yang tadi malam diucapkan Iqbaal hanyalahmimpi? Ah, sepertinya tidak! Lihat saja, bahkan mataku begitu lebam saat ini.karena semalaman Aku hanya terus menangisinya. Kurasa, pengorbananku selama ini tidak berarti apa-apa baginya. Aku tahu itu sekarang! Selama ini, Ia takmencintaiku sungguhan. Aku mengacak rambutku frustasi. Aku berniat untukmengambil selimut dan kembali melanjutkan tidurku, tak peduli jika hari semakin siang. Aku cukup bangun sore nanti dan pergi kuliah. Sudah cukup bukan?

PRANG~

Sontak Aku terbangun dan terduduk diranjang. Aku membulatkan mataku ketika melihat sebuah batu dengan dilapisi kertas, sukses menembus kaca yang berada dikamarku. Siapa yang pagi-pagi begini sudah berbuat seperti ini? Aku segeraberdiri dan mengambil batu itu. Kemudian, membuka kertas yang melapisinya. Aku bergidik melihat tulisan dari darah yang tercoret dikertas itu. ‘Jangan pernah Kau mendekatinya lagi! Jikaitu terjadi, Kau tak akan selamat.’ Aku mengulum ludahku, tangankutiba-tiba gemetar, dan keringat dinginpun mulai membasahi sekujur tubuhku. Akutak pernah merasakan setakut ini sebelumnya, tapi kenapa Aku menjadi sangat takut sekarang?

Aku melangkahkan kaki menuruni anak tangga dan berniat mencari orang yang melemparibatu itu. “Aaaaa!” Aku terpekik kaget melihat bangkai ayam yang sangat bau didepan pintu. Segera kubuang bangkai itu dengan kardus yang membungkusnya. Ada apa ini? kenapa semuanya menjadi seperti ini? Apa ini ada hubungannya dengan Iqbaal? Siapa yang dimaksud ‘mendekatinya?’ Aku kembali masuk kedalam rumah danmenuangkan segelas air putih, kemudian kuteguk dalam satu kali tegukan. Kenapaini terjadi tiba-tiba? Kenapa Aku sangat takut dengan ancaman yang sebenarnya tak menakutkan itu? Bahkan, Aku tak tau siapa yang dimaksudkan dalam surat itu.

***

Aku berjalan dihalaman kampus sambil terus mengamati setiap sudut kampus. Tapi, kenapa Akutak juga menemukannya? Kemana Ia? Dimana Iqbaal? Apa Ia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya kemarin? Apa Ia benar-benar ingin menjauhiku? Aku mulaimemasuki ruang kelasku. Tapi, baru didepan pintu saja tiba-tiba ada air yangmengguyur tubuhku dari atas. Semua siswa yang berada didalam kelas tertawadengan begitu senangnya, tak terkecuali Bella. Kenapa Ia tak menolongku? KenapaIa turut tertawa seperti yang dilakukan murid-murid lain?

“Kalianapa-apa’an ini?” Bentakku pada mereka semua. Mereka kembali tertawa dengan kerasnya. Ada apa dengan ini semua? Sebelumnya mereka tak pernah mengerjaikuseperti ini, bahkan peduli pun juga tidak.

“Kau masih tetap tak sadar jika Kau adalah wanita murahan?” Aku tercengang mendengarkalimat itu lagi. Dan Aku yakin, pasti ini semua terjadi karena Aku jalan berpegangan tangan dengan Iqbaal, kemarin. PLUKK tiba-tiba kurasakan sebuah benda yangterasa lengket mendarat dikepalaku. Aku segera memegangnya, dan benar! Itu adalah telur yang berbau busuk. Tak berapa lama kemudian, mereka semua menyerbuku dengan beberapa plastik tepung. Aku sedikit mengamati, ada beberapa murid yang tak menyerbu ku dengan tepung, dan salah satunya adalah Bella. Aku tau, Iamemang benar-benar sahabatku dan Ia tak kan tega melakukan ini padaku.

“Yaakkk! Memang apa salahku? Apa salah, jika Aku bersama Iqbaal? Lagi pula, siapa kalian?Apakah kalian kekasihnya? Tentu saja bukan, Iqbaal adalah kekasihku. Apa Kaliantak menyadarinya? Iqbaal yang menggandengku sampai kedalam kampus? Apa Kaliantak sadar? Kalian adalah wanita penggoda laki-laki yang sudah menjadi milik orang lain.”

“Jaga bicaramu, (Nama Kamu).” Sahut Bella cepat. Kenapa Ia membentakku seperti ini? “Seharusnya Kau yang sadar. Kau adalah wanita munafik, yang selalu saja menjagagengsimu jika Aku mengajakmu untuk menyapa Iqbaal. Dan Kau juga tak pernah berkata jika Ia adalah kekasihmu, sebelumnya. Apa itu tak cukup disebut denganwanita munafik? Bagaimana mungkin, Kau tega membohongi sahabatmu sendiri? dansekarang, Kau berkata jika Ia adalah kekasihmu? Ccchhh kau fikir, Aku tak akandiam karena pengkhianatanmu itu? Kukira Kau adalah sahabat yang baik, tapiternyata Kau perempuan munafik yang tega menusuk sahabatnya sendiri dari belakang.” Aku hanya terdiam dengan air mata yang mulai membasahi pipiku,sedangkan murid lain hanya tersenyum licik mendengar pernyataan Bella barusan.

“Bahkan, sahabatmu sendiri juga membencimu. Apa ini tak cukup? Apa Kau masih berniat mendekati Iqbaal lagi, wanita munafik?” Ucap salah satu dari mereka. ApaAku sejahat itu untuknya? Aku segera berlari keluar ruangan sambil terus mengeluarkan air mata.

***

Sudah satuminggu ini Aku terus mendapat bingkai ayam dan juga cacian dari mereka. Bahkan,Aku tak mempunyai satu teman pun dikampus. Aku juga tak melihat keberadaan Iqbaal selama ini. kenapa Ia justru menghilang dari hadapanku disaat Akumembutuhkannya? Apa Ia akan melaksanakan apa yang kuucapkan malam itu? Aku berniat pergi keruang bawah tanah yang kudatangi bersama Iqbaal saat itu,sepulang kuliah nanti. Bukankah dulu Ia menyimpan sebuah janji disana? kenapaIa tak menepati janjinya? Kenapa Ia pergi disaat Aku membutuhkannya?

Aku terus berjalan sambil menunduk, menghindari tatapan tajam dari wanita-wanita yangmenatapku. Baru saja Aku sampai dikelas, tiba-tiba Bella memanggilku dengansenyumannya. Apa Ia sudah memaafkanku? Apa Ia tak marah lagi kepadaku? Aku membalas senyumannya. Bella kemudian berlari kecil mendekatiku. “(Nama Kam), adayang mencarimu diruang musik.” Bella mendahului ku untuk berbicara. Aku hanya mengkerutkan keningku, bingung. “Cepat. Dia sudah menunggumu di ruang musiksaat ini.” Imbuhnya.

Aku langsung berlari mengikuti perintahnya. Belum sampai Aku keluar ruangan, Aku kembali melihatnya. Dan yang terlihat, Bella hanya menundukkan kepalanya. Seperti sedangkhawatir. Aku hanya tersenyum kemudian kembali berjalan menuju ruang musik.Memangnya, siapa yang sedang mencariku? Apakah Iqbaal? Semoga saja dia? Akusangat merindukannya saat ini. yah, berbagai fikiran itu terus terlintas difikiranku sepanjang perjalanan menuju ruang musik. Hingga kini, Aku tiba didepan pintu. Dengan hati yang sedikit deg-deg’an dan ragu, Aku membukanya. Aku terkejut melihat seorang wanita yang berdiri membelakangiku.

Aku berjalan mendekatinya, tapi masih dekat dengan pintu. “Kau, siapa?” Tanyaku pelan.Wanita itu tak bergeming, Ia masih berdiri tegak sambil memandang arah luar dari dekat jendela.

“Kau ingin tau, siapa Aku?” Tanyanya. Aku hanya berdehem dengan hati yang sangat penasaran. “Kalau begitu, mendekatlah.” Ucapnya. Aku hanya menuruti perintahnya dan berjalan perlahan. Baru beberapa langkah, Aku mendengar suara pintu ruangan yang tertutup. Aku segera menolehkebelakang dan mendapati seorang wanita yang tersenyum penuh kemenangan padaku.tiba-tiba Aku merasa ada yang sedikit mengganjal. Entah perasaan apa, yangjelas Aku sangat takut. Aku kembali menoleh, dan melihat wanita tadi sudahberbalik padaku. wanita itu, itu adalah wanita yang sering menyebutku dengan wanita murahan. Ia mendekatiku perlahan sambil tersenyum licik. Hey! Mau apadia?

“Wanita penggoda! Mau apa Kau? Jangan sekali-sekali mendekatiku!”Ucapku mencoba melawanrasa takut. Ia justru tersenyum getir sambil terus mendekatiku. Aku menoleh kebelakang, dan wanita yang tadi juga hanya menatapku tajam. “Yaakk! Apa yangakan kalian lakukan? Menjauh atau..”

“Atau apa? Wanita MURAHAN..” Sambarnya cepat. Aku hanya terdiam, masih mencoba bertahandalam rasa takut. Kenapa? Kenapa Angel menjebakku seperti ini? apa Ia begitumembenciku? Aku kembali melangkah mundur. Hingga, Aku merasakan sepasang tangan menangkap pergelangan tanganku. “Kena.” Ucap wanita yang sekarang sukses mengunci kedua tanganku. Aku tak bisa melakukan apa-apa sekarang.

Ia langsung menyeretku kekursi dan mengunci tanganku dengan tali. “Wanita-wanita penggoda.Apa yang kalian lakukan?” Aku masih terus berteriak.

“Teruskan saja bicaramu, dan Aku tak kan segan-segan untuk membuat wajahmu itu menjadiburuk rupa.” Ucapnya sambil mengeluarkanpisau yang tajam dari dalam tasnya.Astaga, apa yang akan diperbuat wanita-wanita ini?

“Aiissshh! Wanita pengecut! Kenapa kalian beraninya berdua? Dasar pengecut!” SREK~ Aahh!Pisau tajam itu mendarat begitu saja dikakiku. Hingga kini, darah mulai bercucuran dari kakiku.

“Apakah masih kurang, wanita murahan?” Tanyanya sambil menempelkan pisau itu dipipiku.“Itu hanya pemanasan, dan baru di kaki. Jika, Kau masih ingin berbicara lagi,bicaralah. Karena, pisau ini bisa mendarat dipipimu.”

“Kalian.Wanita kejam! Bagaimana mungkin, Iqbaal akan mencintai kalian. Sedangkan, perbuatan kalian seperti ini.” Seketika Aku langsung menutup mulutku ketika Aku menyadari kata-kata itu keluar darimulutku.

“Wow,ternyata Kau masih berani berkata seperti itu, wanita manis. Upss, bukan.Bahkan, wajahmu yang manis ini akan kubuat menjadi buruk rupa. Rasakan ini!”Aku hanya menutup mata ketika wanita itu mulai mengangkat pisaunya.

Dan “Awww~” Aku sontak membuka mata ketika mendengar pekikan yang sangat keras. Dan, itubukan suaraku.

Kini yangkulihat, Iqbaal memegang tangan wanita yang membawa pisau itu dan sepertinya Iabarusan menampar wanita itu. Sehingga, kudengar suara lengkingannya.“(Nama Kamu)..” Aku menoleh kearah sumber suara. Yang kulihat, Bella berlari mendekatiku. Kemudian langsung melepas tali yang melilit ditanganku. Ialangsung duduk dibawahku sambil memegang kakiku yang terkena sasaranwanita-wanita gila itu. Ia membuka tasnya dan mengambil obat merah, kemudian Iamengobati luka di kakiku. “Maafkan Aku telah membuatmu sampai sepertiini. Kau boleh membenciku, Aku akan menerimanya.” Ucapnya kemudian membalut lukaku dengan sapu tangannya.

“Aku tak akan membencimu.” Balasku dan Ia hanya tersenyum.

“Aku tak akan melaporkanmu pada polisi. Tapi, jika Kau berani mengulangi ini semua, Akutak segan-segan menjebloskan kalian ke penjara.” Ucap Iqbaal dengan nada tinggi kepada mereka berdua. “Apa kalian mengerti?” Imbuhnya lagi, dan masih dengannada yang cukup tinggi.

“I iyaa..aku tak kan mengulanginya, bahkan Aku tak akan mengganggunya lagi.” Ucap kedua wanitaitu dengan nada pelan. Dan hanya menunduk.

“Baiklah,sekarang kalian minta maaf padanya.” Iqbaal menyuruhnya dengan nada lembut kaliini. mereka hanya tunduk dan langsung bersujud dibawahku.

“Maafkan kesalahan kami. Kami tak akan mengulanginya.” Aku tak sanggup berkata apapun. Wanita jahat seperti mereka, bisa tunduk oleh perintah Iqbaal? Sungguhluar biasa bukan? Aku hanya mengangguk. Kemudian mereka keluar dari ruangan inidisusul dengan Bella yang membiarkanku untuk berada diruangan berdua dengan Iqbaal.

Aku memandang Iqbaal masih dengan posisi duduk. Kupaksakan diriku untuk berdirimeski kakiku terasa sakit. Hingga kini, Aku berdiri sejajar dengannya. Segeraku daratkan pukulan-pukulan yang menurutku keras kepundaknya.”Kau jahat! Kenapa Kau justru pergi, disaat Aku membutuhkanmu?” Tanyaku padanya. Iqbaal langsung menghentikan tanganku yang memukulnya, kemudian memelukku dengan paksa.

“Maafkan Aku. Kufikir, Kau akan lebih aman, jika tak berada disisiku. Tapi ternyatasalah, mereka justru terus mengincarmu.” Balasnya dengan sedikit pelan. “Inilahyang Aku takutkan selama ini. Aku takut jika Kau akan diperlakukan seperti ini,jika mereka tau Kau adalah kekasihku.” Imbuhnya.

“Lalu,bagaimana Kau tau jika Aku sedang dalam keadaan berbahaya diruang musik?”

“Bella. Diayang memberitahuku. Sebelumnya Ia menceritakan kesalahan yang dilakukan padamu itu, kepadaku. Dan setelah itu Ia berkata jika Kau dalam keadaan berbahaya.Jadi, Aku segera berlari kesini sebelum Kau tak selamat dari mereka.” Aku hanya mengulas senyuman, kemudian memeluknya erat dan menenggelamkan kepalaku didada bidangnya.

“MaafkanAku. Aku yang selama ini tak memahamimu.” Ucapku didalam pelukan hangatnya.

The End*****
Kembali Ke Atas Go down
 
I'm Sorry :')
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: