SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Pelangi Pualam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Pelangi Pualam   Fri 11 Oct 2013 - 19:48

Kuhentikan langkahku di tengah hujan yang sangat lebat ini, dari kejauhan kulihat seorang gadis berbaju terusan putih lengan panjang. Dia sedang bersandar di pagar sebuah rumah kosong yang berukuran besar. Wajahnya mendongak menatap langit. Dan dia terlihat tidak menggigil, padahal suhu udara terasa menusuk kulit.

Siapapun yang melihat gadis ini pasti merasa bahwa ia tak normal. Bagaimana tidak, rambut panjangnya putih seperti orang berusia lanjut, namun wajahnya mulus tanpa kerutan. Kulitnya yang halus juga berwarna sangat putih, mengingatkanku pada batu pualam.

Kudorong gerobak siomayku untuk mendekatinya. Sepertinya ia tak menyadari keberadaanku. Ketika jarakku dengannya hanya tinggal beberapa meter, aku pun kembali berhenti, lalu kuambil payung yang tergantung di pegangan gerobakku.

“Kenapa?” ucap gadis itu.

“Hmm?” gumamku sambil mengembangkan payung, dan menyodorkannya kepada sang gadis, sampai kepalanya terlindungi dari hujan.

“Seharusnya ini tidak terjadi.”

“Bawalah payung ini, nanti kamu bisa masuk angin,” balasku.

“Aku benci payung.” Dia menunduk, aku hampir tak bisa melihat mukanya karena tertutupi rambutnya yang basah. Hanya mulut dan mata kirinya saja yang terlihat.

“Kalo gitu pake aja jas hujanku aja. Nih, pegang.”
Kutodongkan payungku ke tangannya, ia pun menerimanya tanpa perlawanan.

“Kenapa kamu melakukan semua ini?”
Kutanggalkan jas hujan putih transparan yang sedari tadi kupakai tanpa menjawab pertanyaannya.
“Apa kamu tidak takut denganku?” lanjutnya.

Aku tersenyum kecil sembari menyodorkan jas hujanku kepadanya. Ia pun menerimanya sembari menyerahkan payung yang tadi digenggamnya kepadaku. Namun ia tak langsung memakainya. Gadis ini malah mengamati jas hujan itu dengan seksama sembari meremasnya dengan kedua tangan.

“Kenapa?” tanyanya lagi.

“Aku nggak tega ngeliat kamu kehujanan.”

Tiba-tiba dia berbalik dan berlari meninggalkanku. Air berterbangan dari setiap genangan air yang dilaluinya. Namun aku hanya berdiri mematung dan memandanginya sampai menghilang di persimpangan jalan. Empat kali aku bertemu dengannya dia selalu seperti ini.

Tapi hari ini, untuk pertama kalinya ia mau berbicara denganku. Padahal biasanya ketika aku menyapanya, dia langsung menghindar dengan raut keterkejutan terukir di wajahnya.

Tapi aku yakin akan bertemu dengannya lagi, di gang ini, di saat hujan seperti ini.

***

Tok....Tok... Tok...! Kupukul kentongan kecil di pegangan gerobakku dengan sebilah kayu.

Hujan.

Setelah 3 hari kemarin langit di sore hari tak dihiasi awan mendung, akhirnya hujan turun hari ini. Itu tandanya aku bisa bertemu dengan gadis pualam itu. Sebenarnya aku tak punya alasan khusus untuk menemuinya. Hanya.... Hatiku seolah ditarik kekuatan khusus untuk bertemu muka dengannya. Seperti ketika aku bertemu dengannya pertama kali, saat itu aku tiba-tiba berbelok ke gang ini tanpa berpikir. Padahal biasanya gang ini selalu sepi tanpa pembeli.

Kubelokkan gerobakku di gang tempat gadis pualam itu biasa berada. Dan... Benar kan, dia ada di sana, di tempat itu.

Seperti yang sudah-sudah, aku mendapati dia sedang bersandar di pagar rumah kosong sembari menatap langit. Tapi ada yang berbeda, dia memakai jas hujan yang kemarin kuberikan. Meskipun busana yang dikenakannya sama saja seperti saat aku menemuinya di hari-hari yang lalu: baju terusan lengan panjang selutut berwarna putih.

“Hai!” sapaku.

Dia pun mengarahkan pandangannya kepadaku, dan aku langsung tertegun. Wajah putihnya yang kini tak tertutupi rambut memancarkan aura yang aneh. Bukan, bukan karena kecantikannya yang pasti bisa membuat mayoritas hati lelaki luluh. Apakah itu karena ekspresi sedih di wajahnya yang basah?

Mungkin juga, namun ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Seperti ketika aku berbelok pertama kali di gang ini, atau saat aku menghampirinya. Ada sesuatu yang lain.

“Apa kamu tidak takut?” tanyanya.

“Takut apaan?” timpalku. Ketika jarakku sudah cukup dekat dengannya, aku pun berhenti dan mengambil satu piring dari rak kecil di gerobakku.

“Bisa saja kan, aku bukan ini manusia?”

“Aku tahu kamu itu manusia, bukan hantu,” jawabku sembari membuka dandang siomayku.

“Kamu tidak percaya dengan hantu?”

“Oh, aku percaya banget sama hantu, soalnya dari kecil aku bisa ngeliat hal-hal gaib. Jadi aku bisa ngebedain mana yang makhluk halus, mana yang manusia.” Aku serius, melihat penampakan makluk halus sudah menjadi bagian dari hidupku.

Kuambil siomay, tahu, kubis, kentang, dan telur dari dandang yang mengepulkan asap, kemudian kutaruh semua itu ke talenan.

“Terus kenapa kamu menghampiri aku? Apa karena kelainanku?” tanyanya lagi.

“Kelainan? Maksudmu albino? Bukan, bukan itu,” ucapku sambil memotong siomay dan makanan lainnya di talenan.

“Terus kenapa?”

Aku tak segera menjawab, tanganku sedang sibuk meracik sepiring siomay.

“Tolong, jawab.” tanyanya lagi, terdengar sedikit memaksa.

“Soalnya...” Setelah menuangkan bunbu kacang dan kecap di atas piring, aku pun mengambil payung dari pegangan gerobak, lalu mengantarkan sepiring siomay yang tadi kuracik kepadanya. “....aku penasaran, sebenarnya apa yang kamu tunggu di sini?”

Kusodorkan sepiring siomay itu kepadanya, namun dia malah terdiam dan memandangi potongan-potongan makanan yang disiram bumbu kacang itu.

“Aku tidak punya uang,” ucapnya.

“Gratis.”

Ia pun menatap wajahku dan berkata, “Tapi....”

“Kenapa? Kamu nggak suka siomay?” potongku.

“Bukan begitu...”

“Kalo gitu dimakan aja, lumayan kan buat anget-anget,” balasku sambil tersenyum.

Ia kembali menatap sepiring siomay yang sedang kupegang. Aku bisa melihat sedikit gerakan di urat lehernya, pertanda bahwa dia menelan ludah.

“”Silahkan.” Aku pun mendekatkan piring itu ke dadanya.

Perlahan, ia pun menerima piring itu. Terlihat sekali kalau dia sangat bimbang. Namun akhirnya dia memegang piring itu dengan kedua tangannya. Kulindungi kepalanya dengan payung, sementara aku berteduh di atap pinggiran gerobak.

Kupalingkan mukaku ke arah lain. Karena mungkin saja dia malu. Beberapa menit berlalu tanpa kata-kata di antara kami, hanya terdengar suara gemuruh air hujan yang semakin deras dan bunyi denting sendok dan piring yang beradu.

“Aneh,” gumam sang gadis.

Aku kembali menatapnya. Kudapati piring yang tadi kuberikan telah kosong, hanya tersisa sedikit bumbu kacang di atasnya.

“Apanya? Rasanya aneh?” timpalku, lalu meraih piring yang telah kosong itu darinya.

“Apa kamu merasa kalau bakat khusus untuk melihat makhluk gaib milikmu itu sebuah anugerah?” Dia malah balik bertanya.

Aku pun tertegun sejenak. Pertanyaan yang sangat tajam, menurutku.

“Nggak,” jawabku akhrinya, kemudian memasukkan piring kotor tadi ke ember. “Siapa sih yang mau ngeliat makhluk-makhluk yang bentuknya nggak jelas kayak gitu?”

“Menurutku, anugrah atau bukan, jawabannya hanya ada dalam hati manusia.”

“Yah, ada juga orang yang memanfaatkan kemampuan yang sama kayak aku buat cari duit sih,” gumamku, lalu berbalik untuk menatapnya lagi.

Ia memiringkan kepalanya sembari memandang wajahku dengan penuh selidik. Aku cuma membalasnya dengan senyuman kecil. Kemudian dia menatap ke arah langit kembali.

“Sepertinya aku tidak bisa melihatnya lagi,” desahnya.

“Ngeliat apaan?”

Dia mulai berjalan meninggalkanku tanpa mengeluarkan jawaban. Aku pun buru-buru menodorong gerobakku dan mengikutinya.

“Kamu mau kemana?” tanyaku.

“Pulang.”

“Mau kuantar?”

“Nggak perlu, dan tolong jangan ikuti aku.”

Aku pun berhenti, sepertinya percuma memaksanya. Meski rasa penasaran semakin merayapi hatiku.

“Kalau gitu, paling nggak kasih tau nama kamu!” seruku.

Gadis albino itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

“Iris,” jawabnya, lalu ia mengarahkan mukanya ke depan dan mulai berjalan lagi. “Dan terimakasih siomaynya.”
Aku terus memperhatikannya melangkah sampai tubuh putihnya menghilang di persimpangan jalan.
Iris? Gadis itu semakin menarik saja.

***
Aku bersandar di pagar tempat Iris biasa berdiri. Hujan belum turun, tetapi langit sangat mendung. Jadi Iris belum ada di sini. Namun aku yakin gadis itu pasti datang kalau hujan juga hadir.

Setetes air jatuh ke pipiku. Segera kuraih payung yang ada di gerobakku dan langsung kubuka. Hujan pun mulai turun, awalnya kecil saja, namun semakin lama semakin deras.

Kuperhatikan persimpangan tempar Iris biasa berbelok pergi. Berharap dia segera muncul.

“Kenapa?”

Aku terhenyak mendengar suara perempuan yang sudah kukenal itu. Segera saja aku berbalik, dan kudapati Iris sudah berdiri di depanku dengan busana yang sama seperti biasa.

“Kenapa apanya?” tanyaku.

“Bukannya lebih baik kamu keliling menjajakan daganganmu untuk mendapatkan uang?”

“Kebetulan hari ini daganganku habis, tadi diborong sama pengurus panti asuhan,” jawabku enteng.

“Ah,” desahnya, lalu ia pun berdiri di sebelahku sembari menyenderkan punggungnya ke pagar seperti biasa. Matanya menatap lurus ke depan, memandangi jalan.

“Besok kubawain lagi deh,” ucapku, sambil tersenyum dan menatapnya dari samping.

“Hati manusia mudah tertarik pada sesuatu yang tidak diketahuinya. Namun terkadang hal yang diketahuinya pun tetap menarik hatinya.”

“Yah, mungkin itulah jawaban dari pertanyaan ‘kenapa’mu itu...”

“Apakah kamu juga tertarik dengan namaku karena ketidak-tahuan?” selanya.

“Iris itu berasal dari bahasa Yunani yang kalau nggak salah artinya itu pelangi,” jawabku. “Udah kubilang aku itu tertarik sama apa yang kamu tunggu di sini. Dan juga...”

Sama kamu.... Kulanjutkan kalimatku dalam hati.

Iris mendongak, membiarkan tetesan-tetesan hujan membasahi wajahnya yang luar biasa pucat. Pancaran kesedihan kembali terlihat di wajahnya.

“Terkadang manusia sangat tertarik dengan hal yang tidak penting.”

Iris pun berjalan melewatiku dan pergi. Tercium olehku aroma yang segar dari tubuhnya. Aku pun hanya melongo sembari melihatnya berjalan terus sampai berbelok di persimpangan yang biasa.

Eh? Kenapa aku tidak berusaha mengejarnya? Dan kenapa jantungku berdegup agak kencang?

***
Hujan. Itulah yang kini selalu kutunggu. Bukan karena hujan itu sendiri. Tapi karena gadis itu. Gadis dengan tubuh putih yang mengingatkanku kepada batu pualam. Namun bukan karena tubuh putihnya itulah yang membuatku tertarik padanya. Bukan pula karena kecantikannya, namanya yang tidak umum, maupun aromanya yang khas. Mungkin aku tertarik pada alasannya berdiam diri di saat hujan, seolah menunggu sesuatu. Namun itu pun bukanlah yang utama.

Ya, aku sendiri tak tahu hal utama apa yang membuatku tertarik padanya.

“Mana gerobakmu?” tanya Iris saat aku berjalan mendekatinya tanpa membawa gerobak.

Aku berjongkok di sampingnya sembari memegangi payung untuk melindungi diri dari hujan yang agak deras.

“Aku nggak boleh bawa gerobak lagi sama Ayah. Aku disuruh fokus ke kuliah,” jawabku.

“Kamu kuliah?”

“Ayahku itu juragan Siomay. Aku sering bawa salah satu gerobaknya.”

“Untuk apa? Membantu keuangan?”

Aku menghela napas panjang, lalu berkata, “Nggak, aku jualan siomay buat ngelatih mental aja. Biar tahu gimana susahnya cari duit. Bisnis Ayahku nantinya mau diwarisin ke Kakak, jadi aku nanti kerja di tempat lain.”

“Menarik,” timpal Iris. “Jadi itu juga alasanmu jarang muncul akhir-akhir ini?”

“Nyatanya aku emang lagi sibuk sama studiku sih. Jadi jarang mampir kesini,” jawabku. “Kenapa? Kangen?” Aku pun terkikik, lalu menoleh ke arahnya.

Dia menggeleng pelan. “Cuma... Menunggu dengan ditemani seseorang itu tidak jelek juga.”

Iris memalingkan mukanya, kudapati sedikit rona merah di pipinya yang putih. Aku pun berdiri sambil tersenyum kecil.

“Dari dulu kamu belum jawab pertanyaanku. Sebenarnya apa sih yang kamu tungg...”

“Aku harus pergi sekarang,” sela Iris, kepalanya lagi-lagi mendongak menatap langit. Dan saat ini di wajahnya terukir ekspresi sedih yang lebih kental dari biasanya.

“Kalau gitu aku antar ya?”

“Terimakasih, tapi aku ingin pergi sendiri.”

Seperti yang sudah-sudah, dia pun bertolak meninggalkanku. Aku berdiri diam sambil terus mengamatinya. Namun ketika dia berbelok di persimpangan, aku pun ikut melangkah. Aku berniat untuk mengikutinya.

Setelah beberapa meter berjalan, aku pun bersembunyi di balik pagar tembok di persimpangan yang tadi Iris lalui. Kugerakkan kepalaku sedikit untuk mengintip Iris yang pastinya sedang berjalan.

Kecepatan degup jantungku tiba-tiba bertambah. Seketika saja aku keluar dari balik tembok. Kuedarkan pandanganku di gang ini untuk mencari tubuh putih Iris.

Gadis itu sudah tidak ada, seolah hilang ditelan bumi.

***
Tok...Tok....Tok...!
Kupercepat langkahku di tengah beceknya jalanan beraspal ini. Gang tempat Iris berada hanya tinggal beberapa meter jaraknya. Dua hari kemarin hujan tidak turun, yang berarti aku tidak bisa menemuinya.

Kubelokkan gerobakku di gang, dan di tempat biasa, kudapati tubuh pualam Iris. Seperti biasa, dia memakai baju putih dengan kepala mendongak ke arah langit. Hanya saja sekarang ia tidak mengenakan jas hujan yang dulu kuberi. Membuat seluruh tubuhnya basah kuyup terguyur derasnya hujan.

Kulambatkan langkahku. Setiap meter yang kulalui untuk mendekati gadis itu, seolah menjadi pemicu bertambahnya kecepatan degup jantungku.

Ketika jarak kami hanya tersisa sekitar tiga meter, tiba-tiba ia menoleh. Aku pun langsung berhenti, mata kami saling bertemu. Apa dia menangis? Aku tak tahu, karena banyak tetesan air hujan yang mengalir di wajahnya. Tapi yang jelas aku bisa merasakan aura kesedihan yang amat sangat dari wajahnya, dan... seolah dia sedang menahan sakit.

“Kamu kenapa? Mana jas hujanmu?” tanyaku, kemudian mengambil payung, mengembangkannya, dan lalu melindunginya dari hujan.

“Apakah kamu punya keinginan?”

Aku terdiam sejenak, memandangi matanya, baru kemudian berkata, “Tentu.”

Aku baru menyadari ternyata matanya berkaca-kaca. Jantungku pun seakan rontok ke dasar perut.

Iris menunduk memandang genangan air di depannya. Sementara aku jadi agak salah tingkah.

“Eh, mau siomay? Masih banyak loh,” ucapku akhirnya.

Dia hanya menggeleng sembari tetap menunduk. Aku pun cuma bisa memandanginya dengan perasaan bingung. Kata-kata yang tadi ingin kuucapkan seolah terhalangi oleh sesuatu di tenggorokan.

Akhirnya, kami berdua pun melalui waktu dengan keheningan. Jantungku masih saja berdegup dengan kencang, seolah ingin meloncat keluar dari tempatnya.

“Apakah salah kalau manusia mempunyai keinginan, tapi keinginan itu bertentangan dengan keinginan orang lain?” ucap Iris tiba-tiba.

“Eh?”

“SIOMAY!!!” mendadak terdengar teriakan seorang lelaki dari ujung jalan. Secara reflek aku menoleh ke arah suara itu. Dari kejauhan kulihat seorang lelaki sedang berdiri menggunakan payung di depan sebuah rumah. Huh, tidak biasanya ada yang mau membeli siomayku di gang ini.

“Bentar ya... Eh?” ketika aku menoleh ke arah Iris, tubuh putihnya telah lenyap dari pandangan.

Sekarang jantungku seolah benar-benar mau meloncat keluar.

***
Dalam diri manusia pasti ada sesuatu yang akan menarik manusia lainnya. Tapi ketertarikan itu tidak timbul kapan saja, harus ada yang memicunya.

Maka dari itu aku menunggu di sini.

Tetes demi tetes air hujan yang dingin terus menyerbu tubuhku, membuat diriku menggigil. Kuangkat kepalaku untuk menatap langit yang kelabu. Tak ada payung, jas hujan, maupun atap pinggiran gerobak siomay yang melindungiku. Aku ingin merasakan apa yang dirasakan gadis berkulit pualam itu. Karena sampai saat ini aku belum tahu apa yang membuatnya rela berdiri di tempat ini, dengan ditemani hujan.

“Mana gerobakmu?”

Aku menoleh ke arah suara itu. Ternyata Iris sudah berdiri di sampingku, matanya lurus menatap tubuhku yang basah kuyup. Jas hujan yang dulu kuberi tampak kembali membalut kulitnya.

“Syukurlah, jas hujannya udah balik,” ucapku sambil tersenyum tipis.

Iris tak menjawab dan bersender di pagar rumah di belakang kami. Seperti biasa, wajahnya mendongak, membiarkan bulir-bulir air hujan menerpa wajahnya.

“Kamu belum pernah ngejawab pertanyaanku....”

“Aku baru sadar, kalau kita bisa mendengar suara satu sama lain dengan jelas tanpa harus berteriak. Padahal kita selalu bertemu di saat hujan deras,” potong Iris.

“Ah, mungkin karena kita punya keistimewaan,” timpalku. “Kemarin orang yang beli siomayku bilang nggak pernah ngeliat kamu loh.”

Iris menurunkan mukanya, menatap ke jalan, lalu berkata, “Apakah kamu tidak ingin tahu sebenarnya aku ini apa?”

Aku kembali tersenyum kecil. “Mungkin juga.”

Tak ada kata keluar dari mulut Iris, aku pun menoleh ke arahnya. Wajahnya lagi-lagi tampak sedih, dan untuk kesekian kalinya degup jantungku mulai memuncak.

Mataku terus menatapnya dengan seksama, menantinya untuk menjawab pertanyaan yang selalu menghantuiku akhir-akhir ini. Tapi aku tak mau memaksanya, bisa-bisa ia malah menghindar.

“Tunggulah, sepertinya yang aku tunggu hari ini akan datang,” jawab Iris akhirnya, lalu menghela napas panjang.
Aku pun ikut menatap jalanan di depanku. Tak ada kata-kata lagi yang meluncur dari mulut kami. Jantungku sekarang seperti terserang gempa, mengetahui bahwa diriku akan mengetahui jawaban itu.

Hujan terus turun, seolah tidak mau bumi menjadi kering. Tubuhku semakin menggigil, namun Iris sepertinya belum mau mengatakan jawaban dari pertanyaanku. Membuat hatiku mulai dirayapi rasa gelisah.

Namun setelah beberapa saat, perlahan tapi pasti, intensitas hujan semakin berkurang. Dan anehnya, tak ada tanda-tanda kalau dia akan meninggalkan tempat ini. Apakah ini artinya dia akan segera mengungkapkannya?
Beberapa menit telah berlalu. Kini hujan telah tergantikan oleh gerimis kecil, tapi Iris belum juga berkata-kata. Kesabaranku kini sudah habis...

“Hei...”

“Itu,” ucap Iris, sambil menatap dan menunjuk ke arah cakrawala yang sangat jauh di ujung jalan.

Pelangi?

Mendadak detak jantungku berubah menjadi normal kembali. Ternyata yang dia tunggu selama ini hanya busur cahaya berwarna-warni itu. Betapa sederhananya....

“Hahaha.....” Kudengar tawa getir dari mulut Iris.

“Eh?”

Aku menoleh ke arahnya, dia pun balas menatapku. Aku terhenyak, meskipun di mulutnya tersungging senyum, namun air mata mengalir dengan deras di pipinya. Kepalaku pun diserang kebingungan.

“Bodohnya aku, hanya berharap bisa melihat pelangi untuk terakhir kalinya. Padahal aku sudah diberi kesempatan berkali-kali, dan kesempatan itu ada di depan mataku.”

“Eh?”

Mendadak Iris pun jatuh bersimpuh di hadapanku. Segera saja aku berjongkok di depannya. Kemudian dalam sekejap mata, dia menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Lalu dia menatapku dengan pandangan memohon.

Tangannya.... Sedingin es.

“Sia....pa nama...mu?” tanya Iris dengan napas yang berat.

“Roni,” jawabku pendek.

Kurasakan tangan Iris memasukkan sesuatu ke genggamanku.

“Cepatlah, waktunya tinggal sedikit.”

Mataku terbelalak lebar, tak percaya akan apa yang kulihat. Tubuh Iris secara perlahan barubah menjadi transparan. Semakin transparan tubuh gadis pualam ini, semakin lebar senyumnya. Tetapi air matanya pun semakin banyak keluar.

“Teri..ma..kasih, su...dah mau me..nema...ni...ku,” rintihnya pelan.

Dan akhirnya aku tidak bisa merasakan tangannya sama sekali, gadis berkulit pualam itu telah menghilang di hadapanku.

Kutatap sepotong kertas kecil pemberian Iris yang adadi tangan kananku. Lalu dengan tangan bergetar, aku pun membuka lipatan kertas itu secara perlahan.

Interval detak jantungku kembali bertambah, paru-paruku seakan kesulitan menghirup oksigen. ternyata kertas itu bertuliskan sebuah alamat rumah. Dan di bawah alamat itu tertulis satu kata: Tolong.

***
Akhirnya saat ini datang juga.

Kulangkahkan kakiku secara perlahan di sebuah lorong yang remang-remang. Di sebelah kanan dan kiriku terdapat banyak pintu, membuat lorong ini layaknya sebuah hotel. Nafasku terasa sangat berat, jantungku seperti sedang terserang gempa hebat.

Saat ini Aku sedang berada di rumah yang ditunjukkan oleh Iris. Dan aku tahu dia ada di dalam ruangan di ujung lorong ini. Menunggu dengan penuh harap akan dewa penolongnya.

Padahal dia mempunyai kemampuan istimewa, tapi kenapa dia tak segera meminta pertolonganku? Gadis itu malah rela berdiri di tengah hujan menunggu sesuatu yang menurutku sangat tidak penting.

Dasar aneh.

Mungkin dia mengira kalau aku akan menemui kesulitan waktu memasuki rumah ini. Tapi pada kenyataannya aku bisa melenggang bebas, bahkan sampai memasuki tempat yang sangat rahasia ini

Tentu saja, apa sulitnya memasuki rumah sendiri?

Aku berhenti di depan sebuah pintu kayu di ujung lorong. Ayahku pernah berkata, walau digunakan untuk penyekapan, ruangan ini dirancang agar terasa nyaman dan tidak pengap. Hal yang wajar, biasanya orang-orang menyimpan koleksi mereka di tempat terbaik?

Tapi aku tak yakin kalau ruangan ini bisa benar-benar nyaman. Apalagi mengingat apa yang dilakukan ayahku kepada mereka. Gadis-gadis yang menurut ayahku ‘eksotis’. Misalnya gadis-gadis dengan mata Heterochomia, keadaan dimana warna mata berbeda kiri dan kanan, atau gadis berkulit albino seperti Iris.

Kumasukkan sebuah kunci ke di pegangan pintu. Namun ketika akan memutar kunci itu, aku teringat akan sesuatu.
Ah, aku belum memakai topeng.

Kuambil topeng hitam yang hanya menyisakan dua lubang mata dari saku celanaku, mirip sekali dengan apa yang dipakai penjahat di film-film. Kuamati sebentar topeng itu, lalu kukenakan di kepalaku.

Ayahku membuat peraturan agar selalu memakai topeng ketika menemui koleksi-koleksinya. Peraturan itu berlaku bagi siapa saja, termasuk untukku, ayahku sendiri, serta pelayan yang selalu mengantarkan makanan dan pakaian ke ruangan-ruangan di lorong ini. Hal ini untuk mencegah para gadis-gadis yang disekap memberitahu ciri-ciri kami ketika kabur.

Yah, biasanya aku mengunjungi koleksi-koleksi ayahku ini untuk sesekali, kalau sedang bosan. Ayahku lah yang hampir setiap hari bertemu mereka di sini, kecuali kalau sedang sibuk.

Tapi aku ragu mereka bisa kabur, penjagaan di sini sangat ketat. Ayahku kan salah satu orang kaya di negeri ini. Jadi, dia bisa membayar orang banyak untuk mencegah mereka kabur. Tentu saja beliau bukan pengusaha siomay seperti yang kukatakan pada Iris. Aku hanya iseng meminjam gerobak dari orangtua temanku di kampus yang merupakan juragan siomay yang asli.

Itu kulakukan karena hatiku cepat merasa bosan. Aku ingin melakukan hal-hal yang baru. Pada awalnya berjualan siomay sangatlah menarik. Tapi lama-lama membosankan juga, hanya berkeliling kompleks menjajakan makanan. Tetapi ketika aku berniat untuk berhenti, aku malah bertemu Iris di luar sana.

Akhirnya menemukan sesuatu yang menarik lagi.

Kubuka pintu ini secara perlahan. Gairahku terus menggembung, wajahku memanas, tanganku gemetaran tak karuan.

Akhirnya.... akhirnya... Aku bisa menikmatimu dengan perasaan yang tak bisa terungkapkan, Iris!

Aku semakin mencintaimu!

Aku menyeruak memasuki kamar Iris. Kudapati gadis berkulit pualam itu sedang berbaring di tempat tidur serba putihnya. Matanya terpejam dengan wajah yang damai. Aku pun mengendap-ngendap mendekatinya dengan senyum lebar. Kemudian aku berdiri di samping dipannya sembari mengusap pipinya yang halus dengan kedua jariku.

Eh? Dingin?

Segera saja kutempelkan salah satu jariku ke bagian bawah hidungnya, namun aku tak merasakan hembusan nafas. Lalu kuperiksa denyut nadi di tangannya, tak ada. Kemudian kutempelkan telingaku ke dadanya, tak terdengar suara apapun. Kuangkat kepalaku dari dada Iris, lalu kupandangi gadis itu dengan seksama.
Lalu kutarik tubuh Iris dari dipan dengan sekuat tenaga, dan BUK! Gadis ini pun terjembab di lantai. Namun ia tidak bergerak. Kutendang-tendang tubuhnya dengan pelan, masih tak ada respon. Kubalik dia dengan kakiku, tak terjadi apapun. Kulepas topengku, seketika saja tubuhku menjadi lemas, seolah energi dalam tubuhku menguap semua.

Ah, dia benar-benar mati.

Perasaan marah, jengkel, kecewa bercampur aduk dalam diriku. Apa gunanya aku berkeliling menjajakan siomay di tengah padahal sudah bosan melakukannya? Buat apa aku susah payah mencuri jas hujan yang dirampas ayah dan mengembalikannya lagi ke tangan gadis ini?

Ini pasti gara-gara ayah ‘memakainya’ secara berlebihan. Padahal aku sudah bilang demamnya mungkin saja disebabkan infeksi karena perlakuan tak normal dari beliau. Tapi ayah tak percaya, dia bilang demamnya hanya demam biasa dan cukup diberi obat. Dan dia tetap ‘memakai’ gadis yang sedang sakit ini. Yah, apa daya, Iris memang favorit ayah.

Padahal semakin lama gadis ini semakin menarik. Pertanyaan-pertanyaannya yang aneh, kenyataan bahwa dia tetap bisa makan dengan tubuh duplikatnya, atau mengenai telinga kami yang bisa mendengar satu sama lain dengan jelas padahal hujan turun dengan deras, semuanya membuatku tertarik padanya.

Tapi yang paling kutunggu-tunggu adalah keputus-asaannya. Bagaimana reaksinya ketika orang yang dimintai tolong adalah anak dari seseorang yang telah membuat dirinya hidup di neraka ini? Apalagi anak itu juga berkontribusi terhadap penderitaannya selama ini.

Membayangkannya menangis histeris saja sudah membuatku tak bisa tidur karena saking bergairahnya. Apalagi setelah itu.... ARGH!

Namun harapanku itu telah musnah.

“Kamu sudah tidak mencintaimu lagi, Iris. Orang mati itu tidak menarik,” gumamku.

Kupicingkan mataku, perhatianku tertuju kepada bagian bawah baju terusan Iris. Dimana disana terdapat sobekan memanjang.

“Ekh!!”

Aku tak bisa bernapas, leherku terserang rasa sakit yang tak terkira, ada sesuatu yang melilit leherku. Secara reflek aku berusaha melepasnya dengan kedua tanganku.

“Keinginanku yang ingin bebas, bertentangan dengan keinginanmu dan Ayahmu kan?”

Suara itu.... Iris?

Perlahan, tubuh putih yang tergeletak di depanku itu berubah menjadi transparan, terus transparan sampai akhirnya hilang tak berbekas.

2013


Cerpen ini juga bisa dilihat di: http://www.sipenulis.com/blassreiter/review/20131011-194030-1381495230-pelangi-pualam

Kembali Ke Atas Go down
kimchiriuza
Penulis Berbakat
Penulis Berbakat
avatar

Jumlah posting : 392
Points : 507
Reputation : 1
Join date : 21.12.11
Age : 24
Lokasi : Dimensi ke-7

PostSubyek: Re: Pelangi Pualam   Sun 13 Oct 2013 - 11:06

seperti biasa, saya suka sekali karyanya si blass, ceritanya keren.. *tepuk tangan* Top jempol
Kembali Ke Atas Go down
Andri
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 261
Points : 306
Reputation : 13
Join date : 19.02.12
Lokasi : Sewer Speedway

PostSubyek: Re: Pelangi Pualam   Mon 14 Oct 2013 - 10:54

Kayak cerita-cerita doppelganger gitu yak? ._.

Seru tengahnya. XD
cuma ada beberapa hal yang bikin... eerr... gitulah ._.

Quote :
Kutodongkan payungku ke tangannya, ia pun menerimanya tanpa perlawanan.
Kata "kutodongkan" itu kesannya kayak mengancam gitu ._. padahal kan tokohnya gak ngancam, mungkin lebih enak pakai kata kusodorkan atau kata lainnya, asal bukan kutodongkan ._.

Quote :
Sekarang jantungku seolah benar-benar mau meloncat keluar.
Entah kenapa kayaknya lebih enak pakai kata "melompat" daripada "meloncat" ._.

Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Pelangi Pualam   

Kembali Ke Atas Go down
 
Pelangi Pualam
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» WTA KASIH EFEK WARNA PELANGI DI KNALPOT KROM
» JUAL LED 28 mata, 9 mata, dan 1 mata
» Custom Knalpot Mantab Deh Engga nyesel ( Teriak PooooLL )
» BAGI YANG PERNAH PAKE KNALPOT DBS...MOHON KASI COMMENT NYA DI SINI...
» Detail Pre-Touring rabu 30 Juli 2008

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: