SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 (Cerpen) Kisah di Balik Hujan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Fitria Longaeva
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 1
Points : 3
Reputation : 0
Join date : 19.02.13
Age : 21
Lokasi : Bogor-Tangerang

PostSubyek: (Cerpen) Kisah di Balik Hujan   Tue 19 Feb 2013 - 8:13

Suatu Kisah di Balik Hujan

Irana meletakkan penanya sejenak ketika bulir bulir hujan menggoda dengan hawa dinginnya yang sejuk. Malam sudah larut, namun matanya belum mau terpejam sedikitpun. Menit-menit berlalu, kertas itu masih kosong. Sesekali Irana menghela nafas sendu, entah apa artinya. Apakah ia memikirkan seseorang di sana? Seseorang dengan suara sumbang yang merindukan, dengan tatapan tajam yang menghangatkan. Kala jarak keduanya terpisah oleh horizon luas dan gedung gedung pencakar langit berbeda pulau.

Malam ini di malam yang sama seperti berbulan bulan lalu. Ketika merindu menjadi kebiasaan Irana tiap malam. Mencumbui bayang dan kenangan yang kadang datang bersama hujan. Ingin ia sampaikan kegalauan yang ada. Menangis sudah tak lagi berguna dikala kenyataan belum bisa diubah, ya belum. Irana hanya berharap waktu akan mengubah kenyataan yang membekap tali percintaan sepasang dua anak adam itu.

Mata gadis itu mencari cari handphone silver miliknya hingga seketika ia teringat, handphone itu tak lagi digenggamnya –untuk saat ini. Sekali lagi ia menghela nafas berat, menyandarkan kepalanya ke bantal Tazmania yang baru ia beli beberapa hari yang lalu ketika berlibur alih alih mencari pelarian.

Biasanya Irana bersemangat menunggu malam, ketika ia bisa melepaskan kesibukan yang memborgolnya sepanjang siang dengan menelpon sang ‘kekasih’ disana. Tak jarang Irana meminta sang kekasih untuk bernyanyi walaupun bermodal suara yang parau. Terkadang Irana juga ikut bernyanyi lirih dengan senyuman yang mebuat kedua pipinya menggembung merah.

Kegundahan ini bermula beberapa bulan lalu, ketika orang tua Irana mengetahui hubungan mereka. Ibunya bersikeras tidak ingin melepaskan anak gadis semata wayangnya bermain main dengan cinta ketika kesuksesan masih jauh dari pelupuk mata.

“Mbok kamu itu jangan mikir ginian. Kuliah aja gak selesai selesai udah mikir beginian. Ibu susah susah nyekolahin kamu jadi sarjana buat sukses bukan buat pacar pacaran gak penting kaya gini!” tegas Ibu Irana suatu sore. “Sudah pacaran sama orang gak jelas, siapa tau dia cacat atau apa. Jangan percaya sama foto di jaman canggih kaya gini, ndok.” Lanjut ibunya sambil menyimpan handphone silver milik Irana di Lemari.

Irana hanya diam, tak tersirat sedikitpun perlawanan dari pelupuk matanya. Ibunya yang mulai renta namun masih bugar itu hanya bisa menggeleng pelan dan menghembuskan nafas berat. Irana kembali membantu ibunya menyapu halaman depan yang sudah menjadi tugasnya dengan tetap tersenyum kepada tetangga yang menyapanya. Tak tampak kegundahan yang sedang merajai hatinya saat itu. Irana memang gadis kuat, jarang sekali ia terlihat menitikkan air mata bahkan dihadapan orang tuanya –kecuali saat menonton film sedih atau membaca novel. Senyum dan gurau selalu menghiasi harinya, Ia menjadi gadis yang seolah tanpa beban dan masalah, setidaknya itu yang diketahui semua orang.

Namun di balik itu, ketika semua orang terlelap, buih buih air mata selalu menetes di pipinya. Entah itu menangisi bapaknya yang sudah lama terpendam tanah, atau meratapi nasib yang terkadang begitu tak memihaknya.

Irana tersadar dari lamunannya ketika hujan deras itu perlahan mejadi tirai-tirai kecil. Irana membuka netbooknya dan berharap sisa kuotanya masih mencukupi gairah kerinduan yang tak bisa lagi ia pendam.

Darres Tuminggo, online!

Irana : good night J

Darres : gud night, kangen? :p maaf agak sibuk si kantor Very Happy

Irana : iya, gapapa. Ibuk masih belum …

Darres : oh. L

Irana : kapan kamu mau jemput aku? Biar ibuk percaya sama kamu.

Darres : nanti ya sayang, aku janji bakal jemput kamu nd minang kamu J kamu percaya kan?

Irana : iya, J yaudah met bobo ya. Don’t forget, you have full schedule tomorrow Very Happy

Darres : sure my lady :* have a nice dream :*

Irana : nice dream K

Irana mematikan netbooknya dan memosisikan diri dengan terbaring miring memeluk boneka kelinci pemberian ibunya tahun lalu.

Hujan di luar telah berubah menjadi rintik rintik air yang tak berarti. Semakin lama suara dentingan mulai tak terdengar seiring mata Irana yang mulai terlelap.

oOo

seorang pria yang hampir menginjak kepala tiga itu meneduhkan badannya ke salah satu halte sembari meniup niup tangannya, menghangatkan diri. Hujan deras sedang melanda Friesland, salah satu kota kecil di Belanda. Mungkin akan ada angin kencang seperti biasanya.

Lelaki berketurunan blasteran belanda-bugis itu merogoh saku kanannya dan menemukan handphone clamsilvernya yang mulai kedap kedip kehabisan baterai. Dengan masih berusaha menghembuskan nafas cepat agar tak kedinginan ia mulai mengetik cepat.



Jemput aku di halte sebelah danau



Lelaki itu melihat sekeliling sambil terus menggosokkan kedua telapak tangannya. Untungnya walaupun ini kota kecil, penerangannya tidak kalah dengan Amsterdam ataupun Noord- Holland sekalipun. Sesekali pria itu memandang kosong ke tengah danau yang memantulkan penerangan dari peternakan terbesar di kota ini.

Kadang saat musim panas, lelaki itu sering bekerja memerah susu sapi ataupun hanya mengajak jalan-jalan kuda hitam di peternakan itu. Pemilik peternakan itu orang yang baik. tambun dan berkepala botak yang sering ia tutupi dengan topi koboy warna coklat, yang sesungguhnya tidak cocok dengan penampilannya.

Tiba-tiba lamunan lelaki itu buyar oleh suara deruan mobil dari seberang jalan.

“Kenapa bisa pulang selarut ini?” Tanya gadis berambut coklat keemasan yang segera mengeluarkan payung dari bawah dasbornya

“Ada sedikit pekerjaan di kantor walikota” Lelaki itu menyambut payung merah bata dan menuju mobil tanpa berkata apa-apa lagi.

Hujan semakin deras, dan seperti yang diperkirakan, angin kencang sedikit mengamuk di kota kecil itu. Tak ada kepanikan sedikitpun, mungkin karena sudah terbiasa. Lelaki itu menyeruput coklat panas yang diberikan kepadanya secara perlahan. Seperti ingin menikmati setiap gumpalan coklat yang masih tertinggal dan menyerap rasa manisnya dalam-dalam.

“Besok kita akan menikah, Darres. Tak bahagiakah kau?”

Lelaki yang dipanggil Darres itu membuka matanya, lalu memandang lekat gadis yang berada di sampingya.

“Bukan seperti itu, aku hanya sedikit lelah.”

“Bukan karena ada wanita lain kan?”

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

Gadis itu beranjak dan menyerahkan handphone clamsilver milik Darres yang sudah terisi baterai. “Ada email dari seorang gadis.”

Tak tersirat sedikitpun rasa kaget atau takut dari wajah Darres, ia malah terkekeh pelan. “Dia hanya gadis ingusan. Bukan tipeku, Laurine.”

“Kita sudah hampir menikah, awas jika kau menikung lagi. Takkan kumaafkan!”

“Oke oke aku berjanji. Toh dia hanya sambilan ketika kau sedang menjengkelkan.”

“Memangnya aku pernah menjengkelkan?” Gadis itu bersedekap sambil pura-pura cemberut

“Tidak sadar ya?”

Darres meletakkan cangkir coklat panasnya di atas perapian dan menggendong pelan gadis berambut coklat keemasan tersebut. Di luar hujan sudah mulai mereda, hanya tersisa hembusan angin kecil yang menenangkan di Friesland.



Hai, ini aku Irana. Aku mencuri waktu mengirim pesan padamu. Hehe. Disana sudah malam pasti. Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam.

Good night, dear. I love and still love you.

I’ll be waiting you come to take and marry me J



oOo

Irana tersenyum setelah mengirim email ke ‘kekasih’nya di negeri nan jauh di sana. Diam-diam ia menyelinap keluar dari kamar setelah mematikan laptop dan meletakkannya di tempat semula.

“Udah sholat shubuh, ndok?”

Irana terperanjat kaget dan menggeleng cepat.

“Yaudah, sholat dulu sana. Oya hape kamu di kamar tuh.”

Irana tersenyum puas dalam hati. Sudah terbayang, ia akan bisa bermesraan lagi dengan Darres. Saling telfon tiap malam, dan saling mengucapkan kata sayang sebelum tidur. Irana berjingkrak riang dalam hati.

“Iya, bu.” Irana mengangguk pelan dan segera mengambil wudhu

“Ndok?”

Irana berhenti dan mendapati ibunya tersenyum pelan, “Jangan terlalu percaya sama lelaki. Apalagi yang belum pernah ketemu kamu. Kamu belum tau gimana rasanya disakiti, toh?”

Irana mengangguk dan tersenyum pelan.

Dia berbeda bu. Dia tidak seperti ayah atau lelaki lain yang pernah mengkhianati ibu. Darres pria baik yang suatu saat akan meminangku.

Irana berkata dalam hati, dan segera menunaikan sholat shubuh. Di luar, hujan kembali mendera dengan rinainya yang meledek riang.

###

Happy Reading Wink
narsis
Kembali Ke Atas Go down
sagitany
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 4863
Points : 4905
Reputation : 8
Join date : 06.04.12
Age : 26
Lokasi : medan

PostSubyek: Re: (Cerpen) Kisah di Balik Hujan   Tue 19 Feb 2013 - 22:51

mark it as to read (again!)
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: (Cerpen) Kisah di Balik Hujan   Sat 2 Mar 2013 - 10:48

cuplikan yang mengigit....
Nangis

Kasihan Irana....

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: (Cerpen) Kisah di Balik Hujan   

Kembali Ke Atas Go down
 
(Cerpen) Kisah di Balik Hujan
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» kisah kapal MARY CALESTE..
» wta solusi biar air ga nyampai atas waktu hujan
» NEW Product ---- SPIDI (Jacket, Gloves, Protector, Jas Hujan) & XPD BOOTS
» Jual: Sarung untuk Motor dan Jas Hujan untuk Sepatu

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: