SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 aku cinta istrimu

Go down 
PengirimMessage
ivanlofty
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 11
Points : 15
Reputation : 0
Join date : 15.04.13
Age : 30
Lokasi : surabaya

PostSubyek: aku cinta istrimu   Sat 27 Apr 2013 - 2:09

Sedan hitam aku parkirkan didalam sebuah bangunan gedung. Setara dengan semua mobil yang ada di kanan kiri si hitamku. Lalu turun dan berjalan sambil menggandeng dan menggenggam sebuah tangan. Tangan yang lembut berkulit putih dan bersih. Seorang petugas keamanan berseragam menyapa kami dengan ramah ketika kami akan memasuki sebuah lobi.

“Selamat siang pak.” Sapa petugas itu disertai sebuah senyuman dan kubalas dengan melemparkan segaris senyuman.

“Seperti biasa mbak.” Ucapku kepada seorang gadis cantik berseragam hitam dan ditanggapi dengan senyuman ramah.

Usai mendapat sebuah kartu kami berdua kembali berjalan menyusuri lobi dari sebuah gedung di bilangan kemang.

“Ting.” Pintu lift terbuka dan kami segera melangkahkan sepasang kaki guna memasukinya.

Di dalam lift kaca yang begitu terjaga kebersihannya tempat kami berada kami berdua saling memandang. Pandangan mata disertai senyuman ramah sedikit menggoda. Sebelum nantinya lift terbuka maka segera saja kucium sebuah tangan yang sedari tadi tiada bosannya kugenggam sambil tetap tak melepaskan pandangan mata seribu makna kata cinta.

“Aku cinta padamu dan betapa sudah lama kumerindu kehadiranmu duhai kasihku.” Kataku pada wanita cantik yang ada disamping kiriku usai mencium tangan wanita yang bernama bunbun.

“Sama ayah, aku juga cinta dan sangat merindumu.” Balasnya bersamaan dengan pintu lift yang kembali terbuka.

Tangan kami tak berubah dan tetap saling menggenggam seiring dengan sepasang kaki kami yang mulai melangkah lagi. Berjalan menyusuri lorong dari lantai yang beralaskan karpet merah tua. Nyaris tanpa suara pintu pun terbuka.

Baru saja pintu kamar aku tutup kami langsung berpelukan dan berciuman mesra. Bertubi tubi kuhujani bibir merah tipisnya dengan ciuman dan mendapatkan balasan yang tak kalah hebat dan kuat. Ciuman yang tadinya hanya di bibir saja lama kelamaan mulai berlanjut merambat di leher dan telinganya. Hingga terjadilah ciuman panas di sebuah kamar hotel berbintang empat.

Melepas rindu memadu kasih seolah kami berdua memang sepasang suami istri. Dinginnya ac kamar hotel yang berada dikawasan Jakarta selatan ditambah dengan derasnya hujan di siang hari membuat pergulatan kami menjadi semakin memanas. Mulut kami saling beradu dan terus menyerang satu sama lain sampai pakaian berwarna putih yang dikenakan oleh bunbun mulai aku lepas sehingga kulit putih nan mulus yang tadinya terhalang oleh sepotong kain kini terlihat jelas menjadikan nafsuku semakin meninggi.

Tak mau kalah dengan aku yang mulai melucuti pakaiannya ia pun segera membuka satu persatu kancing kemejaku tanpa mengehentikan pergulatan mulut kami sampai akhirnya kami berdua melakukan hal yang sebesarnya tidak diperbolehkan agama beberapa kali. Puas melepas rindu yang teramat sangat kami yang ada di balik bed cover coklat saling memandang satu sama lain dan perbincangan ringan pun tak terelakkan

“Aku rindu kamu ayah” ucap bunbun sambil mengusap pipi kananku.

“Ayah juga sangat merindukan bunda dan berharap waktu ini takkan pernah berlalu” balasku membalas ucapan rindu bunbun kepadaku.

“Kabar bocil gimana? Sehat-sehat aja kan?” sambungku lagi yang menanyakan kabar putra semata wayangnya buah pernikahan dengan Anton salah satu kepala bagian yang bekerja di perusahaan jepang.

“Puji syukur kabar bocil baik dan seperti biasanya jika kita lagi bertemu dia aku titipkan pada sepupuku, kalau aku ajak takutnya nanti malah ngadu ke satpam kalau tahu kita seperti ini” balasnya menjawab pertanyaanku yang aku anggukkan saja.

Mendengar ucapannya aku jadi berpikir sampai kapan perselingkuhan ini terus berjalan dan dosa besar ini terus kami perbuat. Meskipun rumah tangga yang terjalin antara bunbun dan Anton sudah tak ada lagi keharmonisan dan berada diujung tanduk, aku menyadari tak mudah baginya untuk meninggalkan Anton begitu saja karena pernikahan yang terjadi bukanlah hanya menyatukan dua orang saja melainkan dua keluarga besar.

Keempat roda mobilku berhenti tepat didepan rumah Anton dan bocil yang duduk dibagian belakang mobil langsung turun disusul sang ibundanya. Namun baru membuka pintu tangannya langsung aku tarik dan kupinta menutup pintu sejenak sebab aku masih ingin bersamanya beberapa saat lagi sebelum berpisah kembali.

“Aku teramat sayang kamu bun, kapan aku boleh menemui Anton untuk memintamu langsung kepadanya. Aku tak mau lihat kamu hidup didalam rumah tangga bersama dia yang tanpa warna.” Kataku mengungkapkan apa yang ada didalam isi hati.

“Sabar ya ayah, aku akan cari waktu yang tepat untuk mengenalkan ayah sama Anton.” Ucapnya yang dilanjutkan dengan memberiku sebuah ciuman mersa beberapa detik berusaha menenangkan aku lalu keluar pergi meninggalkanku seorang diri di mobil.

Baru akan menginjak gas tiba-tiba mataku tersorot oleh lampu dari sebuah sepeda motor pabrikan jepang menyilaukan mataku . Sepeda motor tersebut kemudian masuk begitu saja ke dalam garasi rumah yang baru saja dimasuki bocil dan bunbun.

“Ohh mungkin itu yang namanya Anton satpamnya bunbun, rupanya dia baru pulang kerja.” kataku dalam hati saja sesaat setelah melihat motor yang sempat menyilaukan sepasang indra penglihatanku. Takut membuatnya curiga aku langsung mengijak pedal mobilku.

Waktu terus berputar hari pun terus berganti dan seperti hari yang telah berlalu aku dan bun bun tetap menjalin komunikasi yang baik. Entah dengan pesan singkat, telepon maupun chat facebook. Saling bertanya dan memberikan kabar satu sama lain. Menjaga komunikasi untuk tetap menjalin kehangatan suatu hubungan percintaan yang kami jalin. Bermesraan dengan segala macam kata rindu dan sayang tak lupa menyelipkan sebuah ciuman berupa kata-kata.

Sering aku berpikir, apakah aku dosa dengan menjadi orang ketiga didalam rumah tangga yang memang sudah hancur dan tak ada kata harmonis lagi. Dapat di ibaratkan menunggu pohon yang akan segera tumbang. Kami berdua memang telah banyak berbuat kesalahan. Kesalahan melakukan sebuah penghianatan dalam rumah tangga yang sudah terbina selama sekitar enam tahun. Namun sungguh tak adil jika kesalahan yang ada semua ditumpukan pada bunbun.

Wanita tak mungkin akan meninggalkan seorang lelaki yang benar-benar mencintainya dan membuatnya merasa sangat nyaman. Kecuali lelaki itu adalah lelaki yang sangat bodoh tak mampu menjaga maupun merawat istrinya dengan baik serta selalu memperlakukan istri dengan buruk. Bagaimana tak buruk, sebab suami bodoh seolah menganggap istrinya hanya sebagai seorang assisten pribadi rumah tangga saja. Istri yang merangkap juga menjadi seorang baby sister plus plus yang merawat darah dagingnya dan mendekati sang istri jika sedang berhasrat saja. Ya mungkin itulah gambaran sosok Anton yang dingin seperti yang sudah banyak dan begitu sering diceritakan oleh bunbun.

Tengah malam ponsel antik jaman bahula Ericson sirip hiu milikku bergetar dan berbunyi keras hingga membangunkanku yang sudah ada dialam kematian sementara. Dengan nyawa yang belum genap terkumpul dan mata masih belum terbuka penuh kuangkat ponsel yang sedari tadi sudah berdering. Sesaat tak ada suara akan tetapi betapa terkejutnya aku sewaktu mendengar suara isak tangis dari suara istri orang yang aku cinta.

“Bun! Bunbun kenapa bun?! Bun jangan diem aja dong. Kamu kenapa sayang?! Ngomong bunn.” ucapku yang langsung loncat dari tempat tidur.

“Kamu siapa?!! Ada hubungan apa dengan istri saya?!!” suara dari seorang pria itu mendadak terdengar dan mengejutkan aku. Dan dari suara dan pertanyaan yang tertuju padaku membuat aku tertuju pada satu nama. Dan nama itu adalah Anton.

“Rupanya skandal ini akhirnya tercium juga, tapi tak apa karena ada bagusnya agar dosa besar tak lagi kuperbuat” suara hatiku itu merambat ke otakku.

Tanpa banyak bicara dan tak menutup telponnya aku segera berlari keluar rumah. Seribu kaki menuju ke mobilku yang terlelap dalam sepinya malam. Masih memakai baju tidur aku langsung memacu mobil dengan kecepatan penuh menuju rumah Anton. Dua puluh menit berlalu dan akhirnya tiba juga aku didepan sebuah rumah dari suara pria yang baru saja menelponku. Baru saja turun dari mobil, aku disambut oleh suara isak tangis pemecah sunyinya malam. Tangis itu disertai pula dengan sesekali jeritan meminta ampun dari wanita yang aku cinta. Mendengar suaranya adrenalinku langsung melesat tinggi. Langsung berlari untuk memasuki rumah yang sudah berada di kedua bola mataku.

Kubuka pagar rumah dan selanjutnya segera kuketuk keras pintu depan dari rumah tipe tiga puluh enam sambil terus memanggil nama wanita yang sedang menangis didalam rumah.

Setelah beberapa kali mengentuk, pintu pun terbuka lebar dengan sesosok pria berkulit bersih dan berpostur lebih kecil dari aku dibalik pintu yang baru terbuka.

“Siapa Anda? Malam-malam bertamu tidak sopan.” Tanyanya dengan suara angkuh dan penuh kesombongan serta emosi yang menggebu tersirat dari nafasnya.

“Saya orang yang baru anda telpon.” Jawabku sambil menunjukkan sebuah ponsel jadulku.

Baru saja menutup mulut mendadak bogeman mentah diarahkan kepadaku. Beruntung aku mampu menangkis bogeman itu sekaligus membuat suami bunbun terjatuh dilantai teras.

“Maaf saya kesini bukan untuk adu kekuatan melainkan saya kemari untuk meminta istri anda dan sekali lagi saya mohon maaf telah menghancurkan rumah tangga anda yang sudah hancur. Saya mohon anda lebih baik menceraikan istri anda jika anda tak sanggup tuk membahagiakan dan membuatnya nyaman serta dihargai sebagai seorang istri. Aku cinta istrimu dan aku mau menikahi dia karena aku yakin dapat membahagiakannya, bahkan jauh membahagiakannya dibanding anda.” Kataku panjang lebar.

Selanjutnya aku meminta bun bun untuk mengemasi pakaiannya dan bocil sebagian lalu membawanya pergi dari rumah neraka.

“Tak sepatutnya seorang pria memukul wanita terlebih wanita itu teman hidup anda. Saya berikan pilihan kepada anda untuk menceraikan wanita ini atau kekerasan ini akan kami bawa ke pihak yang berwajib.” Ujarku sebelum pergi meninggalkan pria yang masih melantai enggan bangun dengan membawa bocil beserta bun bun yang sedang menangis ketakutan atas tindakan pria tersebut.
Kembali Ke Atas Go down
http://ivanlofty.blog.com/
 
aku cinta istrimu
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Arti Cinta
» 20 Alasan Kita Cinta Indonesia
» [True Story] Merasakan Cinta Tak Harus Memiliki
» WTS BUKU UNTAIAN HIKMAH UNTUKKU,BERDAKWAH DENGAN HATI DAN CD SHALAT CINTA USTAD JEFRI AL BUCHORI (UJE) BEST SELLER GRAB IT FAST
» Rumus Edan Kocak Ala NDI [REKAN]

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: