SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...
SINDIKAT PENULIS

Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksIndeks  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  Login  
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Cerpen: Mengetuk

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
wilfran
Penulis Pemula
Penulis Pemula


Jumlah posting : 56
Points : 76
Reputation : 0
Join date : 02.10.12
Age : 26
Lokasi : Yogyakarta

PostSubyek: Cerpen: Mengetuk   Mon 16 Feb 2015 - 17:01

Hai semuanya! Lama nggak main ke sini. Forum ini belum mati kan? lol!
Saya mau berbagi cerpen nih. Mohon dibaca dan diberi tanggapan. Sori kalau agak kepanjangan. Mudah-mudahan worth untuk dibaca.

MENGETUK

Kalau aku mengetuk, pasti ia akan balas mengetuk. Begitu pun sebaliknya. Selalu begitu. Tak pernah berubah. Satu kali pun.

***

Rambutnya dikepang dua; simetris kiri dan kanan. Kacamatanya tebal bin lebar seperti kaca pembesar. Wajahnya dipenuhi bintik-bintik merah yang berpusat di pipinya. Ke mana-mana selalu memakai rok yang panjangnya tak pernah lebih pendek dari pahanya. Keteknya nggak pernah kelihatan. Mukanya jelek. Adakah deskripsi lain yang lebih culun dari itu? Kurasa tidak. Dan deskripsi wanita terculun dari yang terculun itu benar-benar hadir di dunia ini. Bukan khayalan, bukan imajinasi, bukan juga tokoh sinetron favorit sutradara-sutradara lokal. Yang ini benar-benar hadir dalam kenyataan yang sesungguhnya. Ya, dia benar-banar ada. Tepat di sebelah kamarku.

Mencari kos-kosan murah sudah bukan zamannya lagi. Bahkan di Yogyakarta yang serba murah sekalipun. Kalau kau mengatakan bahwa biaya kosmu hanya seharga satu juta per tahun, orang pasti akan menertawaimu. Leluconmu tak lucu. Dan jika kau masih tetap bersikeras mengatakan bahwa biaya kosmu memang hanya seharga satu juta per tahun, maka mulai dari saat itu juga tak akan pernah ada lagi orang yang percaya pada setiap ucapanmu. Karena itulah, daripada dicap sebagai tukang bohong, aku lebih memilih untuk menyembunyikan biaya kosku.

Dinding kamarku terbuat dari triplek. Lantainya, well, cukup mewah. Setidaknya bukan tanah. Langit-langitnya, hmm, maaf, aku malu membicarakannya. Langsung saja ke WC. Penuh dengan kecoa dan sarang laba-laba; beserta laba-labanya. Air timba sendiri dari sumur. Pintu tak bisa dikunci. Atap tidak ada. Untuk yang lainnya, silakan bayangkan sendiri.

“Bro. Kalau WC yang kayak begitu aja masih berani kau omongin, bagaimana langit-langit kamarmu?” tanya Agi, salah seorang temanku yang, entah bagaimana ceritanya, percaya akan harga kosku.

“Coy. Aku udah bilang, aku malu ngomongin itu. Udahlah, tak usah dibahas lagi,” jawabku waktu itu.

Begitulah. Jika kau tidak cukup melarat untuk menyewa kos-kosan dengan harga lebih dari dua juta, maka kau tak akan tinggal di kos-kosan ajaib ini. Dan jika kau masih juga rela tinggal di sini demi menghemat biaya kos agar dapat digunakan untuk hal lain yang lebih menyenangkan, maka kau adalah seorang eksentrik dengan pola pikir ekstrem. Tak peduli apa kata orang. Yang penting diri sendiri tak merasa resah. Itulah aku.

Lalu, bagaimana dengan orang yang tak cukup melarat, bahkan bisa dikatakan cukup kaya, serta tidak memiliki pola pikir yang terlampau ekstrem sepertiku, tapi rela tinggal di kos-kosan yang merangkap sebagai sarang laba-laba dan tikus dan kecoa ini? Menyedihkan. Orang itu pasti sangat menyedihkan. Sama menyedihkannya dengan si kos-kosan itu sendiri. Dialah si alien simetri lipat belah tengah, tepat di sebelah kamarku itu.

Kukatakan saja terus terang. Aku bukan orang yang baik. Aku hidup berdasarkan suka dan tidak suka. Kukerjakan apa yang kusuka, kuabaikan apa yang tidak kusuka. Kau tak akan pernah melihatku dalam rombongan mahasiswa yang sibuk mencari dana untuk amal. Kau juga tak akan pernah melihatku dalam seminar-seminar yang menyuarakan pengembangan diri. Dan, tentu saja, kau tak akan pernah melihatku menyisihkan waktuku demi sebuah hubungan yang dilandasi oleh komitmen. Maaf saja. Hidup terlalu singkat untuk diarungi bersama dengan hal-hal yang merepotkan. Apalagi bagi orang sepertiku yang menghabiskan lebih dari sepuluh jam waktu hidupnya dalam sehari di atas tempat tidur.

Si alien di sebelah kamarku itu tak akan pernah mengerti model orang sepertiku. Pasti. Setiap hari selalu bangun tidur sebelum matahari terbit. Datang ke kampus selalu satu jam sebelum perkuliahan dimulai. Tak punya tempat nongkrong lain selain kampus dan kamar kos. Lampu kamar tak pernah menyala lewat dari jam sepuluh malam. Orang seperti itu pasti tak habis pikir dengan cara hidup orang sepertiku.

Aku tak peduli dengannya. Sedikit pun tak peduli. Berbicara dengannya saja tak pernah. Setiap kali kami bertemu pandang secara kebetulan, pasti hanya akan terjadi baku lempar senyum. Ia menampilkan senyuman gugup bin takut kepadaku, aku membalas dengan senyuman kilat nan malas kepadanya. Kalau sudah begitu, ia pasti akan segera berlalu dengan salah tingkah. Dan baru setelah itulah, aku akan menampilkan senyuman angkuh pun merendahkan kepadanya.

Tak banyak memang hiburan yang bisa kudapat di kos-kosan ini. Aku lebih suka keluyuran di jalanan daripada jamuran di kamar. Kalaupun ada hiburan di kos-kosan ini, paling-paling hanya saat si alien simetri lipat galau. Ia cukup sering menangis. Aku tak tahu dan tak mau tahu apa alasannya. Apa peduliku? Yang penting bagiku hanyalah suara tangisannya yang benar-benar merdu. Dan aku tak perlu repot-repot menguping untuk dapat menikmatinya. Toh tipisnya triplek pembatas di antara kamar kami sudah lebih dari cukup untuk dapat menghubungkan suara dari kedua kamar.

Well, harus kuakui. Aku lebih banyak menikmati kehidupan ini dibanding si alien. Dia hobi menangis, aku hobi tertawa. Bagiku hidup adalah permainan, baginya hidup adalah cobaan. Namun tak selamanya hal itu terjadi. Ada saja saat-saat tertentu di mana ia menjadi pihak yang tertawa. Dan ada saja saat-saat tertentu di mana aku menjadi pihak yang sengsara.

Ia bahagia. Bahagia sejadi-jadinya. Teman-temannya di kamarnya pun turut berbahagia untuknya. Kurasa aku dapat memakluminya. Untuk ukuran alien sepertinya, mendapatkan seorang kekasih pasti sangat membahagiakan. Ia pasti merasa seperti seekor monyet yang telah berhasil menipu seorang pangeran tampan. Handsome and the beast. Aku dapat memakluminya. Namun aku tak sudi memahaminya.

Duaakk‼

“Woi! Bisa diam nggak sih?” teriakku setelah menghantam dinding triplek pembatas kamar kami. “Kuhantam pacarmu kalau masih juga berisik!”

Mereka langsung terdiam.

Sejak saat itu ia seperti berubah menjadi orang lain. Ia jadi lebih sering tertawa. Lagu-lagu romantis juga jadi sangat sering terdengar dari dalam kamarnya. Yang paling parah, ia jadi bisa tersenyum lepas kepadaku. Tersenyum lepas bersama segenap kebahagian di hatinya. Sedikit saja bertemu pandang, dan ia akan langsung memperlihatkan raut kebahagiaannya itu kepadaku. Menjijikkan. Kini akulah yang sengsara.

Ya. Sungguh luar biasa. Ternyata hidup benar-benar seperti roda yang berputar. Kadang bahagia, kadang sengsara. Sejak si alien bahagia, sejak saat itu juga aku sengsara. Derita demi derita datang menghampiriku. Aku sendiri tak habis pikir, bagaimana mungkin hal-hal seperti ini bisa terjadi secara serentak dan beriringan seperti ini. Sama seperti segala-galanya mengenai diri kami yang saling bertolak belakang, nasib hidup kami pun tak pernah sama. Aku bahagia, ia sengsara. Ia bahagia, aku sengsara. Dan kini, kalimat yang terakhir itulah yang sedang terjadi.

“Anjing!” aku mencapai puncak dari kesengsaraanku. “Dosen bangsat! Kau kira kau bisa terus-terusan seenaknya begitu, hah? Kau tunggu saja! Kubakar rumahmu!”

Aku gelap mata. Kepalaku dipenuhi amarah. Aku sudah tak tahan lagi. Sudah saatnya aku memberontak. Ya, sudah saatnya. Untuk apa aku khawatir? Bukankan selama ini memang itu yang selalu kulakukan? Sudah saatnya aku menyempurnakan kebebalanku. Akan kubakar kandang si anjing itu.

Duk…, duk….

Aku tersentak. Kesadaranku terentak. Kamar kos yang sedari tadi mendengungkan luapan amarahku, kini membisu total. Aku mencoba untuk mengembalikan fokusku. Kutatap dinding triplek yang menutupi pandanganku dari wanita di sebelah kamarku itu. Aku menunggunya. Menunggu ia kembali mengetuk dinding kamar kami. Aku tak mungkin salah dengar. Pasti tadi ia mengetuknya.

Duk…, duk….

“Anjing,” geramku.

Aku berjalan keluar dari kamarku. Hendak kuhampiri wanita di sebelah kamarku itu. Aku sendiri belum tahu apa yang akan kulakukan terhadapnya. Memang baru akan kuputuskan setelah aku melihat wajahnya. Namun, belum juga aku sampai di depan pintu kamarnya, ia menghentikanku. Langkahku tertahan. Amarahku mereda. Ego dan keangkuhanku runtuh. Alunan lagu rohani terangkat memenuhi kamarnya dan telingaku. Ia menyerang titik kelemahanku.

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Aku memang bukan orang yang baik. Aku memang tak akan pernah ada di dalam rombongan mahasiswa yang sibuk mencari dana untuk amal. Aku juga tak akan pernah ada di dalam seminar-seminar yang menyuarakan pengembangan diri. Dan, tentu saja, aku tak akan pernah menyisihkan waktuku demi sebuah hubungan yang dilandasi oleh komitmen. Namun, serusak-rusaknya hidupku, ternyata aku tak cukup rusak untuk berani melawan yang satu ini.

Terserah kau mau berpikir apa tentang aku. Kau boleh menyebutku sebagai preman ababil yang langsung ciut nyali begitu diperhadapkan dengan Tuhannya. Kau juga boleh menghinaku sebagai berandalan pengecut yang langsung tertunduk malu begitu diceramahi oleh pemimpin agama. Terserah. Sesukamu saja. Aku tak akan marah. Memang itulah diriku.

“Ngapain takut? Selama ini kan kau memang sudah hancur? Ngapain setengah-setengah? Sekalian aja kau hancur total,” pikirku sejenak.

“Maaf saja. Aku belum siap,” jawab batinku.

“Dasar preman ababil. Nggak lucu!” pikirku lagi.

“Ya. Begitulah,” jawabnya lagi.

Aku mematung di tempatku berdiri untuk beberapa saat lamanya. Kubiarkan lagu yang diputar si alien menggema merasuki telinga, pikiran, dan seluruh kesadaranku. Awalnya yang kurasakan adalah perasaan tidak enak hati untuk berbuat sesuatu yang jahat. Namun, perlahan tapi pasti, perasaan itu berubah menjadi sebuah ketenangan dan kedamaian untuk memikirkan dan melakukan hal yang benar. Aku benar-benar tertegun. Dan setelah puas membenamkan diriku ke dalam sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan, aku pun berjalan kembali ke dalam kamarku.

Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidurku. Lagu yang diputar wanita di sebelah kamarku itu masih terus mengalun indah memenuhi isi kamarku. Kurasa sejak dari awal ia memang sengaja memperdengarkannya untukku. Ia terus memutarnya tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Akhirnya aku pun berkepikiran bahwa ia memang sengaja melakukannya karena tidak tahu kapan harus mematikannya. Mungkin pikirnya, karena lagu ini ia putar untuk kepentinganku, maka akulah yang harus mengakhirinya.

Aku hendak berjalan ke kamarnya untuk menyampaikan bahwa ia bisa mematikan lagunya sekarang. Namun sesuatu menghalangiku. Walau bagaimanapun juga, aku tak pernah berbicara dengannya. Aku juga sama sekali tidak akrab dengannya. Hal itu membuatku merasa tidak cukup nyaman untuk menghampiri dan berbicara dengannya. Apalagi selama ini aku selalu memandang rendah dirinya. Akhirnya seberkas ide pun melintas di pikiranku.

Duk…, duk….

Kuketuk dinding kamar kami, persis seperti yang ia lakukan sebelumnya. “Sudah cukup. Aku sudah tenang,” ucapku dalam hati. Aku berharap pesanku ini sampai kepadanya. Kutunggu ia mematikan lagu yang diputarnya. Namun ia sama sekali tidak menanggapi pesanku. Aku pun berniat untuk mengetuk sekali lagi.

Duk…, duk….

Tepat ketika aku hendak mengetuk dinding kamar kami, ia melakukannya mendahuluiku. Hentakan yang sama, bunyi yang sama, tempo yang sama. Spontan sepasang lesung pipit hadir menghiasi wajahku. Aku tersenyum. Tak pernah kurasakan sebelumnya perasaan yang aneh seperti ini. Perasaan yang benar-benar aneh. Aku tak dapat menjelaskannya. Alasannya pun aku tidak tahu. Apapun itu, akhirnya aku dapat merasakan kembali kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Kebahagiaan sejati yang sudah lama hilang dari hidupku.

Aku mengetuk sekali lagi. Ia membalasnya. Tak lama kemudian lagu yang diputarnya berhenti. Aku pun tertidur pulas.

***

Sejak saat itu hubunganku dengan wanita ini terasa seperti berubah. Kami memang masih belum saling berbicara satu sama lain. Saling menyapa pun tidak. Kami masih mengandalkan senyuman semata setiap kali bertemu pandang. Namun kini aku sudah dapat memberikan senyuman yang jauh lebih tulus dibanding sebelumnya. Setiap kali ia tersenyum malu nan lugu kepadaku, aku pasti akan membalasnya dengan senyuman lebar pun sopan kepadanya. Dan lebih daripada itu semua, kini kami telah dapat saling berkomunikasi satu sama lain lewat ketukan dinding triplek penghubung kamar kami.

Hal ini tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Sedikit pun tidak pernah. Dinding triplek yang awalnya kuanggap sebagai sebuah pemisah, kini menjelma menjadi sebuah penghubung. Lewat perantaraannya, aku dapat berkomunikasi dengan wanita di sebelah kamarku itu. Kalau aku mengetuk, pasti ia akan balas mengetuk. Begitu pun sebaliknya. Kalau ia mengetuk, pasti aku akan balas mengetuk. Terkadang kami melakukannya untuk tujuan yang jelas. Misalnya ketika ia merasa terganggu oleh suara nyanyianku yang terlalu merdu. Namun tak jarang kami melakukannya tanpa maksud apapun. Misalnya ketika aku merasa bosan sendirian di kamar tanpa ada hiburan.

Kalau aku mengetuk, pasti ia akan balas mengetuk. Begitu pun sebaliknya. Selalu begitu. Tak pernah berubah. Satu kali pun.

***

Waktu terus berlalu. Aku dan wanita di sebelah kamarku masih setia tinggal di kos-kosan yang kami sewa. Komunikasi di antara kami pun tak terputus. Lewat ketukan dinding kamar, aku merasa seperti dapat berbagi pikiran dengannya. Lewat ketukan dinding kamar, aku merasa seperti dapat berbagi cerita dengannya. Lewat ketukan dinding kamar, aku merasa seperti dapat berbagi hidup dengannya. Dan semua itu kami lakukan tanpa pernah sekali pun kelepasan untuk melakukan apa yang selama ini belum pernah kami lakukan. Ya. Masih. Sampai detik ini, belum pernah sekali pun kami berbicara satu sama lain.

“Aku benar-benar bingung, coy,” kataku kepada Agi dari balik telepon genggam. “Entah sejak kapan ini terjadi. Setiap kali aku senang, dia selalu ngetuk. Setiap kali aku sedih, dia selalu ngetuk. Bahkan setiap kali aku marah, dia pasti selalu ngetuk dinding kamarku. Aku benar-benar bingung dibuatnya, coy. Sebenarnya dia tau dari mana, sih? Padahal kan aku udah nggak pernah lagi teriak-teriak setiap kali terbawa emosi. Dia tuh tau dari mana?”

“Ah, itu yang namanya cinta, bro,” jawab Agi. “Orang kalau jatuh cinta, biasanya dia bisa memahami perasaan orang yang dia cintai. Tanpa bicara apapun, mereka bisa mengetahui kondisi hati orang yang mereka sukai.”

Aku langsung mematikan teleponku.

Yang benar saja. Mana mungkin aku jatuh cinta kepadanya. Mengobrol saja belum pernah. Bahkan kalaupun memang benar-benar ada perasaan di antara kami, maka itu hanyalah sebatas cinta buta. Aku tak mengenal wanita itu. Ia juga tak mengenalku. Kami sama sekali tidak mengetahui kepribadian masing-masing dari kami. Dan untuk dapat saling mencintai, syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah saling mengenal satu sama lain. Tentang ia yang selalu dapat mengetahui kondisi hatiku setiap waktu, itu hanyalah sebuah asumsi subjektif yang tak logis. Bisa saja sebenarnya hanya kebetulan saja ia mengetuk dinding kamar kami ketika perasaanku sedang tak menentu.

“Ya. Pasti begitu. Pasti semuanya cuma kebetulan. Aku nggak mungkin jatuh cinta sama dia. Aku nggak mungkin jatuh cinta sama dia,” aku menetapkan hati.

Sejak saat itu perasaanku menjadi goyah. Aku selalu kepikiran tentang wanita di balik dinding kamarku itu. Hal itu sedikit banyak membuat komunikasi antara kami merenggang. Kini, sebisa mungkin, aku tak akan mengetuk dinding kamar kami apabila aku tak memiliki alasan. Dan, seiring berjalannya waktu, akhirnya aku tak pernah lagi melihat ke arahnya apabila kami secara tidak sengaja berpapasan.

***

Aku bahagia. Bahagia sejadi-jadinya. Taruhan bola yang kulakukan bersama temanku membuatku kaya raya. Sepanjang hari kuhamburkan uangku untuk hal-hal yang menyenangkan. Aku benar-benar bahagia. Kini perasaanku tak lagi dapat kusembunyikan. Aku menyeringai segar.

Ia melihatku. Menangkap basah kebahagiaan yang meluap meliputi diriku. Tanpa sadar kutatap balik pandangan matanya. Kelepasan. Akhirnya aku melihat wajahnya. Perasaanku benar-benar mengendalikanku. Aku tak dapat menahannya. Akhirnya aku pun memberikan senyuman terbaikku kepada wanita di sebelah kamarku itu.

Ia memalingkan wajah merahnya. Memalingkannya 180°. Ia perlihatkan bagian belakang kepalanya kepadaku. Ia pun berjalan meninggalkan kamar yang tadinya hendak ia masuki. Tanpa peduli sosok yang tengah ia punggungi, ia berlalu meninggalkanku.

Wajahku memerah padam.

“Brengsek! Ya sudah kalau begitu! Ini yang terakhir! Aku tak akan pernah mau melihat wajahmu lagi!”

Aku marah besar.

***

“Hahahaha. Gitu dong. Kalau nggak hancur, bukan Domi namanya,” seru Agi dari balik telepon genggamnya. “Akhirnya kau balik jadi kayak dulu lagi.”

“Iya, coy. Aku udah nggak peduli lagi. Lagian kalau mau dipikir-pikir lagi, sebenarnya semua itu cuma kebetulan aja kok. Dari awal aku dengan dia memang nggak pernah akur kok. Ngapain juga aku harus mikirin dia. Pokoknya mulai sekarang, aku nggak mau lagi berurusan sama dia. Mau dia galau kek, mau dia sakit kek, mau dia mati kek, aku nggak peduli.”

“Sip! Keren! Itu baru Domi. Jadi, gimana, bro? Mau bersenang-senang malam ini? Merayakan kembalinya Domi yang nggak cupu,” sambung Agi.

Aku bergeming sesaat.

“Apaan sih? Sejak kapan aku bilang kalau aku mau jadi kayak dulu lagi? Aku cuma nggak mau peduli lagi sama si alien di sebelah kamarku itu. Cuma itu,” kataku.

“Nggak ada bedanya kan? Berarti kau balik jadi kayak dulu lagi. Ayo lah, kita gila-gilaan sampai pagi,” ujar Agi.

“Memangnya kau nggak ada kerjaan malam ini? Bukannya biasanya kau jalan-jalan sama pacarmu itu setiap malam Minggu?” tanyaku.

“Nggak usah dipikirin. Dia sih bisa kuurus belakangan. Sekarang kau yang paling penting. Ayo, datang aja ke kosku.”

Aku berpikir sejenak.

“Kapan-kapan aja, Gi. Aku lagi capek.”

***

Pikiranku tak menentu. Stres dan galau datang silih berganti. Otakku benar-benar kacau dibuatnya. Bukan berarti sebelumnya hidupku baik-baik saja. Hidupku tak pernah baik. Namun aku selalu bisa bertahan terhadap semua itu. Kali ini, yang kacau bukan kehidupanku. Pikiranku. Itulah yang kacau. Dan untuk yang satu ini, aku benar-benar tak siap menghadapinya.

“Gi. Kau di mana? Aku ke kosmu ya?”

“Waduh. Maaf, bro. Aku lagi keluar. Lagi jalan-jalan sama pacarku nih. Nanti malam aja ya. Aku janji, nanti malam pasti bisa.”

“Oke. Maaf, udah ganggu.”

Kosong. Hampa. Hambar. Hidupku mati. Aku tak merasakan apa-apa. Tujuan hidup pun tak kumiliki. Aku berada di titik terendah dalam makna hidupku. Tak ada kebahagiaan, tak ada kesengsaraan. Yang kulakukan hanyalah melanjutkan hidup seadanya, dengan tetap berusaha untuk mengisinya dengan pilihan-pilihan warna yang tersedia. Tak ada maksud khusus. Semua semata hanya supaya aku tak semakin jatuh oleh kenyataan hidupku. Setidaknya aku bisa bertahan untuk tidak menjadi gila. Setidaknya aku bisa bertahan untuk tidak bunuh diri.

***

“Parah! Benar-benar parah! Pokoknya dia tuh benar-benar bodoh, bro,” seru Agi penuh semangat dari balik telepon genggam.

“Kok bisa? Memangnya pacarmu ngapain, coy?” tanyaku, mencoba menemukan lagi warna lain yang belum kusentuh.

“Dia nggak ngapa-ngapain, bro. Makanya kubilang dia bodoh. Awalnya dia cuma kupegang doang. Dia diam. Lama-lama kuraba-raba dia. Masih juga diam. Akhirnya aku jadi makin berani.”

“Dia tetap diam aja?”

“Sempat melawan sih. Tapi begitu kuancam mau kuputusin, dia langsung diam lagi. Akhirnya kuraba-raba lagi dia. Dan kali dia sama sekali nggak melawan. Pokoknya benar-benar lemah deh. Bisa-bisanya ada perempuan kayak begitu.”

“Benar-benar bodoh. Yang kayak begitu sih nggak pantas dikasih simpati. Salahnya sendiri, kenapa selemah itu. Hidup nggak semudah itu sampai orang kayak dia bisa berharap dunia mau melindunginya. Dasar perempuan manja,” kataku sambil tersenyum angkuh. Sepertinya aku berhasil menemukan lagi warna baru untuk mengisi hidupku.

“Tapi kali ini benar-benar lucu, bro. Aku benar-benar nggak habis pikir sama pacarku ini. Jadi begini. Akhirnya aku udah nggak tahan lagi. Aku udah nggak peduli lagi. Akhirnya kusikat dia. Awalnya agak ragu juga sih. Soalnya aku sendiri belum pernah melakukan itu. Tapi karena dia benar-benar nggak berani melawan, akhirnya kusikat dia sampai aku puas. Benar-benar edan!”

“Ya. Dia pantas mendapatkannya. Lakukanlah sesukamu. Ajarkan kepada dia kerasnya dunia ini. Kalau perlu, hajar dia sampai babak belur supaya dia bisa belajar tentang kejamnya hidup.”

“Hahahaha. Benar banget, bro! Aku setuju. Ya udah, kalau gitu, sampai sini dulu ya. Aku mau mengajar dulu. Mengajarkan kerasnya hidup kepada alien manja.”

“Oke. Sampai nanti.”

Benar saja. Aku berhasil menemukan lagi warna baru dalam hidupku. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali aku merasa seperti ini. Rasanya benar-benar puas. Aku pun menghempaskan tubuhku di atas tempat tidurku dengan senyuman lebar yang menganga di wajahku.

Aku ingin tidur siang. Cuaca hari ini sangat mendukung keinginanku itu. Ditambah lagi, sepertinya si alien sedang tidak ada di kamarnya. Biasanya selalu saja terdengar suara-suara yang mengganggu kenyamanan dari dalam kamarnya. Kali ini kamarnya benar-benar senyap. Suara ocehan yang selama ini dapat dengan mudahnya masuk ke kamarku melalui dinding kamar kami pun kali ini tidak terdengar sedikit pun. Sepertinya si alien memang benar-benar sedang kembali ke Pluto; atau planet lain yang lebih terpencil lagi. Apapun itu, akhirnya aku dapat tidur siang dengan tenang dan nyaman.

***

“Padahal aku udah memberi apapun yang ia mau. Bahkan tubuhku pun kurelakan untuknya. Tapi kenapa? Kenapa dia tega melakukan semua ini? Kenapa dia tega melakukan semua ini?”

Aku terbangun.

“Dia mencampakkanku. Setelah puas menikmati tubuhku, bahkan sampai memukuliku setelahnya, dia langsung mencampakkanku. Kenapa? Kenapa? Kenapa?”

Sepertinya si alien sudah kembali ke bumi.

“Aku nggak pernah menolak permintaannya. Aku bahkan selalu mengabulkan keinginannya. Kuberikan apapun yang ia mau. Kulakukan apapun yang ia minta. Apapun. Semua kurelakan demi dia. Semua kurelakan demi kami. Kenapa dia tega melakukannya? Kenapa dia tega menghajarku sampai aku menjadi cacat begini? Kenapa dia tega menghajarku sampai anak kami di dalam kandunganku gugur? Kenapa? Aku cinta sama dia! Kenapa!”

Aku termangu.

Duk…, duk….

Kuketuk dinding penghubung kamar kami. “Sudah. Cukup. Jangan menangis lagi. Biar aku yang akan menyelesaikan semuanya,” ucapku dalam hati. Dan saat aku hendak beranjak dari tempat tidurku, sesuatu yang tak pernah terlintas di kepalaku terjadi tepat di depan mataku.

“Maaf! Aku benar-benar minta maaf! Aku benar-benar minta maaf!” wanita di sebelah kamarku itu menyerbu masuk ke dalam kamarku. Ia mendobrak pintu kamarku dan masuk ke dalam kamarku bersama tangisannya yang pilu. “Aku nggak akan menangis lagi. Aku nggak akan berbicara lagi. Aku nggak akan berisik lagi. Aku nggak akan mengganggumu lagi. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku….”

***

“Gi. Pukul aku. Pukul aku sampai kau puas,” kataku kepada Agi di lapangan tempat aku menyuruhnya datang.

“Maksudmu apa, sih? Kenapa juga aku harus memukulmu?”

“Udah! Nggak usah banyak bicara! Lakukan saja!” bentakku sambil berjalan mendekati Agi.

Agi mencoba untuk kembali beragumen. Namun aku tak memberinya kesempatan. Aku langsung menghajarnya dengan seluruh kekuatanku. Agi pun melawan. Ia langsung menghajarku dengan seluruh kekuatannya. Aku sama sekali tidak melawan. Kubiarkan ia menghajarku habis-habisan seiring aku menghajarnya habis-habisan. Kami terus saling bertukar serangan sampai salah satu di antara kami tak lagi dapat melanjutkan pertarungan. Agi pun jatuh tersungkur di hadapanku. Kesadarannya pergi meninggalkannya. Ia hancur.

Ia pantas mendapatkannya. Pengecut sepertinya pantas dihukum dengan cara seperti ini. Dan jika setelah terbangun pun ia masih belum juga belajar dari kesalahannya, maka akan kuajarkan lagi kepadanya semua yang perlu ia pelajari. Akan kubuat ia memahami kejamnya hukum alam. Akan kubuat ia merasakan kerasnya hukum karma. Ia pantas mendapatkannya. Ya, ia pantas mendapatkannya.

Dan aku pun pantas mendapatkan hukuman yang sama.

***

Aku pulang. Tubuhku memang hancur. Namun aku dapat merasakan perasaan lepas yang luar biasa di dalam batinku. Sesuatu yang sudah lama tidak mampir menjamah hatiku. Aku pun hendak mengistirakatkan tubuhku seharian di atas tempat tidurku. Aku menuju pintu kamarku.

Ia ada di sini. Di sebelah tempatku berdiri. Hendak masuk ke dalam kamarnya. Si alien yang itu.

Aku mulai merasa aneh. Entah kenapa jantungku mulai melompat-lompat. Pikiranku mulai tidak stabil. Aliran darahku pun mulai tak menentu. Kucoba untuk mengintip wajahku melalui cermin butut yang terpampang di sisi pintu kamarku. Aku berharap raut wajahku tidak membeberkan isi hatiku kepada wanita di sebelah kamarku itu.

Aku gugup.

Aku memalingkan wajah merahku. Memalingkannya 180°. Kuperlihatkan bagian belakang kepalaku kepadanya. Aku pun berjalan meninggalkan kamar yang tadinya hendak kumasuki. Tanpa peduli sosok yang tengah kupunggungi, aku berlalu meninggalkannya.

Wajahku memerah padam.

“Brengsek! Ya sudah kalau begitu! Ini yang terakhir! Aku tak akan pernah mau melihat wajahmu lagi!”

Aku malu berat.

***

Aku mencoba mengintip situasi di depan pintu kamarku. Ia masih ada di sana. Aku pun kembali bersembunyi.

***

Aku mencoba mengintip lagi situasi di depan pintu kamarku. Ia masih juga ada di sana. Aku pun kembali bersembunyi lagi.

***

Aku mencoba mengintip lagi situasi di depan pintu kamarku. Ia sudah tidak ada di sana. Akhirnya aku bisa masuk ke dalam kamarku.

***

Aku berlari tanpa suara menghampiri pintu kamarku. Kubuka pintu tersebut tanpa suara. Aku pun masuk ke dalam kamarku tanpa suara. Dan saat aku hendak membaringkan tubuhku di atas tempat tidurku tanpa suara, seekor tikus tiba-tiba muncul dan berlari kencang hendak keluar dari kamarku; menabrak sapu yang bersandar lemah pada dinding kamar kami.

Duk….

Aku langsung bergegas lari keluar meninggalkan kamarku. Kuraih gagang pintu kamarku. Kucoba untuk membukanya. Dan saat aku berhasil melakukannya, kudapati tepat di depan mataku apa yang paling tidak ingin kudapati dalam situasi seperti ini.

Aku gugup lagi.

Wajahku memerah padam lagi.

Aku malu berat lagi.

Wanita di sebelah kamarku memergokiku tepat di depan pintu kamarku. Tubuhnya menghalangiku lari meninggalkannya. Tidak hanya itu, langkah kakiku pun menjadi lemah seketika. Aku tak bisa bergerak. Aku tak bisa lari.

Wanita di hadapanku mulai memandangi sepasang mata yang hendak kabur ini. Perlahan-lahan mata yang memandangiku tanpa bisa kutolak itu mulai memerah. Saat kucoba memperluas pandanganku, ternyata wajah yang tertempel mata itu pun juga tengah memperlihatkan warna yang sama. Dan saat aku merasakan bahwa kakiku akhirnya telah pulih kembali untuk dapat berlari meninggalkan semua ini, wanita di hadapanku itu menghentikanku.

Duk…, duk….

Ia mengetuk. Kembali mengetuk lagi. Melakukan apa yang selama ini selalu ia lakukan. Melakukan apa yang selama ini selalu kami lakukan.

Ia pun mengangkat tangannya lagi. Dengan hentakan yang sama, dengan bunyi yang sama, bahkan dengan tempo yang sama, ia kembali mengetuk. Dengan cara yang persis sama seperti yang ia lakukan sebelumnya, ia kembali mengetuk dadaku. Tepat, di hadapan detak jantungku.

Ia mengetuk pintu hatiku.

“Dasar wanita bodoh,” kuucapkan kalimat pertamaku seumur hidupku kepadanya. “Kau disiksa. Kau diperkosa. Kau dihajar. Kau dicampakkan. Kau dikhianati. Dan setelah itu semua, kau masih belum juga bisa belajar dari kesalahanmu itu?”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Sebenarnya apa sih yang kau harapkan? Kau berharap nasib mau memanjakanmu? Kau berharap aku dapat menjadi malaikat pelindung bagimu? Kau berharap aku tidak akan pernah mengkhianatimu? Dasar wanita tolol! Aku ini yang terburuk dari semua yang terburuk. Kau hanya akan melanjutkan penderitaanmu kalau bersandar pada manusia brengsek sepertiku. Mengapa kau tak juga belajar dari semua pengalamanmu itu?”

Ia mulai menitikkan air mata.

“Karena itulah kau menderita. Sifat manjamu itulah yang mengundang kesengsaraan datang melingkupimu. Itu salahmu sendiri. Hidup nggak semudah itu sampai orang macam kau bisa berharap dunia mau melindungimu. Belajarlah dari semua ini!”

Ia mulai menangis.

“Ya. Tentu saja. Orang sepertimu nggak akan pernah bisa belajar dari semua ini. Tak peduli seberapa banyak kau akan mengalaminya, kau akan terus terjerumus lagi ke dalam lubang yang sama. Itu sudah menjadi sifatmu. Tak akan pernah bisa berubah. Kau tak akan pernah bisa hidup bahagia selamanya. Semua orang akan selalu datang untuk menyiksamu. Jangan pernah berharap dunia ini dapat berubah menjadi dunia sempurna tanpa kejahatan!”

Ia mulai menangis pilu.

“Orang sepertimu hanya akan berakhir di pemakaman sebelum waktunya. Kalaupun cukup beruntung, kau hanya akan berakhir di rumah sakit jiwa. Dan kalaupun ternyata kau memang benar-benar sangat beruntung sekalipun, kau hanya akan menjalani hidupmu itu dalam kesengsaraan. Sampai kau jadi tua, sampai kau jadi nenek-nenek, sampai kau bau tanah, bahkan sampai kau membusuk dan mati, kau akan selalu menderita. Sifat manjamu itu akan selamanya menjadi kutukan bagimu. Kau tak akan pernah hidup bahagia!”

Ia semakin menangis pilu.

“Karena itulah, mulai dari sekarang, sampai kau jadi tua, sampai kau jadi nenek-nenek, sampai kau bau tanah, bahkan sampai kau membusuk dan mati, aku akan selalu melindungimu. Aku akan selalu melindungimu. Selalu. Melindungimu. Di sisimu. Selamanya. Sampai aku mati.”

Dan ia pun meledak dalam tangisannya.
Kembali Ke Atas Go down
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting : 1110
Points : 1197
Reputation : 18
Join date : 23.07.11
Age : 27
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Re: Cerpen: Mengetuk   Sun 12 Apr 2015 - 15:13

rata rata udah pada pindah ke rumah baru.. hehehe Smile

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
wilfran
Penulis Pemula
Penulis Pemula


Jumlah posting : 56
Points : 76
Reputation : 0
Join date : 02.10.12
Age : 26
Lokasi : Yogyakarta

PostSubyek: Re: Cerpen: Mengetuk   Mon 13 Apr 2015 - 16:49

Ia nih. Udah lama nggak main ke sini, ternyata udah sekarat nih forumnya...

Rumah barunya di mana nih?
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Cerpen: Mengetuk   

Kembali Ke Atas Go down
 
Cerpen: Mengetuk
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Pengen bagi2 cerita ttg safety riding
» SHARING PENGALAMAN - MODIFIKASI MOTOR !!!!!!
» Cerita Plester (plesetan Misteri) "Ninja Menangis di Tengah Malam"
» Crime Story #2 : Akhir Petualangan "Whitey Bulger"
» Catatan Harian si Green Barret

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: