SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...
SINDIKAT PENULIS

Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksIndeks  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  Login  
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison
[Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang) 5 5 2
Share | 
 

 [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7  Next
PengirimMessage
dennypcakrawala
Pendatang Baru
Pendatang Baru


Jumlah posting: 1
Points: 8
Reputation: 2
Join date: 26.07.11
Age: 36
Lokasi: depok

PostSubyek: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Tue 26 Jul 2011 - 11:48

Oleh Denny Prabowo

Sudut Pandang (SP) merupakan salah satu unsur fiksi yang dapat digolongkan sebagai sarana cerita. Meski begitu unsur ini tidak bisa dianggap remeh.Apa yang Anda lihat dan rasakan ketika menyaksikan sebuah mobil menabrak sepeda motor, tentu akan berbeda dengan yang dilihat dan dirasa oleh si pengendara mobil yang menabrak, atau si pengendara sepeda motor yang menjadi korban tabrakan. Akibat dari peristiwa itu pun akan berbeda bagi anda, si pengendara mobil, dan si pengendara motor. Sebab itu, pemilihan SP tidak saja akan mempengaruhi penyajian cerita, tetapi juga mempangaruhi alur cerita.

SP sendiri memiliki pengertian sebagai cara pengarang menempatkan dirinya di dalam cerita. Dengan demikian, SP pada hakikatnya merupakan teknik atau siasat yang sengaja dipilih penulis untuk menyampaikan gagasan dan ceritanya, melalui kaca mata tokoh—atau tokoh-tokoh—dalam ceritanya.

Ragam Sudut Pandang

Friedman (dalam Stevick, 1967:118) mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bisa digunakan untuk membedakan SP. Salah satu pertanyaan itu adalah siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam persona ketiga, atau pertama)? Pembedaan SP yang akan saya kemukakan berikut berdasarkan atas pertanyaan tersebut. Secara garis besar ada dua macam SP, yakni, SP orang pertama dan SP orang ketiga. Hanya kemudian dari keduanya terbentuk variasi-variasai yang memiliki konsekuensi berbeda-beda.

1. SP Orang Pertama Tunggal

Pengarang dalam sudut pandang ini menempatkan dirinya sebagai pelaku sekaligus narator dalam ceritanya. Menggunakan kata ganti “Aku” atau “Saya”. Namun begitu, SP ini bisa dibedakan berdasarkan kedudukan “Aku” di dalam cerita itu. Apakah dia sebagai pelaku utama cerita? atau hanya sebagai pelaku tambahan yang menuturkan kisah tokoh lainnya?

a. “Aku” tokoh utama

Pengarang menempatkan dirinya sebagai tokoh di dalam cerita yang menjadi pelaku utama. Melalui tokoh “Aku” inilah pengarang mengisahkan kesadaran dirinya sendiri (self consciousness); mengisahkan peristiwa atau tindakan. Pembaca akan menerima cerita sesuai dengan yang diketahui, didengar, dialami, dan dirasakan tokoh “Aku”. Tokoh “Aku” menjadi narator sekaligus pusat penceritaan.

Apabila peristiwa-peristiwa di dalam cerita anda terbangun akibat adanya konflik internal (konflik batin) akibat dari pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, atau harapan dari tokoh cerita, SP ini merupakan pilihan yang tepat. Karena anda akan leluasa mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh tokoh cerita anda.

Sambil bermain aku melirik topi lakenku. Kulihat sebuah kursi roda. Duduk di kursi roda itu, seorang tua yang wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas karena memakai topi laken seperti aku. Rambutnya gondrong dan sudah memutih seperti diriku, namun ketuaannya bisa kulihat dari tangannya yang begitu kurus dan kulitnya yang sangat keriput. Tangan itulah yang terangkat dan tiba-tiba menggenggam sebuah gitar listrik yang sangat indah.
(Cerpen Ritchie Blackmore karya Seno Gumira Ajidarma dalam buku Kematian Donny Osmond)



Perhatikan kata: kulihat pada penggalan cerita di atas. Tokoh “Aku” hanya menyampaikan apa yang terlihat oleh matanya. Begitulah, jika anda memilih SP ini, anda tidak mungkin mengungkapkan perasaan atau pikiran tokoh-tokoh lain, selain tokoh “Aku”.

Kebanyakan penulis yang menggunakan SP ini, seringkali terlalu asyik menceritakan (tell) keseluruhan cerita, tanpa berusaha menunjukkan (show) atau memperagakannya. Akibatnya cerita menjadi kurang dramatis. Bahkan bukan tidak mungkin, apabila anda memilih SP ini, anda akan kesulita memperkenalkan tokoh, apakah seorang perempuan atau lelaki. Seno Gumira Ajidarma cukup piawai melukiskan tokoh “Aku” lewat adegan dalam penggalan cerita di atas.

Namun, karena cerita dituturkan oleh tokoh “Aku”, anda harus menulis dengan bahasa tokoh “Aku”, sesuai dengan karakter yang telah anda tetapkan. Apabila tokoh anda lebih tua atau lebih muda dari usia anda, akan mempengaruhi bahasa yang bisa anda gunakan. Sebab itu, mengenali dengan baik karakter tokoh anda menjadi sebuah keharusan.

b. “Aku” tokoh tambahan

Pengarang menempatkan dirinya sebagai pelaku dalam cerita, hanya saja kedudukannya bukan sebagai tokoh utama. Keberadaan “Aku” di dalam cerita hanya sebagai saksi. Dengan demikian, tokoh “Aku” bukanlah pusat pengisahan. Dia hanya bertindak sebagai narator yang menceritakan kisah atau peristiwa yang dialami tokoh lainnya yang menjadi tokoh utama.

Tetangga saya orangnya terkenal baik. Suka menolong orang. Selalu memaafkan. Apa saja yang kita lakukan terhadapnya, ia dapat mengerti dengan hati yang lapang, bijaksana, dan jiwa yang besar. Setiap kali ia mengambil putusan, saya selalu tercengang karena ia dapat melakukan itu dengan kepala yang kering, artinya sama sekali tidak ketetesan emosi. Tidak hanya terhadap persoalan yang menyangkut orang lain, untuk setiap persoalan pribadinya pun ia selalu bertindak sabar dan adil. Banyak orang menganggapnya sebagai orang yang berhati agung.
(Cerpen Pencuri karya Putu Wijaya dalam buku Protes)



Dalam penggalan cerita karya Putu Wijaya di atas, terlihat tokoh “Saya” mengomentari atau memberikan penilaian pada tokoh utama—tetangganya. SP ini memang mirip dengan SP orang ketiga. Hanya saja narator ikut terlibat di dalam cerita. Sebab itu dia menjadi sangat terbatas, tidak bersifat mahatahu. Sebagai narator, tokoh “Saya” hanya mungkin mengomentari apa yang dilihat dan didengar saja. Narator melalui tokoh “Aku” bisa saja mengungkapkan apa yang dirasakan atau dipikirkan tokoh “Dia”, namun komentar itu hanya berupa dugaan dari tokoh “Aku”. Atau kemungkinan berdasarkan apa yang diamati dari gerak tubuh tokoh “Dia” atau karakter dari tokoh “Dia” yang memang telah diketahui secara umum.

2. SP Orang Pertama Jamak

Bentuk SP ini sesungguhnya hampir sama dengan SP orang pertama tunggal. Hanya saja menggunakan kata ganti orang pertama jamak, “Kami”. Pengarang dalam sudut pandang ini menjadi seseorang dalam cerita yang bicara mewakili beberapa orang atau sekelompok orang. Perhatikan petikan di bawah ini.

Kami bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran continental yang brengsek. Kami sebut restoran ini brengsek, sebab kami diwajibkan memasak sambil menangis. Bayangkan! Kami mengaduk kuah buntut sambil menangis. Kami memasak nasi goreng, merebus aneka pasta, membuat adonan pizza, memotong daging ayam, mengupas kentang, semua itu kami lakukan sambil menangis. Begitulah. Setiap hari selalu ada saja airmata yang meluncur dari sepasang mata kami; mengalir membasahi pipi, dagu, dan menetes ke dalam setiap masakan kami.
(Cerpen Resep Airmata karya Noor H. Dee dalam buku Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta)



Dalam SP ini, pembaca mengikuti semua gerak dan tindakan satu orang atau beberapa orang melalui kaca mata sebuah kelompok. Narator dalam cerita yang berbicara mewakili kelompoknya (“Kami”), tidak pernah mengungkapkan jati dirinya kepada pembaca, seakan-akan dia tidak mempunyai jati diri, selain jati diri kelompoknya. SP orang pertama jamak ini bisa anda pilih, jika anda ingin membuat cerita dengan latar sebuah komunitas kecil seperti sekolah, masjid, keluarga, restoran, dll. Anda bisa memusatkan penceritaan pada seorang tokoh yang memiliki masalah dengan lingkungan sekitarnya. Jika ini yang dipilih, maka “Kami” hanya menjadi tokoh tambahan yang menuturkan konflik yang dialami oleh tokoh utama. Atau justru sekelompok orang itu (“Kami”) yang memiliki masalah dengan lingkungannya, seperti yang bisa kita lihat pada cerpen Resep Airmata, karya Nurhadiansyah. Dengan demikian, “Kami” di dalam cerita sekaligus menjadi tokoh utama, sebagai pusat penceritaan.

3. SP Orang Kedua

Pengarang menempatkan dirinya sebagai narator yang sedang berbicara kepada orang lain, menggambarkan apa-apa yang dilakukan oleh orang tersebut. SP ini menggunakan kata ganti orang kedua, “Kau”, “Kamu” atau “Anda” yang menjadi pusat pengisahan dalam cerita.

Kedua lututmu terasa lemas saat kau bersandar pada pemadam api yang baru saja dicat merah, putih, dan biru. Nalurimu ingin berlari mendekati mereka, berteriak, aku juga! Aku juga! Sekarang kau bisa merasakan penyangkalan yang sudah lama sekali kaulakukan; kau ingin berlari dan mengatakan kepadanya tentang kehidupanmu selama tiga puluh satu tahun tanpa dirinya, dan membuatnya berteriak dengan kepastian tanpa dosa: Oh, kau sungguh putri yang cantik!
(Cerpen Main Street Morning karya Natalie M. Patesch, pengarang cerpen asal Amerika)



Pada SP ini pembaca seolah-olah diperlakukan sebagai pelaku utama. Pembaca akan merasa seperti seseorang yang tengah membaca kiriman surat dari kerabat atau orang terdekatnya. Sehingga membuat pembaca menjadi merasa dekat dengan cerita, karena seolah-oleh dialah pelaku utama dalam cerita itu.

4. SP Orang Ketiga Tunggal

Pengarang menempatkan dirinya sebagai narator yang berada di luar cerita, atau tidak terlibat dalam cerita. Dalam SP ini, narator menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut namanya, atau kata gantinya; “Dia” atau “Ia”

SP orang ketiga dapat dibedakan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap cerita. Pada satu pihak, pengarang atau narator dapat bebas mengungkapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh “Dia”. Di pihak lain, pengarang atau narator tidak dapat leluasa menguangkapkan segala hal yang berhubungan dengan tokoh “Dia”, atau dengan kata lain hanya bertindak sebagai pengamat.

a. SP Orang Ketiga Mahatahu

SP ini sering juga disebut SP ‘mata tuhan’. Sebab dia berlaku seperti ‘tuhan’ terhadap tokoh-tokoh di dalam ceritanya. Pengarang atau narator mengetahui segala hal tentang tokoh-tokohnya, peristiwa, dan tindakan, termasuk motif yang melatarbelakanginya. Dia bebas berpindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Bahkan, pengarang bebas mengungkapkan apa yang ada dipikiran serta perasaan tokoh-tokohnya.

“Ya ampun, luar biasa mimpiku ini,” kata Tomas sambil menghela napas, kedua tangannya memegang setir, memikirkan roket, wanita, wiski yang aromanya menyengat, rek kereta api di virginia, dan pesta tersebut.
Sungguh visi yang aneh, pikir makhluk Mars itu, sambil bergegas membayangkan festival, kanal, perahu, para wanita dengan mata berkilauan bagai emas, dan aneka lagu.
(Cerpen Agustus 2002: Night Meeting karya Ray Bradbury)



Dalam SP ini, pengarang bebas memasuki pikiran dua atau tiga orang dan menunjukkannya pada pembaca. Seperti contoh di atas, pengarang seakan tahu apa yang ada di pikiran Tomas, pada saat yang bersamaan dia juga mengetahui apa yang ada di pikiran makhluk Mars.

b. SP Orang Ketiga Terbatas

Dalam SP ini, pengarang juga bisa melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikirkan dan dirasakan oleh tokoh ceritanya. Namun hanya terbatas pada satu tokoh, atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas (Stanton, 1965:26). Pengarang tidak leluasa berpindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Melainkan terikat hanya pada satu atau dua tokoh saja.

Selalu ada cita-cita di dalam benaknya, untuk mabuk dan menyeret kaki di tengah malam, menyusuri Jalan Braga menuju penginapan. Ia akan menikmati bagaimana lampu-lampu jalan berpendar seperti kunang-kunang yang bimbang; garis-garis bangunan pertokoan yang—yang berderet tak putus—acap kali menghilang dari pandangan; dan trotoar pun terasa bergelombang seperti sisa ombak yang menepi ke pantai.
(Cerpen Lagu Malam Braga karya Kurnia Effendi dalam buku Senapan Cinta)



Dari contoh di atas, tampak Kurnia Effendi sebagai pengarang masuk ke dalam benak tokoh “Ia” dan menyampaikan isi kepala tokohnya itu kepada pembaca. Hal ini mirip SP orang ketiga mahatahu. Hanya saja terpadas pada satu orang tokoh saja yang merupakan tokoh utama.

c. SP Orang Ketiga Objektif

Pengarang atau narator dalam SP ini bisa melukiskan semua tindakan tokoh-tokohnya, namun dia tak bisa mengungkapkan apa yang dipikirkan serta dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Dia hanya boleh menduga apa yang dipikirkan, atau dirasakan oleh tokoh ceritanya.

Si lelaki tua bangkit dari kursinya, perlahan-lahan menghitung tatakan gelas, mengeluarkan pundi-pundi kulit dari kantungnya dan membayar minumannya dan meninggalkan persenan setengah peseta
Si pelayan mengikutinya dengan mata ketika si lelaki tua keluar ke jalan, seorang lelaki yang sangat tua yang berjalan terhuyung-huyung tetapi tetap dengan penuh harga diri.
“Kenapa tak kau biarkan saja dia minum sampai puas?” tanya si pelayan yang tidak tergesa-gesa. Mereka berdua sedang menurunkan semua tirai. “Hari belum lagi jam setengah dua.”
“Aku ingin cepat pulang dan tidur.”
( Cerpen Tempat yang Bersih dan Terang karya Ernest Hemingway dalam buku Salju Kilimanjaro)



Seperti ternampak pada penggalan cerita karya Ernest Hemingway di atas, narator hanya berlaku seperti wartawan yang tengah melaporkan sebuah peristiwa. Posisinya sejajar dengan pembaca. SP ini menuntut ketelitian dalam mencatat dan mendeskripsikan peristiwa, tindakan, latar, samapi ke detil-detil yang terkecil. Narator tak ubahnya sebuah kamera yang merekam dan mengabadikan sebuah objek.

5. SP Orang Ketiga Jamak

Pengarang menjadi narator yang menuturkan cerita berdasarkan persepsi atau kaca mata kolektif. Narator akan menyebut tokoh-tokohnya dengan menggunakan kata ganti orang ketiga jamak; “Mereka”.

Pada suatu hari, ketika mereka berjalan-jalan dengan Don Vigiliani dan dengan beberapa anak lelaki dari kelompok pemuda, dalam perjalanan pulang, mereka melihat ibu mereka di sebuah kafe di pinggir kota. Dia sedang duduk di dalam kafe itu; mereka melihatnya melalui sebuah jendela dan seorang pria duduk bersamanya. Ibu mereka meletakkan syal tartarnya di atas meja…
(Cerpen Mother karya Natalia Ginzburg, pengarang asal Italia)



Pada hakikatnya, SP ini mirip dengan SP orang pertama jamak. Pembaca menerima semua gerak dan tindakan satu orang atau beberapa orang melalui kaca mata sebuah kelompok. Perbedaannya ada pada posisi narator yang berada di luar cerita, tidak terlibat dalam cerita yang dituturkannya melalui kaca mata tokoh “Mereka”.

6. SP Campuran

Sebuah novel mungkin saja menggunakan lebih dari satu ragam SP. Bahkan, belakangan ini, SP campuran tak hanya digunakan dalam novel saja, tetapi juga digunakan di dalam cerpen. Pengarang menempatkan dirinya bergantian dari satu tokoh ke tokoh lainnya dengan SP yang berbeda-beda menggunakan “Aku”, “Kamu”, “Kami”, “Mereka”, atau “Dia”.

Seketika mata Masayu membuka. Lewat pukul sembilan malam ketika lubang pernafasaannya membaui aroma dari daging yang terbakar. Matanya membelalak menyaksikan api merambat cepat. Dia merasakan panas di sekujur tubuhnya.
***
Pernahkah dalam hidupmu, kau merasakan kebencian yang teramat hebat? Sehingga apapun yang ada di kepalamu selalu tentang bagaiman cara melampiaskannya?
Kami hanya dua gadis lugu yang tak pernah tahu arti membenci. Sebelum perceraian Mami dan Papi menyadarakan kami akan arti memiliki. Kami baru menyadari kalau selama ini kami tak pernah benar-benar memiliki Mami. Mungkin juga begitu yang dirasakan oleh Papi. Sehingga dia lebih memilih berpisah dengan Mami, dari pada hidup bersama tetapi tidak merasa memiliki.
Namanya Melly. Tubuhnya tak lebih dari dua puluh centi. Bulunya kuning pudar dimakan usia. Hidungnya bulat berwarna cokelat tua. Moncongnya putih gading. Kau pasti menduga kalau Melly seekor binatang piaraan? Hampir tepat. Dia memang menyerupai binatang. Tapi bukan binatang. Karena dia tidak bernyawa. Dia hanya sebuah boneka. Boneka beruang kepunyaan Mami. Tapi meski hanya sebuah boneka beruang, di mata Mami, Melly lebih manusia dari manusia. Sehingga ia harus diperlakukan dengan istimewa. Sampai-sampai Mami lupa kalau dia memiliki dua orang putri berusia 13 dan 10 tahun. Dua orang putri bernama Bening dan Rani—kami—yang lebih butuh perlakuan istimewa darinya.
(Cerpen Melly karya Denny Prabowo)



Pada paragraf pertama digunakan sudut pandang “Dia” tokoh Masayu. Pengarang berada di luar cerita. Namun pada paragraf berikutnya pengarang menempatkan dirinya sebagai “Kami” yang berbicara pada “Kau”. Itu berarti, pengarang menjadi pelaku sekaligus narator di dalam ceritanya. Sebagai narator, tokoh “Kami” bertutur tentang tokoh lainnya bernama Melly.

Dalam penggunaan SP campuran, dimungkinkan terjadi pergantian pusat penceritaan dari seorang tokoh ke tokoh lainnya. Dengan begitu, pembaca akan memperoleh pandangan terhadap suatu peristiwa atau masalah dari beberapa tokoh.

***
Demikianlah pembahasan sederhana mengenai sudut pandang. Dengan mengetahui ragam dari sudut pandang, kamu dapat menggunakannya sebagai teknik penceritaan. Selamat mencoba!
Kembali Ke Atas Go down
http://dennyprabowo.blogspot.com
tukangtidur
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 826
Points: 983
Reputation: 19
Join date: 30.04.10
Age: 32
Lokasi: Depok

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Tue 26 Jul 2011 - 13:45

Top Top Top
Terima kasih mas Denny! Tulisan yang sangat bermangpaat!
Kembali Ke Atas Go down
http://zonakosong.tk
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 1109
Points: 1196
Reputation: 18
Join date: 23.07.11
Age: 24
Lokasi: Bandung

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Tue 26 Jul 2011 - 16:15

penokohan itu asik Very Happy

saya sih banyak belajar dari bukunya Olson Scott Card, yang judulnya "mencipta sosok fiktif" sangat berguna..
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
tukangtidur
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 826
Points: 983
Reputation: 19
Join date: 30.04.10
Age: 32
Lokasi: Depok

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Tue 26 Jul 2011 - 16:24

ilhammenulis wrote:
penokohan itu asik Very Happy

saya sih banyak belajar dari bukunya Olson Scott Card, yang judulnya "mencipta sosok fiktif" sangat berguna..
Tertarik nih. Dikau share dung buku2 tentang penulisan yang bagus-bagus (selain buku om Orson itu), supaya bisa bikin novel secihuy Sense nih.
bounce bounce bounce
Kembali Ke Atas Go down
http://zonakosong.tk
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 1109
Points: 1196
Reputation: 18
Join date: 23.07.11
Age: 24
Lokasi: Bandung

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Tue 26 Jul 2011 - 17:43

sayangnya baru itu yang saya baca bang.. makannya skill saya masih belom komplit nih..
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati


Jumlah posting: 3494
Points: 3669
Reputation: 52
Join date: 29.03.11
Age: 28
Lokasi: Bekasi

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Fri 19 Aug 2011 - 21:05

Top

wah aku baru tau soal SP campuran...soalny aku mikirny apa bkn malah gak konsisten tuh ceritany klo SP diubah2 seakan tokohny ada bnyk??? tp trnyta bisa, wah makin asik nih nulis...

aku makin ngrasa klo yg namany nulis itu perlu kebebasan tak terbatas, tinggal kitany...apa cukup berani buat ngungkapin kebebasan itu???
Kembali Ke Atas Go down
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 1109
Points: 1196
Reputation: 18
Join date: 23.07.11
Age: 24
Lokasi: Bandung

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Thu 25 Aug 2011 - 6:57

de_wind wrote:
Top

wah aku baru tau soal SP campuran...soalny aku mikirny apa bkn malah gak konsisten tuh ceritany klo SP diubah2 seakan tokohny ada bnyk??? tp trnyta bisa, wah makin asik nih nulis...

aku makin ngrasa klo yg namany nulis itu perlu kebebasan tak terbatas, tinggal kitany...apa cukup berani buat ngungkapin kebebasan itu???

novel dengan sudut pandang campuran yang pernah saya baca tuh The Bartimaeus Trilogy.. satu tokoh SP pertama, satu lagi SP 3.. kereeen Very Happy

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
tukangtidur
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 826
Points: 983
Reputation: 19
Join date: 30.04.10
Age: 32
Lokasi: Depok

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Thu 25 Aug 2011 - 8:33

ilhammenulis wrote:
de_wind wrote:
Top

wah aku baru tau soal SP campuran...soalny aku mikirny apa bkn malah gak konsisten tuh ceritany klo SP diubah2 seakan tokohny ada bnyk??? tp trnyta bisa, wah makin asik nih nulis...

aku makin ngrasa klo yg namany nulis itu perlu kebebasan tak terbatas, tinggal kitany...apa cukup berani buat ngungkapin kebebasan itu???

novel dengan sudut pandang campuran yang pernah saya baca tuh The Bartimaeus Trilogy.. satu tokoh SP pertama, satu lagi SP 3.. kereeen Very Happy
Atau baca aja My Name is Red-nya Orhan Pamuk. SP nya unik-unik tuh Very Happy


Kembali Ke Atas Go down
http://zonakosong.tk
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 1109
Points: 1196
Reputation: 18
Join date: 23.07.11
Age: 24
Lokasi: Bandung

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Thu 25 Aug 2011 - 10:07

hooo... baru denger aja. belom pernah baca

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
i_ang minoyuki
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 529
Points: 571
Reputation: 10
Join date: 26.07.11
Age: 21

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Sat 3 Sep 2011 - 13:37

SP? SP?
Sudut Pandang? Sindikat Penulis!! Hhahaha...

#gapenting

*OOT*
Kembali Ke Atas Go down
http://indriangganaanindita.blogspot.com
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati


Jumlah posting: 3494
Points: 3669
Reputation: 52
Join date: 29.03.11
Age: 28
Lokasi: Bekasi

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Sat 3 Sep 2011 - 15:33

i_ang minoyuki wrote:
SP? SP?
Sudut Pandang? Sindikat Penulis!! Hhahaha...

#gapenting

*OOT*


MIMIIIIINNN.......!!!!
ceritany ngadu gtu... wkwkwkk... Twisted Evil
Kembali Ke Atas Go down
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 1109
Points: 1196
Reputation: 18
Join date: 23.07.11
Age: 24
Lokasi: Bandung

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Sat 3 Sep 2011 - 20:34

OOT dikit boleh laaah~ ahahahaha

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
i_ang minoyuki
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 529
Points: 571
Reputation: 10
Join date: 26.07.11
Age: 21

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Sat 3 Sep 2011 - 22:16

de_wind wrote:
i_ang minoyuki wrote:
SP? SP?
Sudut Pandang? Sindikat Penulis!! Hhahaha...

#gapenting

*OOT*


MIMIIIIINNN.......!!!!
ceritany ngadu gtu... wkwkwkk... Twisted Evil

kamu ga akan bisa ngaduin diri aq kalo aq ngaduin diri aq duluan ke mimin!
*buru2 kabur nyari mimin*
MIMIIIIINNNN!!!!! Aq OOT tuh!

ilhammenulis wrote:
OOT dikit boleh laaah~ ahahahaha

dibela kang ilham Nangis >> ceritanya terharu
Kembali Ke Atas Go down
http://indriangganaanindita.blogspot.com
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati


Jumlah posting: 3494
Points: 3669
Reputation: 52
Join date: 29.03.11
Age: 28
Lokasi: Bekasi

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Mon 5 Sep 2011 - 12:31

i_ang minoyuki wrote:

kamu ga akan bisa ngaduin diri aq kalo aq ngaduin diri aq duluan ke mimin!
*buru2 kabur nyari mimin*
MIMIIIIINNNN!!!!! Aq OOT tuh!

ilhammenulis wrote:
OOT dikit boleh laaah~ ahahahaha

dibela kang ilham Nangis >> ceritanya terharu


Muke Cape yg belain aku siapa??? Nangis

ah makasi nih sm om denny, berkat beliau jd dpet inspirasi soal sudut pandang dlm nulis...
"kami" jadi peran utama, dan "aku" jd SP org pendamping...kurang lebih gtu deh...
moga2 berhasil... :sunny:
Kembali Ke Atas Go down
i_ang minoyuki
Penulis Senior
Penulis Senior


Jumlah posting: 529
Points: 571
Reputation: 10
Join date: 26.07.11
Age: 21

PostSubyek: Re: [Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)   Mon 5 Sep 2011 - 12:35

good luck ngin! Main Biola
Kembali Ke Atas Go down
http://indriangganaanindita.blogspot.com
 

[Tips Menulis Fiksi] Point of View (Sudut Pandang)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 7Pilih halaman : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7  Next

 Similar topics

-
» Lomba Menulis Cerpen
» Pelatihan Menulis di Kalangan Masyarakat Perdesaan
» simbol untuk chat dan menulis status di facebook
» cara hack ID Point Blank
» Hack Char Point Blank

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Bengkel Menulis :: Tips & Trik Menulis-