SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Angel to fly

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Angel to fly   Sun 12 Aug 2012 - 23:23

Angel to fly

Aku terbangun dari tidurku ketika mendengar suara angin menderu seperti siulan panjang bocah laki-laki. Ranting-ranting pohon oak bergerak berirama mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil rumah trailer. Menimbulkan gaduh gemertak cukup membuatku tidak dapat melanjutkan tidur. Lagi pula seperti hari-hari sebelumnya, ini saatnya aku untuk bangun. Walau sekujur tubuhku masih ingin beristirahat, rehat sejenak . Pikiranku masih ingin di ayun-ayunkan mimpi. Masih menikmati keindahan alam bawah sadar. Tapi saat ini aku harus bangun.

Mataku terasa sangat berat untuk di buka, sekujur tubuhku juga masih tersisa letih. Ada yang tidak beres dengan tubuhku. Seperti beruang yang harus berhenti hibernasi lebih cepat di karenakan sinar matahari yang menerobos masuk ke lubang peristirahatan mereka. Matahari yang pongah ingin segera menunjukan keperkasaannya. Di ikuti segerombolan tunas muda berkejaran tidak sabar ingin secepatnya melihat kehidupan. Bunga-bunga kembali mekar memamerkan kecantikan kelopaknya, menyambut awal musim semi. Burung-burung berkicau memekakkan telingga beruang. Menyadarkannya dari tidur panjang, membawanya kembali ke realita dimana hidup ia harus berjuang mencari makan. Sungguh beruang yang malang.

Dengan langkah tertatih-tatih aku menggerakkan badanku mendekati kaca jendela. Sambil memegang kepalaku yang berdenyut, aku mengamati keadaan dunia luar di balik rumah trailer ini. Pohon oak tua yang berdiri persis di sebelah kaca trailer ini tampak menakutkan seolah-olah ada yang bersembunyi di baliknya dengan ranting yang masih saja memukul pelan jendela. Walaupun aku bukan anak kecil lagi seketika nyaliku menciut juga, darahku berdesir. Mengingat di tengah malam mencekam ini aku seorang diri.

Teringat lagi kejadian tiga tahun yang lalu. Kejadian yang membuat hidupku berubah. Kejadian yang membawaku terperangkap dalam ruang sempit ini seorang diri. Sepulang sekolah, ratusan anak keluar dari gerbang. Persis sekumpulan lebah. Rambut pirang panjangku tertiup angin. Kekiri dan kekanan, sebagian menutupi wajahku. Ku ikat membentuk jepolan agar tidak berseliweran. Angin musim gugur kali ini menemani perjalanan pulangku. Aku melewati pedestrian. Dimana jalanan cukup lenggang. Di kanan kiri ditumbuhi pohon poplar. Perjalananku cukup khusyuk tak ada suara bising yang mengganggu sampai kakiku melewati taman kota.

“psst..psst”, suara isyarat memanggil seseorang. Aku terus berjalan tidak memperdulikannya.

“hei, Angel!”,teriaknya. Aku menghentikan langkahku. Mataku mencari-cari dimana suara itu berasal. Di depanku kini berdiri cewek seumuran denganku berambut hitam bergelombang, berwajah hispanik, hidungnya lancip dan tegas. Dia Sarra. Teman sekolahku dulu, sudah dua bulan ini dia tidak sekolah. Ada desas-desus ia kabur dari rumah dan bergabung dengan sekumpulan anak punk. Sarra menatapku gembira. Aku tahu dia merindukanku. Aku memandang curiga padanya.

“Untuk apa dia memanggilku”, batinku.

“sudah ayo ikut aku, nanti kau juga tau”, ujarnya.

“Memangnya apa”, Tanyaku dalam hati

“Sudah nanti saja, aku ceritakan semuanya”ujarnya riang, dasar Sarra dia selalu tahu apa yang ada di hatiku. Mungkin karena ekspresiku mudah sekali di tebak. Aku termasuk tipe orang yang tidak mudah menyembunyikan ekspresi.
Dengan berbagai pertanyaan di kepala , Sarra menarik tanganku menuju taman bermain. Sambil duduk di ayunan. Dia mengatakan betapa ia kangen padaku. Memang aku teman yang paling dekat dengannya dulu. Terus terang sekarang aku takut padanya. Dengan beredarnya gosip tentangnya di sekolah.

“kau tahu, aku mengalami hari-hari yang paling menyenangkan selama aku hidup. Rasanya sayap-sayapku tumbuh dan membentang”, serunya dengan mata hitam berbinarnya sambil membentangkan kedua tangannya menirukan burung terbang.

“Di tempat baruku sekarang tidak ada yang saling menyakiti. Kita semua satu saudara. Tidak ada kebencian. Tidak ada yang di bedakan. Hanya ada cinta. Seperti surga bukan? Kalau ada yang berani menyakiti salah satu dari kita, nyawa mereka taruhannya”ujar Sarra lagi.

“kau harus mencobanya”, ajaknya. Tepat seperti dugaanku. Lagi-lagi aku diam.

“kau pasti sudah teracuni omongan anak-anak kelas A. kelebihan otak tapi tak memiliki perasaan. Yang ada di kepalanya cuma kalkulus dan aljabar. Mereka bilang begitu karena tidak tahu brengseknya kehidupan keluarga kita. Coba saja mereka menggantikan tempatku satu hari saja, sudah pasti hidup mereka berakhir dengan menegak racun”.

“aku tidak tahu apa yang kamu omongkan”, jawabku masih duduk di ayunan tanpa mendorongnya. Hanya memaju mundurkan kaki perlahan.

“Kau jangan belagak bodoh, bukannya dari dulu kau ingin pergi dari rumah? Oh iya aku lupa kau juga anak kelas A, jangan-jangan kau sudah tidak memiliki perasaan, kau betah saja di perlakukan oleh orangtuamu seperti itu. Cuih orangtua? Mereka tidak pantas di sebut itu. Mereka sampah cuma sampah yang kebetulan di titipi tubuh kita. Tugas mereka telah selesai ketika mereka berhasil mengeluarkan kita”. Ledaknya berapi-api. Matanya tersimpan dendam. Aku tertunduk. Sebentar lagi Sarra pasti mengucapkan magic wordnya.
Aku tidak mau dengar. Aku tidak mau dengar.

“Robert masih sering menganggu tidurmu?”bisiknya dengan suara seringan ranting pohon yang jatuh dari ketinggian. Tapi terasa menggelegar seperti petir menyambar gendang telingaku. Sarra telah melepaskan senjata utamanya. Tepat menembus jantung pertahananku. Pertanyaan yang membawaku ke kejadian paling menyakitkan. Kejadian yang tak ingin ku ingat.

Robert Cornelius Hombert, orang yang seharusnya menjadi malaikat pelindung utamaku. Orang yang seharusnya jadi matahari kehidupanku. Orang yang seharusnya aku hormati, kasihi dan kusanjung. Tapi dia tetaplah Robert. Robert yang mabuk-mabukan. Robert yang berbicara kasar padaku dan ibuku yang sakit-sakitan. Robert yang sering menghadiahiku dan ibuku luka lebam di seluruh tubuh. Orang yang menanamkan benihnya di rahim ibuku. Orang yang memberikan warisan genetiknya untukku. Orang yang akhir-akhir ini menganggu malam-malamku.

Robert sering mengentayangi tubuhku. Tangan kasarnya perlahan menyentuh pipiku. Memberikan kecupan di dahiku. Aku sudah terbangun waktu itu. Tapi aku pura-pura masih tidur. Tidak menghiraukannya. Jujur aku takut. Takut akan terjadi yang jauh lebih buruk apabila dia tahu aku telah bangun. Tangannya perlahan turun tepat ke dadaku. Meremasnya keras. Itu pertama kali dia melakukannya. Kemudian mimpi burukku pun dimulai. Sejak itu tiap malam ia mengulangi aksinya. lebih menyakitiku. Tangannya mulai menggerayangi selangkanganku. Aku hanya diam. Aku takut. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan. Aku hanya perempuan berusia tiga belas tahun. Kadang kala dia hanya menciumi bibirku lalu dia menangis. Orang sebrengsek dia juga bisa mengeluarkan air mata. Dalam tangisnya, ada sesal terucap.

“apa yang aku perbuat, maafkan aku bidadari kecilku. Aku sakit. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa menghentikan ini” kemudian ia menciumi rambut panjangku dan keluar dari kamarku. Air mataku tak kusadar juga meleleh bukan karena kata-kata penyesalannya tapi pada nasibku sendiri. Kenapa aku tertimpa takdir sekejam ini. Malam itu aku menangis dalam diam. Tangis yang melarut dalam tidurku.

“hei Angel, kau masih disitu?” Tanya Sarra membuyarkan lamunanku. Dengan mengibaskan tangan kanannya tepat di depan wajahku.

“Sudah lah jangan kau ingat-ingat lagi, kalau kau ikut bersamaku kau tak perlu melewati serangkaian mimpi buruk yang terus berulang. Kau sadar, kau harus menghentikannya.” Ujarnya persis provokator. Memang benar yang dikatakannya. Aku harus menghentikan kegilaan ini semua. Sebelum semuanya bertambah memburuk.

“tapi aku tidak sekuat kamu Sar, aku tidak bisa membayangkan jika harus hidup menggelandang sepertimu”

“apa yang kau takutkan?”, Dengan nada setengah mengejek. Aku tahu ia pasti menganggapku anak kecil yang tidak punya keberanian yang sama seperti dirinya. Tapi bukannya menjawab lidahku kelu, bibirku tertutup rapat. Aku tidak mampu menjawab pertanyaan sederhananya itu.

Jiwaku seperti terbagi dua. Separuh diriku ingin sekali melakukan yang sama dengannya, separuhnya lagi diriku tidak berani. Membayangkan hal yang serba belum pasti. Kedengarannya sangat menyenangkan tapi apakah memang seindah itu. Toh kehidupanku sudah terlalu buruk. Hal buruk apalagi yang mungkin menimpaku. Aku sudah terbiasa melewatinya. Aku tidak perlu ikut dengan Sarra menuju kehidupan yang serba tidak pasti seperti apa bentuknya. Aku putuskan untuk tetap menjalani kehidupanku seperti sewajarnya. Tetap sekolah. Tetap berteduh di rumah. Tetap menjadi anak baik-baik. Demi kehidupan yang lebih baik. Dengan title sarjana nantinya akan mempermudahku mendapat pekerjaan yang ideal. Toh nilai-nilaiku di sekolah juga memuaskan. Aku masuk dalam kelas A. rata-rata memiliki nilai A. tidak seperti Sarra.

“aku nggak bisa menemanimu Sar, kita punya kehidupan yang berbeda sekarang. Biarlah aku dengan kehidupanku yang brengsek ini. Akan ku jalani, lima tahun lagi aku akan lulus sekolah dan melanjutkan kuliahku dengan beasiswa di London. Agar aku bisa mewujudkan mimpi indahku dan menutup penggalan mimpi burukku di Marin county”, jawabku sambil beranjak pergi meninggalkannya.

Aku berjalan meninggalkan sarra. Dia masih duduk di ayunan taman. Aku tahu dia masih menatap kearahku masih berharap aku berubah pikiran. Ada rona kekecewaan di wajah tegasnya. Ingin aku balik badan melihatnya. Tapi aku urungkan, aku tidak ingin dia berharap suatu saat aku mengiyakan ajakannya. Sayup-sayup terdengar ia berteriak lantang.

“kalau kau berubah pikiran aku berada di rumah kosong Novato street 32. aku akan ada selalu untuk mu, ingat itu Angel. BFF (Best Friend Forever). Selamanya “. Aku tak kuasa untuk menahannya lagi. Aku menoleh kearahnya. Hanya memberikan senyuman datar.

Aku masih ingat jelas percakapan itu. Tiga tahun yang lalu. Tapi masih saja terngiang-ngiang di memori otakku. Apalagi kalimat terakhir yang aku ucapkan lantang di hadapan Sarra. Seandainya waktu itu aku mau menerima ajakannya langsung. Mungkin keadaanku jauh lebih baik ketimbang saat ini.
Saat ini aku membelakangi kaca jendela. Membenamkan diri di kursi. Sekelilingku bertebaran benda yang tidak terletak pada tempatnya. Tumpukan piring yang seminggu tidak tercuci. Asbak yang berisi potongan putung rokok berjejalan sampai abu rokok berhamburan keluar.

Aku terlalu malas untuk membereskannya. Lagi pula tempat ini juga tidak layak disebut rumah. Hanya mobil trailer yang di sulap seadanya dan dijadikan tempat bernaung dari hujan dan panas. Jadi buat apa menatanya rapi. Di tata rapi juga tetap saja trailer. Entah berapa uang yang mesti aku kumpulkan semuanya seakan hilang tergerus.

Pikiranku masih memutar rekaman kejadian tiga tahun yang lalu. Malam hari setelah aku bertemu Sarra di taman. Keadaan rumah sama seperti biasanya. Temaram. Ibuku tengah tidur-tiduran di kamar atas, setelah menyuapinya makan dan membungkus badannya dengan selimut tebal. Aku segera turun menuju kamarku. Masih terdengar suara batuk maratonnya. Sebenarnya ia bisa makan dan berjalan sendiri, tapi aku bersikeras menyuapinya.

Dari lorong ruang tengah aku melihat Robert tengah menonton football. Tangannya memegang botol bir. Di bawah sofanya tergeletak botol-botol bir kosong. Dia sudah menghabiskan berapa banyak botol bir malam ini. Aku berjalan berjinjit menuju kamarku. Kamar sialan ini tidak memiliki kunci. Pintunya saja sudah sangat susah untuk ditutup.

Di atas ranjang aku berdoa agar malam ini aku luput dari gangguannya. Tidurku sudah sangat nyenyak waktu itu sampai tengah malam aku terbangun karena perut gendutnya ia menindih tubuhku. Dia nyaris memerkosaku. Melucuti pakaianku. Membuka kasar celanaku. Mata merahnya menatap nyalang ke arahku. Kali ini aku tidak dapat pura-pura tidur lagi. Aku teriak. Aku menjerit sejadi-jadinya. Terdengar suara batuk ibuku. Dan langkah kaki yang semakin lama semakin dekat. Aku meronta. Tanganku dalam gelap mencari-cari sesuatu yang dapat menyelamatkan hidupku. Tanpa pikir panjang aku hujamkan benda lancip ini ke dadanya.

Dia tersungkur. Setelah beberapa kali menggeram dan menggelepar. Darah merembes keseluruh tempat tidurku. Aku masih terus menusuknya berkali-kali. Terus dan terus. Dengan pisau yang sengaja aku sisipkan di balik bantalku. Tanganku berhenti ketika aku mendengar jeritan ibuku dari pintu kamarku. Wajahnya tampak sangat ketakutan waktu itu. Wajah yang selalu terpatri di otakku. Aku tak bisa melupakannya. Alis mata yang menurun. Pandangan mata yang membelalak tajam ke arahku. Bibirnya terbuka. Dia menjerit sekitar dua menit kemudian di ganti dengan isakan perlahan. Tulang-tulangnya serasa mengeropos tak mampu lagi menyangga tubuhnya. Ia terduduk lemas di pintu kamar. Ia tidak mampu mendekatiku.

“kenapa kau lakukan itu”,ucapnya di sela-sela rintihan tangisnya. Aku terpaku. Tidak tahu harus berbuat apa. Hanya menatap kosong kearah perempuan tua sakit-sakitan itu. Aku seorang pembunuh. Pembunuh ayah kandung sendiri. Pembunuh. Sayup-sayup aku mendengar kata-kata yang tak terdengar secara kasat. Hanya jiwaku. Memberondongku dengan berbagai pernyataan menghakimiku. Selanjutnya aku mendengar pembelaan. Aku cuma ingin mencari jalan keluar. Ini satu-satunya jalan keluar yang dapat aku lakukan. Sebelum hidupku jauh bertambah runyam. Bertambah runyam? Bodoh? Justru ini jauh lebih buruk. Seluruh masa mudamu harus kau jalani di tahanan. Tubuhku bergetar. Merasakan ketakutan mendalam.

“cepat kau pergi dari sini, bersihkan tubuhmu”, seru ibu setelah ia dapat menguasai dirinya kembali. Aku langsung menurutinya. ia mengambil alih pisau itu. ia rebut kaos longgar selututku yang di penuhi darah. selanjutnya aku tak tahu apa yang akan ia lakukan dengan kaos di penuhi darah Robert itu. aku mengguyur tubuhku dengan shower. Darah mengalir memenuhi lantai kamar mandi. Anyir darah tercium. Ku gosok terus kuku tanganku. Seolah darah Robert terus melekat di sana.

“lebih baik kau pergi dari rumah ini” ujar ibu datar. Lagi-lagi aku langsung menurutinya. Aku pergi lewat pintu belakang. Suara sirene polisi terdengar meraung mendekati rumahku. Dari kejauhan aku melihat perempuan tua sakit-sakitan itu di borgol dengan memakai kaos di penuhi darah. Dia mengaku melakukan pembunuhan Roberth-suaminya. Aku menangis dalam diam.

Aku pun berlari terus berlari. Menjauhi suara sirene ambulan dan mobil polisi. Menjauhi keramaian warga. Terus mendekati kegelapan. Mataku mencari-cari Novato street 32. Terlihat bangunan tinggi dengan lampu temaram. Halamannya tidak terurus. Ada keramaian di dalam sana. Akupun mendekatinya.

Di sinilah aku sekarang. Entah berapa banyak laki-laki yang sudah mencicipi tubuhku. Merengkuh kenikmatan lekuk tubuhku. Di malam hari lebih banyak yang mengenal aku. Mereka terus menyebutku Angel, sesuai dengan nama asliku. Angel Lorrianne Dawn. Padahal aku selalu menyembunyikan nama asliku itu. Kadang aku jadi Daisy, kadang kala Marry, Jeany, Lolita, Cassandra tapi mereka semua menyebutku Angel. Kata mereka aku lebih cocok menjadi Angel. Seperti bidadari. Keindahan yang sangat mereka hargai. Tidak seperti siang hari. Bila orang menanyakan namaku. Aku jawab sejujurnya mereka malah tertawa. Nama itu terlalu agung untukku. Kata mereka wanita sepertiku tidak pantas bernama Angel.

Dari sela-sela pohon oak aku dapat melihat di kejauhan barisan semak berayun menari-nari lincah menantikan kedatangan hujan. Tarian hujan siap di mainkan. Genderang petir dan guruh turut meramaikan pesta alam. Akan ada badai malam ini, gumamku. Itu artinya aku tidak dapat makan sama seperti beruang, bahkan lebih parah kebutuhan manusia jauh lebih kompleks dari sekedar tidak makan. Aku masih harus melunasi pinjaman –pinjamanku di Martha. Membeli parfum dan make up. Sisanya aku coba untuk menabung entah untuk apa, nanti suatu saat mungkin akan berguna. Aku juga ingin memiliki pekerjaan tetap dengan modal pendidikan.

Martha temanku di jalan yang sangat baik padaku. Umurnya dua tahun di atasku. Ia memiliki kehidupan yang sedikit lebih baik dariku. Ia masih memiliki kakak yang setiap bulan memberinya kiriman. Aku juga sering nginap di apartemen kumuhnya. Suatu malam di mana hujan mengguyur dengan derasnya. Akupun berteduh di tempatnya. Sambil menyeruput hot coklat, kami berdua terhenyak. Di televisi di siarkan ada psikopat sedang berkeliaran di sekitar California. Sampai saat ini sudah ada tiga korban. Di temukan di tiga lokasi yang berbeda. Mereka semua perempuan bayaran. Berusia sangat muda 14- 19 tahun. Sama seperti kami. Perempuan-perempuan korbannya itu di temukan dengan kondisi mengenaskan. Dengan wajah dan sekujur tubuh lebam, seperti sebelum di bunuh di siksa terlebih dahulu. Luka goresan pisau terpapar di sekujur tubuhnya dan yang membuatnya di ketahui bahwa ketiga korban itu memiliki pembunuh yang sama yaitu adanya kesamaan bahwa ketiga korban kehilangan bibir mereka. Pembunuhnya mengambil dari mereka, entah di ambil dalam kondisi hidup atau telah mati. Tetap saja perbuatannya sangat keji.

Akhir-akhir ini aku juga merasa ada yang mengamatiku dari jauh. Sering kali aku melihat di ujung lorong jalan terparkir Cadillac seville hitam tahun 1991 masih dengan pengemudi di dalamnya. Kaca mobilnya gelap. Hanya menyisakan siluet bayang pria mengenakan topi dan jaket. Entah itu pembunuhnya atau bukan. Aku pikir itu James, guru olahragaku. Seminggu ini, dia selalu menguntit ku. Berawal dari ketidak sengajaannya menemukanku di jalanan tempat kerjaku. Entah apa motifnya menyusuri jalanan ini pada malam selarut ini. Mungkin ia butuh belaian tangan-tangan para bidadari malam sepertiku. Akh aku tidak begitu mempersoalkannya. Aku tidak peduli. Tapi ia menatap kaget padaku.

“Apa yang kau lakukan disini?“tanya James penuh selidik.

“kau sendiri apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau sudah punya anak istri?“

“kau tidak sepantasnya berada disini“, ia keluar dari mobilnya mendekatiku. Mobilnya juga Cadillac Seville hitam. Tapi di luaran sana banyak sekali yang memiliki mobil itu.

“Lantas kau sendiri?“

“Ya Tuhan, kamu masih terlalu kecil untuk ini, gadis secantik dan secerdas kamu tidak pantas berada di sini“.

“Tuhan?”, aku mendengus.

“ Tuhan kemana sewaktu ibuku di ambil paksa dariku, kenapa dia seolah membuat skenario kejam untuk hidupku. Kenapa ia membiarkan aku sendirian. Dia memberikan cobaan yang aku tak sanggup“, air mataku mengalir turun.

James memelukku. Membenamkan wajahku di dekapannya. Jujur aku menyukai dekapannya. Hangat nyaman. Seketika aku menemukan rumah. Secara fisik James memang termasuk pria matang yang mempesona. Badan atletisnya dan gurat wajah kebapakannya menimbulkan sensasi menggelitik tersendiri. Diam-diam sedari dulu aku mengaguminya.

“Tuhan pasti tidak memberikan cobaan di luar kemampuanmu. Aku tahu kamu sanggup menghadapinya“, ujarnya seraya memegang bahuku, melepaskan pelukannya.

“Tuhanmu berharap terlalu banyak pada gadis berusia tiga belas tahun“, ujarku sambil berlalu darinya. Meninggalkannya dalam diam. Dalam gelapnya malam.

Di luar sudah pasti sangat dingin. Tapi aku harus bekerja malam ini. Aku harus menghasilkan lembar demi lembar uang. Untuk mencukupi seluruh kebutuhanku. Walau untuk itu aku harus membuka kenangan terburukku. Setiap aku mengencani laki-laki berusia jauh dari aku, aku merasa melihat Robert. Bajingan tengik itu tidak pernah mati dalam hidupku. Tapi apalagi yang bisa aku perbuat. Aku butuh uang. Semua orang yang hidup di dunia ini juga membutuhkannya.

Seketika nyaliku menciut jika mengingat kejadian seminggu yang lalu. Seperti biasa dini hari itu aku, Martha dan beberapa perempuan lainnya berada di pinggiran jalan. Aku masih tertawa terkekeh pada lelucon Martha tentang laki-laki yang di kencaninya malam kemarin. Sampai teriakan perempuan muda menghentikan kami. Dia menjerit dengan lengkingnya. Perempuan itu berdiri tidak jauh dari kami hanya berjarak 300 meter, masih bisa aku lihat jelas punggungnya. Ia terduduk, tangan kirinya masih memegang tiang, sementara tangan kanannya menutup mulutnya. Ia sudah berhenti teriak kala itu.

Secara otomatis kami semua mengelilinginya. Ada yang langsung muntah. Sebagian menyumpah kasar. Sebagian lagi berlalu. Riuh langsung memenuhi tempat itu. samar-samar ada yang turut menjerit. “Seseorang tolong telepon polisi”, ujar laki-laki yang kebetulan lewat. Martha dan aku terpaku. Martha memegangi tanganku erat. Diakah korban berikutnya dari pembunuh berantai itu. Tapi tunggu, aku sepertinya mengenal perempuan itu. Perempuan yang terbujur kaku di dekat lokasi pembuangan sampah. Di sebelah tumpukan kantong plastik hitam besar sampah, di situlah mayat perempuan itu tergeletak. Di sekeliling lingkar matanya lebam-lebam dan yang paling miris bibir nya. Perempuan itu telah kehilangan bibirnya.

Perempuan itu berhidung lancip, berwajah hispanik, berambut gelap. Astaga dia. Tidak, jangan dia. Dia Sarra. Aku tidak dapt mempercayainya. Kenapa harus Sarra. Kenapa aku bertemu dengannya dengan kondisi seperti ini. Kenapa dia harus mati dengan cara seperti itu. Aku balas mengenggam tangan Martha erat. Sambil berbisik lirih di telingganya.
“aku mengenalnya, dia teman ku dulu“, suaraku sangat lirih sampai hampir tidak terdengar di ujung kalimatnya karena aku menahan emosi yang berkecamuk.

“benarkah?“ Tanya Martha yang aku jawab dengan satu kali anggukan kepala kemudian kepalaku serasa berat untuk di angkat. Aku hanya mampu menunduk. Martha mendekapku dan membawaku pergi menjauhi kerumunan ketika sirene polisi mulai terdengar. Malam harinya, di kamar apartemen Martha, aku berlutut di depan jendela yang mengarah ke pemandangan kota. Dengan mata tertutup aku melantunkan doa. Tuhan tolong jaga Sarra di atas sana. Dia sama sepertiku, dia gadis baik-baik. Dia hanyalah korban dari kehidupan yang keji ini. Dia terus berjuang sampai hembusan nafas terakhirnya kalau ia percaya bahwa akan datang kehidupan yang jauh lebih baik nantinya. Dia tidak pernah berputus asa, dia tidak pernah ingin mengakhiri hidupnya. Dia pejuang tangguh. Semoga saat ini dia telah mendapatkannya. Kehidupan yang lebih baik.

Sebelumnya aku memohon ampun atas perkataan yang terlontar ketika aku bertemu James. Waktu itu aku mengutuk Tuhan. Tapi saat ini aku berdoa sungguh-sungguh demi Sarra, sahabat terbaikku. Ia memiliki kehidupan yang hampir sama seperti aku. Aku menyesal tidak bertemu dengannya dulu.

Sekali lagi aku mengamati keadaan luar lewat jendela. Gemuruh angin semakin kencang tapi hujan tak jua datang. Segera ku pakai jaket hitam bertudung. Ku sapukan lipstick merah untuk menutupi bibir putihku dan foundation serampangan kewajah pucatku. Tak lupa eye liner membungkus kelopak mataku menjadikan mataku terlihat lebih tajam. Persiapan terakhir yang tak kalah penting, berreta. Pistol semi otomatis yang siap di gunakan.

Berreta ku masukan dalam tas selempangku. Senjata yang ku dapat gratis dari pemilik rumah trailer ini, Tommy. Tommy sudah aku anggap abangku. Dia pemimpin anak-anak yang kabur dari rumah dulu tiga tahun yang lalu. Sekarang dia tinggal bersama pacarnya di apartemen kumuh di tengah kota. Dia tidak meminta bayaran untuk sewa trailernya. Aku hanya tidak enak padanya. Jadi sesekali aku ke apartemennya menyelipkan berberapa dolar ke saku kantongnya. Aku siap untuk mengais uang. Meraup lembaran uang dari satu dompet pria ke dompet pria lainnya. Siap untuk menjual cinta.


Terakhir diubah oleh Auryn tanggal Thu 16 Aug 2012 - 23:07, total 3 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
sagitany
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 4863
Points : 4905
Reputation : 8
Join date : 06.04.12
Age : 26
Lokasi : medan

PostSubyek: Re: Angel to fly   Mon 13 Aug 2012 - 10:45

makin berwarna, dan paragrafnya udah mulai ga 'gendut' lagi,
jadi lebih enak bacanya..
mau selesai jadi cerpen apa novel nih, ryn?
Kembali Ke Atas Go down
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: Angel to fly   Mon 13 Aug 2012 - 21:00

Cerpen juga kayaknya gi, ga tau juga stuck di tengah2
Kembali Ke Atas Go down
sagitany
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 4863
Points : 4905
Reputation : 8
Join date : 06.04.12
Age : 26
Lokasi : medan

PostSubyek: Re: Angel to fly   Tue 14 Aug 2012 - 10:42

sama dong kalo gitu,
kenapa semua selalu berhenti di tengah2, ya?
Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 32
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: Angel to fly   Thu 16 Aug 2012 - 6:11

woooow ternyata auryn berani jg ya ngolah cerita...
keren cerpennya ryn... Top
kasian bgt angel ny...dasar ortunya gak bertanggung jawab!!!
eh ayahny deh...yg gak bertanggung jawab...
Kembali Ke Atas Go down
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: Angel to fly   Thu 16 Aug 2012 - 7:11

sagitany wrote:
sama dong kalo gitu,
kenapa semua selalu berhenti di tengah2, ya?
Iya cerpennya sagi yang kapan hari diupload tu gimana
Ga dilanjutin gi?
Kembali Ke Atas Go down
sagitany
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 4863
Points : 4905
Reputation : 8
Join date : 06.04.12
Age : 26
Lokasi : medan

PostSubyek: Re: Angel to fly   Thu 16 Aug 2012 - 10:01

ya, auryn mengingatkan pada luka lama..


itu mau dijadiin novel, ryn..
dan ga tersentuh lagi setelah baru selesai 12 halaman..
Kembali Ke Atas Go down
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: Angel to fly   Thu 16 Aug 2012 - 22:05

de_wind wrote:
woooow ternyata auryn be
rani jg ya ngolah cerita...
keren cerpennya ryn... Top
kasian bgt angel ny...dasar ortunya gak bertanggung jawab!!!i
eh ayahny deh...yg gak bertanggung jawab...

Makasi Kak Wind
Jadi tambah semangat nulis2 lagi
Sebenernya di sini tak gambarin ayahnya tu bukan nggak bertanggung jawab
Tapi menderita kelainan suka sama anaknya sendiri
Ada ga ya istilahnya?
Di satu sisi dia suka mengacau(mukulin anaknya)
Di sisi lain sayang berlebihan
Ada faktor lain juga kenapa ia suka sama angel karena wajahnya angel sangat mirip
Dengan wajah istrinya waktu muda (sekarang istrinya berubah lebih kurus, rambutnya menipis karena sakit2an)
Kembali Ke Atas Go down
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: Angel to fly   Fri 17 Aug 2012 - 17:38

Sagi, kak aksara kemana ya
gemes
Jangan jangan uda reinkarnasi lagi jadi apa gitu centil
Kembali Ke Atas Go down
sagitany
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 4863
Points : 4905
Reputation : 8
Join date : 06.04.12
Age : 26
Lokasi : medan

PostSubyek: Re: Angel to fly   Sat 18 Aug 2012 - 17:42

auryn kangen kak aksara ya?
dia kadang nanyain auryn loh~
orangnya udah reinkarnasi jadi kuda, bukan domba lagi..


sibuk kerja dia, ryn..
Kembali Ke Atas Go down
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: Angel to fly   Sat 18 Aug 2012 - 18:31

ngakak jadi kuda
Abis yang komentarin cerpenku cuma kalian bertiga
Tinggal komentarnya yang belum
Kembali Ke Atas Go down
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 29
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: Angel to fly   Sun 19 Aug 2012 - 21:34

ceritanya enak diikutin wow
Cuma ada beberapa logika cerita yang saya kurang paham... petama, waktu sehabis dia membunuh ayahnya. Kenapa bisa secepat itu polisi datang?siapa yang memberi tahu polisi? terus kenapa si anak mesti kabur kan ibunya udah gantiin posisinya? apalagi dia bisa dapet perlindungan anak kalau bapak-ibunya bermasalah sedangkan dia termasuk anak gemilang di sekolah... well mungkin bisa dijawab karena kepanikan ibuya sih.

Kalau masalah si pembunuh berantai, ngeliat dari komen2 mu dan Sagi memang keliatannya bakal jadi cerita panjang sih ya.. jadi aku tidak mempermasalahkannya... (padahal ending super duper gantung banget ini kalau jadi cerpen, buka plot baru tapi ga dilanjutin iri )

Hoho semangat deh buat novelnya!!
Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: Angel to fly   Mon 20 Aug 2012 - 9:07

Iya ndo semakin lama aku nulis ini malah semakin jauh dari ending
Makanya nggak tak terusin
Susah settingnya abis nggak pernah ke Marin county
Iya ibunya panik dan takut kalau ketahuan yang bunuh bukan dia tapi angel
Yang manggil polisi ibunya sendiri nelpon polisi saat angel sedang mandi
Kelupaan nulisnya
Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 32
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: Angel to fly   Wed 22 Aug 2012 - 7:55

Auryn wrote:

Makasi Kak Wind
Jadi tambah semangat nulis2 lagi
Sebenernya di sini tak gambarin ayahnya tu bukan nggak bertanggung jawab
Tapi menderita kelainan suka sama anaknya sendiri
Ada ga ya istilahnya?
Di satu sisi dia suka mengacau(mukulin anaknya)
Di sisi lain sayang berlebihan
Ada faktor lain juga kenapa ia suka sama angel karena wajahnya angel sangat mirip
Dengan wajah istrinya waktu muda (sekarang istrinya berubah lebih kurus, rambutnya menipis karena sakit2an)


lolita komplex?
mgkn soal dia suka ngacau dan mukulin anakny itu kompleksitas dri rasa bersalahnya
jd dgn begitu dia nyoba utk ngilangin perasaan ke si anak dgn cara bgtu
wah klo soal angel mirip sm ibunya
mnding dceritain jg tuh, tp ini mah bakalan pnjang jd novel deh...
brarti si ayah bener2 gak dewasa, gak bisa nerima kenyataan
ayo bikin novel aja...kan emg udh ada runtutan cerita tuh




Quote :
Yang manggil polisi ibunya sendiri nelpon polisi saat angel sedang mandi
Kelupaan nulisnya

wah ini wajib dtulis jg dong..


Quote :
padahal ending super duper gantung banget ini kalau jadi cerpen, buka plot baru tapi ga dilanjutin

kan bnyk jg pnulis yg suka ending yg terbuka gini...salah satuny si bg tuti... grrr
Kembali Ke Atas Go down
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 29
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: Angel to fly   Wed 22 Aug 2012 - 12:11

ngupil
Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: Angel to fly   Wed 22 Aug 2012 - 13:10

Kok kak mondo malah ngupil?
Kembali Ke Atas Go down
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 29
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: Angel to fly   Wed 22 Aug 2012 - 14:23

karna komen terakhirnya wind... aku jadi bingung mau jawab apalagi...
Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 32
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: Angel to fly   Wed 22 Aug 2012 - 23:12

lah??? apa kek, sanggah kek, bantah kek...setujuin dan bilang aku pnter kek geli
perasaan komen ku baik2 aja...pdhl otakku lg gak korslet tuh pas komen yg terakhir kali... Laughing
Kembali Ke Atas Go down
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: Angel to fly   Thu 23 Aug 2012 - 16:55

Kak wind berhasil bikin mondo speechless
centil
Kembali Ke Atas Go down
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 29
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: Angel to fly   Thu 23 Aug 2012 - 20:11

Bukan murni wind-nya kok tapi bang Tuti.. yah mau bagaimana lagi...
Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 32
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: Angel to fly   Sun 26 Aug 2012 - 0:41

ooooohhh....sepertinya aku lagi2 salah paham.... ngakak
Kembali Ke Atas Go down
Domba
Penulis Berbakat
Penulis Berbakat
avatar

Jumlah posting : 397
Points : 414
Reputation : 3
Join date : 31.05.12

PostSubyek: Re: Angel to fly   Sun 9 Sep 2012 - 13:35

Auryn Sayang, Domba pikir ini sudah saatnya Auryn menulis novel hahaha. . . karena cerpen2nya benar2 sudah mengalir dan terlihat bentuknya. . . . shy

Tapi tetap saja jangan yang kejam2 terus donk sayang grrr kan kasihan yang habis baca malah terisi dengan pikiran-pikiran seperti pembunuhan, darah dan kekejaman pada wanita. . .

crying "Ngak kuat."

Yang ini bagus, cara penggambaran dan penulisannya wow banget lagi . .. >_< kalao ada kelanjutannya dan dijadikan sebuah novel yang bisa mengangkat hati dan keberanian untuk menjalani kehidupan pasti wow banget novelnya. . .

Jamin Kakak beli deh. . .

Auryn. . . kakak tunggu novelnya ya sayang. . .

Maaf Domba baru komentar . . . tapi di cerpen ini Auryn dah dewasa banget yipi yipi

gemes Auryn sayang * meluk - meluk * . . . tabah yah sayang....

Missing you so much my dear gemes



Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 32
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: Angel to fly   Mon 10 Sep 2012 - 20:09

pdhl udh ada emot kiss-kiss tp gak disalahgunakan ya
mgkn cuma utk org tertentu ya klo kiss-kiss... Lidah
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Angel to fly   

Kembali Ke Atas Go down
 
Angel to fly
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» (WTS) Lampu Angel Eye CCFL Murmer
» amankah pasang angel / demon eyes
» ASK : modif lampu depan, angel eyes? or...??
» harga promo yg punya ninja ijo ato kuning angel eyes hid + projector + hid hilow
» Paket Projector Double Angel Eyes (DAE)

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: