SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Ingatan diatas Ingatan ( completely amtaeur)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Hurion
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 3
Points : 7
Reputation : 0
Join date : 25.12.12
Age : 20
Lokasi : Jakarta aj

PostSubyek: Ingatan diatas Ingatan ( completely amtaeur)   Mon 31 Dec 2012 - 14:35

Itu merupakan malam yang sangat gelap, bulan tidak muncul dan bintang sangat jarang di langit. Seorang pemuda berpakaian serba hitam berjalan sendirian diantara rumah-rumah penduduk. Matanya tajam memperhatikan sekitar dengan seksama, seperti seekor harimau yang sedang mencari mangsa. Ia berjalan pelan dalam kesunyian malam, menyatu dalam bayangan gelap malam. Namun, semua rumah terjaga dengan sangat baik, sepertinya ia tidak akan punya kesempatan malam ini. Tapi tunggu, ada sebuah rumah di ujung sana dan tak terjaga. Sebuah rumah kuning yang lumayan besar dengan pagar pendek. Rumah itu tidak berlampu dan terlihat kosong. Lagipula letaknya berada di paling ujung desa, mudah untuk melarikan diri keluar desa, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Senyum pemuda itu lalu mengembang perlahan, sepertinya ia sudah menemukan target yang ia cari. Pemuda tersebut lalu dengan cepat berlari menuju ke pagar dan dengan mudah melompatinya, tanpa menyentuhnya sama sekali. Lalu ia dengan cepat mendekati sebuah jendela kayu yang tertutup rapat, membongkarnya dengan mudah dan masuk ke dalamnya. Di balik jendela tersebut terdapat sebuah kamar tidur kecil dengan sebuah tempat tidur sedrhana, sebuah lemari kayu yang besar, sebuah meja rias lengkap dengan kursi dan kacanya, serta sebuah kursi kayu kosong di dekat pintunya. Pemuda itu langsung dengan cepat membongkar lemari kayu dan meja rias yang terletak bersebelahan di sudut paling kanan dekat jaendela. Namun kosong, hanya berisi baju-baju dan beberapa alat rias yang tidak berharga. Tak ada uang maupun perhiasan yang dapat ditemukan pemuda itu. Ia lalu menjadi gusar dan segera berbalik menuju pintu kamar untuk memeriksa ruangan lainnya. Tapi begitu ia berbalik, dihadapannya telah berdiri seorang perempuan yang sedang mengamatinya. Rambut perempuan itu hitam panjang terurai sampai ke punggungnya dan kulitnya putih bersih seperti susu. Matanya berwarna ungu menyala, begitu indah bagai sebuah permata yang belum dipoles, memberikan sebuah tatapan dingin dan tajam langsung ke dalam mata pemuda itu. Wajah dan rambutnya bagaikan bercahaya terang di bawah sinar rembulan. Pemuda itu langsung seketika itu menjadi panik dan mundur beberpa langkah menjauhi perempuan itu.
” Siapa kau ?”, dari dalam mulutnya yang kecil mengalir keluar pertanyaan datar itu. Pemuda tersebut masih berdiri shock di hadapannya, tak mampu mengatakan apa-apa. Sementara perempuan misterius itu mnegulangi pertanyaan yang sama dengan nada yang sedikit lebih keras, namun masih datar. Pemuda itu mulai sembuh dari keterkejutannya dan menjadi bingung sebab tak ada nada mengancam atau memaksa dari pertanyaan itu, hanya datar dan pelan seperti hembusan angin.
” Apa mungkin dia tidak tahu apa itu pencuri atau dia mungkin sudah gila ?”, pikir pemuda tersebut. Namun sepertinya jawabannya bukan keduanya, sekarang perempuan itu malah meminta pemuda itu untuk duduk di kursi kayu. Sementara perempuan itu sendiri duduk di atas kursi riasnya.
” Engkau tampak pucat sekali, apa engkau sedang sakit ?”, tanya perempuan masih dengan nada datarnya. Memang wajah pemuda itu berubah pucat sejak bertemu dengan perempuan misterius itu. Karena lama-kelamaan ia merasa seperti berbicara terhadap seorang robot yang nada suaranya sangat datar, namun dari dalam dirinya muncul suatu perasaan berbunga-bunga yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dadanya juga tiba-tiba terasa hangat dan wajahnya menjadi merah padam.” Apakah ini yang disebut cinta pandangan pertama ? ”, tanyanya pada diri sendiri. Pemuda itu pun menundukan kepalanya, tak berani beradu tatap dengan perempuan yang sedang duduk di hadapannya itu.
“ Sebaiknya kuambilkan dulu teh untukmu, aku tak tahu ada tamu yang berkunjung malam-malam begini. “, kata perempuan itu sambil keluar kamar. Ini merupakan suatu kesempatan bagi sang pemuda untuk melarikan diri. Tapi ada sesuatu yang menahan kaki pemuda itu. Hingga sampai perempuan itu masuk kembali dengan sebuah baki yang berisi 2 cangkir teh, pemuda itu hanya diam di tempat duduknya. Perempuan itu lalu meletakan bakinya di atas meja rias dan memberikan secangkir teh pada pemuda tersebut. Pemuda itu menerimanya dengan sedikit canggung, tapi tetap meminumnya. Rasanya hangat dan manis, menyegarkan tubuh sang pemuda.
” Jadi, ada apa malam-malam begini ? ”, tanya perempuan itu. Namun pemuda itu tidak menjawab dan balik bertanya.
” Siapa namamu ?, tanya pemuda itu setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya. Perempuan itu sedikit kaget dengan pertanyaan itu, namun ia segera menjawabnya.
” Namaku Vena, kalau kamu ? ” , perempuan itu menjawab tanpa ekspresi sedikitpun. Wajah pemuda itu langsung berubah menjadi sedih, namun bukan karena jawaban tanpa ekspresi yang diterimanya. Seperti ada suatu kenangan buruk yang kembali timbul dalam pikiran si pemuda. Ia lalu membalikannya badannya membelakangi perempuan itu.
” Apa aku mengatakan sesuatu yang salah ? ” , tanya perempuan itu ketika melihat reaksi pemuda itu.
” Tidak ! Hanya saja aku teringat akan sesuatu di masa lampau. Namaku Radhit. Tapi aku tak tahu itu namaku atau tidak. ”, jawab pemuda itu. Sepertinya dalam diri pemuda itu timbul sesuatu yang membuatnya mengukapkan rahasia yang paling dalam pada perempuan itu.
” Sebenarnya aku juga mempunyai keraguan tentang namaku sendiri. ” , kata Vena. Hal itu cukup mengejutkan Radhit yang baru pertama kalinya mendengar ada orang yang bernasib sama dengannya. Mereka berdua lalu saling menatap untuk waktu yang sangat lama.
Malam di luar semakin larut dan kelam. Bulan tidak bersinar di langit dan hanya sedikit bintang yang berada di langit. Satu-satunya sumber cahaya hanya berasal dari salah satu lampu jalan yang masih menyala. Sementara kedua orang itu masih saling mengamati satu sama lain, tanpa bicara. Sampai akhirnya Vena memberanikan diri bertanya pada Radhit,” Kapan ”hal” itu terjadi ? ”
” 6 tahun yang lalu, di sebuah rumah sakit tua yang mungkin berada di sekitar sini. Aku terbangun di dalam salah satu kamarnya dengan perban di kepalaku dan infus di tangan kananku. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi hampir seluruh badanku sakit terutama kepalaku. Aku berjuang hampir setengah jam hanya untuk bangun dari tempat tidur. Aku mendapat nama Radhit dari yang tertera di depan tempat tidurku. Tapi aku tak banyak menghabiskan waktu di sana. Sebab kudengar bunyi langkah yang semakin mendekat, bukan hanya seorang melainkan serombongan. Aku begitu panik hingga aku berlari keluar dari jendela kamarku dan memanjat turun. Aku tak tahu bagaimana caranya tapi aku turun dengan sangat cepat, lalu aku pergi dalam bayangan malam yang gelap. ”, jelas Radhit.
” Mengapa engkau lari dari mereka ? Mungkin mereka dapat membantumu. ”, tanya Vena, sebuah perasaan penasaran ada dalam nada suaranya yang datar.
” Aku sedang panik dan bingung waktu itu ! Aku tak tahu harus berbuat apa ? Aku takut mereka akan menyakitiku ! ”, teriak Radhit marah dan cemas. Vena sampai terhenyak dari kursinya.
” Aku minta maaf, aku tak bermaksud untuk menakutimu, hanya saja saat itu aku...... ”, suara Radhit terhenti sejenak. Dia lalu menunduk dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Vena lalu maju dan duduk di samping pemuda malang itu menghiburnya dengan mengelus-elus kepalanya.
” Sudah-sudah aku tahu rasanya, percayalah kau tidak sesendirian yang kaukira. ”, hibur Vena, ” sebab kisahku tidak jauh berbeda darimu. Juga terjadi 6 tahun yang lalu, hanya terjadi di danau yang terletak di luar sana. Para penduduk menemukanku pingsan di pinggir danau tersebut. Darah mengucur deras dari kepalaku, kata mereka. Mereka mengantarkanku ke rumah sakit dan di sana menunggu dua orang yang mengaku sebagai orang tuaku. Mereka sangat baik dan selalu setia mendampingiku. Tapi akibat kehilangan banyak darah, tekanan darahku menjadi sangat rendah. Sementara ingatanku tak pernah kembali lagi, bahkan sampai kedua orang tuau itu meninggal beberapa bulan yang lalu. Tekanan darahku menyebabkan reaksiku menjadi lambat dan aku merasa duniaku menjadi datar dan hampa. ”. Mendengar sebuah kisah yang tak kalah menyedihkannya dari kisahnya, Radhit perlahan membuka matanya dan menatap dalam-dalam mata ungu Vena. Vena mencoba tersenyum padanya, walau hanya sebuah senyum datar.
” Tapi semua sudah berlalu, seperti angin yang datang dari danau seberang. ” Kata Vena, ” dan bukannya itu sudah hebat jika kita masih berada di sini sekarang. ”. Radhit hanya tertegun menatap Vena yang masih tanpa ekspresi. Tapi Radhit tahu di balik mukanya tanpa ekspresi itu, tersirat suatu kebaikan dan aura kedewasaan.
” Ngomong-ngomong tentang danau yang kau ceritakan tadi, sepertinya aku pernah mendengarnya. Dimanakah danau itu ? ”, tanya Radhit. Vena lalu tanpa bangun dari tempat duduknya, menunjuk ke sebuah jendela tertutup di sebelah jendela tempat Radhit masuk tadi.
” Tapi janganlah engkau membukanya, aku takut akan hal buruk yang akan terjadi jika kau membukanya. ” , kata Vena memperingatkan Radhit.
Radhit segera membuka jendela itu, tidak mempedulikan peringatan Vena karena rasa keingintahuannya yang sangat besar. Memang benar di baliknya terbentang sebuah danau yang sangat luas dan indah. Airnya berkilauan bagai bintang di dalam pancaran sedikit sinar bulan. Radhit tidak melihat danau itu sebelumnya karena tertutup oleh rumah-rumah warga.
Namun, tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan panas luar biasa, bagaikan ditabrak oleh sebuah bola api yang membakar kepalanya. Rasa itu hampir sama seperti yang dirasakannya 6 tahun yang lalu, hanya lebih kuat dan seperti memanggilnya kembali. Kaki Radhit mulai terhuyung-huyung kebelakang dan pandangannya mulai menjadi hitam putih. Vena yang di belakangnya langsung bangkit berdiri, tapi terlambat, tubuh pemuda itu jatuh ke lantai, bagai sebuah pohon yang tumbang.
Setelah beberapa saat, Radhit terbangun dan menemukannya dirinya terbaring di tempat tidur., lagi !! Tapi untunglah tidak di tempat tidur yang sama, itu merupakan tempat tidur Vena. Di atas kepalanya terdapat handuk basah dan di sebelahnya tampak Vena sedang duduk menungguinya. Kepala Radhit masih sedikit pusing, tapi ia sudah bisa bangun dan duduk. Ia bertanya-tanya apa yang barusan terjadi. Namun sebelum ia sempat berbicara, sepertinya Vena telah mengetahui isi pikirannya.
” Ternyata benar yang kutakutkan engkau sama sepertiku, akupun mengalami reaksi yang sama, hanya aku pingsan selama 3 hari 3 malam. ”, kata Vena.
” Ya, itu cukup mengejutkan dan.... aneh !! Sebab aku mengalami semacam penglihatan kurasa. ” kata Radhit.
” Dan apa penglihatan itu. ”, tanya Vena, ada sebersit nada penasaran dalam muka dinginnya
” Well, awalnya aku seperti dibawa mendekat ke danau itu. Sangat dekat hingga aku merasa dapat menyentuh airnya yang indah dan dingin. Dan disanalah aku bisa melihat 2 sosok bayangan, begitu dekat namun begitu rapuh dan tidak jelas. Aku merasa seperti ada rasa aneh yang mengelilingiku, rasa yang kurindukan. Rasa itu terus menguat sampai salah satu sosok itu mengeluarkan sesuatu yang tampak tak asing bagiku. Ia mengucapkan sautu rangkaian kata yang masih terngiang di kupingku hingga sekarang. ”, jelas Radhit.
” DENGAN INI, KAU TAKKAN PERNAH BISA KULUPAKAN, SEBAB INGATAN TENTANGMU ADA DI ATAS SEGALA INGATANKU YANG LAIN. TAKKAN TERLUPAKAN ATAU TERGANTIKAN. ” , kata Vena tiba-tiba memotong.
” Bagaimana kau tahu ? ”, tanya Radhit terkejut karena kata-kata itu persis seperti yang ia dengan. Namun rasa terkejutnya makin bertambah ketika ia melihat wajah Vena mulai berlinangan air mata. Vena lalu memeluk Radhit dengan erat.
” Ternyata benar, engkaulah yang kucari selama ini. Engkau yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Setelah sekian lama akhirnya kau kembali dan menemukanku. ”, kata Vena dalam isak tangisnya yang keras. Radhit masih tidak mengerti, namun ia merasa rasa aneh yang dirindukannya kembali dan terpuaskan saat Vena memeluknya. Perasaannya menjadi sangat damai dan kepalanya tidak lagi sakit, semua terasa indah dan nyaman dlam pelukan Vena.
Bersamaan dengan itu jendela yang menghadap ke danau terbuka lebar, angin sejuk menyerbu masuk dan matahari perlahan terbit dari dalam danau. Semacam kunang-kunang yang bercahaya terlihat mendatangi kedua pasangan yang tengah berbahagia itu. Mereka hinggap di kepala Radhit dan Vena. Dan jelaslah bagi mereka semua ingatan yang hilang telah kembali dan kebahagiaan muncul dalam benak mereka. Dari malam tergelap, telah terbit sebuah matahari yang paling terang dan hangat. Air mata Radhit pun akhirnya ikut mengalir deras, ia menangis sekeras-kerasnya bersama Vena.
Dan akhirnya semua berlangsung lancar bagi Radhit dan Vena. Hidup mereka seakan bagai mimpi yang menjadi kenyataan. Mereka memulai hidup baru bersama yang menyenangkan di rumah Vena, Radhit ternyata selama ini telah menjadi pencuri kawakan, dia mengakui semuanya pada Vena dan Vena menerima semuanya itu dengan baik. Radhit pun segera memulai sebuah pekerjaan baru, pemanjat professional. Ia ternyata sangat handal dalam memanjat, meskipun hal ini cukup membuat Vena khawatir. Namun Radhit sungguh melakukannya dengan baik, ia tak pernah gagal dan terjatuh saat memanjat. Mereka berdua pun hidup bahagia dan selalu duduk berdua di tepi danau, mengenang semua ingatan mereka yang akhirnya telah kembali.

The End (akhirnya)
Kembali Ke Atas Go down
sagitany
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 4863
Points : 4905
Reputation : 8
Join date : 06.04.12
Age : 26
Lokasi : medan

PostSubyek: Re: Ingatan diatas Ingatan ( completely amtaeur)   Tue 19 Feb 2013 - 22:50

wah, banyak PR nih...
#nandain lagi buat dibaca
Kembali Ke Atas Go down
 
Ingatan diatas Ingatan ( completely amtaeur)
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» aksi ladybikers+ model seksi diatas moge ;) di TRANS|7,malam ini!!
» yang gak malu2in helm utk ninin merah :)
» Stang jepit dibawah segitiga, sharing dong
» [SOLD] Ban Ex Ninja250 110/70 130/70 & Corsa 150/60. Great Condition -semua diatas 92%
» Ninin Gue ajrut ajrutan susah naik diatas 8000 rpm -- top speed 105 km/h

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: